Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bayi Orangutan Jani Ditemukan Terpisah dari Induk di Kebun Sawit Ketapang

Hanif PP • Jumat, 23 Januari 2026 | 10:18 WIB
JANI: Bayi orangutan betina bernama Jani saat diselamatkan dari kebun sawit di Ketapang. Ia ditemukan sendirian, tanpa induk.
JANI: Bayi orangutan betina bernama Jani saat diselamatkan dari kebun sawit di Ketapang. Ia ditemukan sendirian, tanpa induk.

PONTIANAK POST - Di tengah hamparan kebun sawit yang sunyi, seekor bayi orangutan betina terlihat duduk diam, nyaris tak bergerak. Matanya kosong, tubuhnya lemah, seolah menanti sesuatu yang tak pernah datang: induknya. Bayi orangutan itu kemudian diberi nama Jani.

Jani ditemukan tanpa induk di kebun sawit milik warga Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. Selama beberapa hari, warga melihat Jani sendirian di antara pohon-pohon sawit—lingkungan yang sama sekali tak menyediakan makanan maupun perlindungan bagi satwa seusianya.

Kondisi memilukan itu segera dilaporkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi KSDA Wilayah Ketapang. Bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), tim gabungan turun ke lokasi untuk melakukan verifikasi. Hasilnya memastikan kekhawatiran warga: Jani benar-benar sendirian, tanpa jejak keberadaan induknya.

Di kebun sawit itu, Jani tampak kebingungan. Geraknya terbatas, lebih banyak diam, seolah menunggu induknya kembali menjemput. Tim sempat menyisir area sekitar untuk mencari sang induk, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Demi menghindari konflik dengan warga sekaligus melindungi keselamatan satwa, tim verifikasi memilih berjaga dan bermalam di lokasi sambil menunggu kedatangan tim penyelamat.

Ketika tim penyelamat tiba, observasi dilakukan dengan sangat hati-hati. Mengingat usia Jani yang masih sangat muda, penyelamatan diputuskan dilakukan tanpa menggunakan senjata atau sumpit bius. Penanganan langsung oleh dokter hewan dan animal keeper berpengalaman dinilai sebagai opsi paling aman.

“Secara fisik, Jani masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru berisiko,” ujar dokter hewan YIARI, drh. Komara. “Penanganan manual menjadi pilihan paling aman, dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa.”

Proses penyelamatan berlangsung lancar. Jani kemudian dimasukkan ke dalam kandang transport dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI. Pemeriksaan awal memperkirakan usia Jani sekitar lima tahun—usia di mana seekor anak orangutan seharusnya masih sepenuhnya berada dalam dekapan induknya.

“Di alam liar, anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga usia enam sampai delapan tahun, baik untuk perlindungan, asupan nutrisi, maupun pembelajaran bertahan hidup,” jelas drh. Komara. “Terpisah dari induknya pada usia ini sangat berisiko dan dapat mengancam keselamatan individunya.”

Saat ini, Jani ditempatkan di ruang karantina YIARI untuk menjalani pemeriksaan medis lanjutan dan pemulihan kondisi stres. Di balik jeruji kandang karantina, Jani memulai babak baru hidupnya—tanpa induk, namun dengan harapan masih ada masa depan.

Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menegaskan bahwa kasus ini kembali memperlihatkan tekanan berat terhadap satwa liar dan habitatnya. “Kasus ini mencerminkan tekanan yang terus meningkat akibat lanskap yang terfragmentasi,” ujarnya. Ia mengapresiasi respons cepat masyarakat, BKSDA, dan seluruh mitra lapangan.

Menurut Silverius, YIARI bersama BKSDA Kalimantan Barat akan terus memantau kondisi Jani dan melakukan evaluasi lanjutan untuk menelusuri penyebab terpisahnya Jani dari induknya. Tim juga diterjunkan ke sekitar perkebunan untuk mencari kemungkinan keberadaan induk. “Jika induknya ditemukan, akan diupayakan proses pengembalian ke lokasi yang lebih aman. Namun jika tidak, Jani akan menjalani rehabilitasi hingga siap dilepasliarkan,” katanya.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, turut menyampaikan keprihatinan sekaligus apresiasi. “Di usia lima tahun, Jani seharusnya masih bersama induknya.

Namun setelah beberapa hari pemantauan hingga penyelamatan, Jani terlihat sendiri. Kondisi ini merupakan dampak dari tingginya tekanan terhadap habitat orangutan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya edukasi dan penyadartahuan kepada seluruh pihak agar perlindungan terhadap orangutan dan habitatnya dapat dilakukan secara bersama-sama.

“Ini bukan hanya soal satu individu, tetapi tentang masa depan keanekaragaman hayati kita,” katanya. (ars)

Editor : Hanif
#kebun sawit #YIARI #tim penyelamat #bksda #pemulihan #ketapang #bayi orangutan