Sutaragi Kerajaan Hulu Aik, Ucit, yang memimpin ritual Maruba menjelaskan, Maruba ini adalah upacara adat membersihkan pusaka Kerajaan Hulu Aik. Maruba Kerajaan Hulu Aik ini diadakan setiap tahun pada tanggal 25 Juni.
Raja Hulu Aik ke-51, Petrus Singa Bansa, menambahkan, Maruba adalah salah satu tradisi Kerajaan Hulu Aik. Maruba ini diadakan untuk mengetahui beberapa hal. Di antaranya untuk mengetahui keadaan alam, musim hujan atau musim kemarau. "Maruba juga adalah bagian dari adat-istiadat Dayak," katanya, kemarin (26/6).
Raja Hulu Aik menjelaskan, Kerajaan Hulu Aik memiliki lima rutinitas adat. Pertama, Bacampui Roba, upacara adat membakar ladang. Kedua, Bacampui Makan Bayam-Sawi yakni, upacara adat makan sayur-sayuran. Ketiga, Bacampui Puyak Kanukng Padi yakni, upacara adat padi bunting. Keempat, Bacampui Maharu Padi Baru, upacara adat makan beras baru. Kelima, Maruba, membersihkan pusaka Kerajaan Hulu Aik.
"Pada Maruba tahun ini, kita bisa melihat bagaimana situasi dan kondisi tahun ini. Keadaan tahun ini, separuh hujan, separuh panas. Situasi pun boleh dikatakan aman," ujarnya.
Pada acara Maruba tahun ini, dilontarkan juga wacana untuk membangun Istana Raja Hulu Aik. Wacana ini disampaikan oleh Patih Jaga Banua, Raden Cendaga Pintu Bumi Alexander Wilyo selaku Patih Jaga Banua, saat memberi sambutan, mewakili Raja Singa Bansa.
Wacana untuk membangun Istana Raja Hulu Aik ini mendapat sambutan dari Ketua DAD Ketapang, Heronimus Tanam. Dalam sambutannya, Tanam mengatakan bahwa DAD berkomitmen untuk mendukung rencana pembangunan Istana Raja Hulu Aik, dengan syarat lokasi yang memadai tersedia.
Dia pun berharap agar struktur kelembagaan Raja Hulu Aik pun harus ditata kembali. "DAD dalam beberapa tahun belakangan ini masih fokus pembangunan rumah adat. Ini merupakan salah satu program DAD Ketapang. Ke depan, saya berharap tidak hanya pembangunan istananya, tetapi juga pembenahan struktur kelembagaan Raja Hulu Aik itu sendiri," ungkap Tanam.
Sambutan positif juga datang dari Penjabat Sekda Ketapang, Suherman. Dia mengatakan soal Kerajaan Dayak, faktanya ada Kerajaan Hulu. Digambarkan dia, ada Raja Senggaok, tapi situs dan penerusnya sudah tidak ada. "Kerajaan Hulu Aik harus kita pertahankan dan kita lestarikan," ujar Suherman.
"Terkait dengan tanggung jawab Pemda, Kegiatan Raja Hulu Aik dan insfrasrtuktir menjadi tanggung jawab Pemda. Pemkab Ketapang pun tetap berkomitmen untuk merealisasikan pembangunan insfrasrruktur," tambah Suherman.
Pada Maruba tahun ini, Raja Hulu Aik ke-51 melantik dan mengukuhkan Patih Jaga Banua Alexander Wilyo sebagai Patih Jaga Pati Desa Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik. Pelantikan ini dilakukan dengan ritual adat Kisar Pesalin, yang dipimpin oleh Florianus Sudirnus (54), Demong Mantir Laman Sengkuang. (afi) Editor : admin2