SANDAI – Ribuan warga Sandai menggelar aksi solidaritas untuk almarhum Yesa. Aksi yang bertajuk Justice for Yesa ini digelar di Lapangan Bolavoli Paroki Santo Gabriel, Sandai, Senin (27/11) malam.
Aksi ini sebagai bentuk seruan agar kematian Yesa yang diduga akibat dianiaya orang tua angkatnya diusut tuntas.
Aksi yang digagas oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Sandai bersama dengan Yayasan Sandai Peduli tersebut mendapat antusiasme luar biasa dari masyarakat. Lebih dari 1.000 warga hadir dalam aksi tersebut.
Ketua Yayasan Sandai Peduli, Uti Fahrul Hakim, mengatakan, aksi solidaritas ini dibuka secara umum untuk semua masyarakat yang tergerak hati nuraninya untuk keadilan Yesa.
Selain menyalakan 1.000 lilin, aksi tersebut dirangkai dengan doa bersama, pembacaan puisi, penggalangan dana, serta penandatangan petisi.
"Kasus dugaan penganiayaan ini harus diusut sampai tuntas," katanya, Selasa (28/11).
Pihaknya mengapresiasi masyarakat yang hadir berbondong-bondong dalam aksi solidaritas tersebut tanpa melihat latar belakang dan jabatan.
"Lebih dari 1.000 orang hadir. Itu semua tanpa paksaan. Mereka datang karena hati nurani, tanpa melihat suku, agama, kelompok, dan kepentingan apapun," jelasnya.
Uti melanjutkan, hadirnya ribuan warga sebagai bentuk dukungan agar kasus ini dapat selesai, tanpa adanya intimidasi apapun oleh pihak manapun.
"Ini sebagai bentuk solidaritas kami dari masyarakat Sandai. Kami yakin aparat penegak hukum bisa mengungkap kasus ini secara terang benderang," ungkapnya.
Perwakilan Dewan Adat Dayak, Kecamatan Sandai, Fransisko, berharap dengan aksi ini tidak adalagi Yesa kedua, ketiga, dan seterusnya.
"Kami sangat mengecam kejadian yang menimpa korban. Banyak saksi-saksi yang bersedia apabila diperlukan untuk dimintai keterangan," ujarnya.
Dia mengungkapkan, dengan adanya kasus ini dia mengajak masyarakat untuk membuka mata, agar jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali.
"Jangan sampai ada Yesa berikutnya. Baik anak angkat maupun anak kandung, mari kita didik dan bimbing anak kita dengan pendidikan yang sebenarnya, tanpa mengganggu mental anak, tanpa harus meluapkan amarah dan emosi kepada anak. Kami masyarakat Sandai akan terus bersama Yesa sampai kasus ini tuntas," pungkas Fransisko. (afi)
Editor : A'an