PONTIANAK POST – Sebanyak 11.037 unit rumah dilaporkan terdampak banjir di Kabupaten Ketapang. Dari jumlah tersebut, 5.544 unit rumah terendam, dan hingga kini masih dalam kondisi tergenang. Banjir terjadi akibat tingginya curah hujan yang menyebabkan Sungai Pawan meluap pada 19–20 Juni 2025.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat menyebutkan, total warga terdampak mencapai 6.311 kepala keluarga (KK) atau 18.054 jiwa. Banjir melanda 19 desa di empat kecamatan, yaitu Nanga Tayap, Sandai, Hulu Sungai, dan Pemahan.
“Di Kecamatan Nanga Tayap, desa-desa terdampak meliputi Betenung, Kayung Tuhe, Nanga Tayap, Pangkalan Telok, dan Tanjung Medan,” ungkap Ketua Satgas Bencana BPBD Kalbar, Daniel, Senin (23/6).
Di Kecamatan Sandai, lanjut dia, banjir menerjang Desa Alam Pakuan, Demit, Istana, Merimbang Jaya, Muara Jekak, Pendamaran Indah, Penjawaan, Petai Patah, Randau, Randau Jungkal, Sandai, dan Sandai Kiri.
Sementara di Kecamatan Hulu Sungai, wilayah terdampak meliputi Desa Benua Krio, Kenyabur, Krio Hulu, Menyumbung, Senduruhan, dan Sungai Bengaras.
“Untuk Kecamatan Pemahan, banjir terjadi di Desa Muara Gerunggang, Muara Semayok, dan Pebihingin,” tambahnya.
Daniel menyampaikan bahwa sejauh ini baru Kabupaten Ketapang yang telah melaporkan kejadian banjir secara resmi. “BPBD Ketapang sudah melakukan upaya penanggulangan bekerja sama dengan instansi terkait. Kami imbau masyarakat tetap waspada karena potensi hujan masih ada di beberapa hari ke depan di seluruh wilayah Kalbar,” ujarnya.
Di luar Ketapang, menurut Daniel, satu-satunya daerah yang sudah menetapkan status siaga darurat bencana banjir, puting beliung, dan tanah longsor adalah Kabupaten Bengkayang. “Status tersebut tertuang dalam Keputusan Nomor 63/BPBD/Tahun 2025 dan berlaku sepanjang Januari–Juni 2025,” pungkasnya.
Sementara itu, prakiraan cuaca dari BMKG Stasiun Klimatologi Kalbar menyebutkan bahwa curah hujan di sebagian besar wilayah Kalbar pada dasarian III Juni 2025 (21–30 Juni) diprediksi berada dalam kategori rendah hingga menengah, berkisar antara 20–75 mm/dasarian. Namun, sebagian wilayah seperti Ketapang, Landak, dan Melawi masih berpotensi menerima curah hujan di atas 50 mm/dasarian.
BMKG juga mengingatkan potensi munculnya titik panas (hotspot) di beberapa kabupaten/kota seperti Bengkayang, Kapuas Hulu, Kayong Utara, Landak, Sambas, dan Singkawang seiring masuknya musim kemarau. Kondisi ini perlu diantisipasi karena bisa berdampak pada ketersediaan air dan potensi kebakaran hutan dan lahan.
Indeks ENSO dan IOD saat ini berada dalam kondisi netral, diperkirakan berlanjut hingga semester kedua 2025. Suhu muka laut di sekitar perairan Kalbar juga berada dalam kondisi netral hingga lebih hangat dari normal.
BMKG mengimbau pihak terkait menggunakan informasi prospek iklim ini sebagai dasar perencanaan operasional, dan terus memperbarui informasi melalui kanal resmi BMKG.(bar)
Editor : Hanif