PONTIANAK POST – Insiden tragis terjadi di perairan Sungai Pawan, Kabupaten Ketapang.
Enam Anak Buah Kapal (ABK) KM Lautan Anugerah menjadi korban setelah mengalami kecelakaan di wilayah Sukabangun Dalam, Kecamatan Delta Pawan pada Sabtu (2/5).
Satu orang dinyatakan meninggal dunia, sementara lima lainnya mengalami luka bakar dan harus menjalani perawatan intensif.
Peristiwa tersebut langsung direspons cepat oleh Satuan Polisi Air dan Udara (Sat Pol Airud) Polres Ketapang bersama tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, dan TNI AL.
Proses evakuasi dilakukan di lokasi kejadian hingga seluruh korban berhasil ditemukan pada Minggu (3/5).
Dari enam korban, lima orang berinisial I, ZC, AA, R, dan Z selamat, namun mengalami luka bakar serius.
Saat ini, mereka dirawat di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang.
Sementara satu korban lainnya berinisial A tidak dapat diselamatkan.
Kasat Pol Airud Polres Ketapang, AKP Maryono, mewakili Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris, mengatakan tim bergerak cepat begitu menerima laporan kejadian.
Menurutnya, sinergi antarinstansi menjadi kunci dalam
penanganan insiden tersebut.
“Kami bersama tim gabungan bergerak cepat melakukan evakuasi terhadap para korban. Ini bentuk kesiapsiagaan kami dalam merespons kejadian darurat di wilayah perairan,” ujarnya.
Hingga kini, penyebab pasti insiden masih dalam penyelidikan.
Namun, kejadian ini kembali menjadi pengingat akan tingginya risiko aktivitas di perairan, terutama bagi nelayan dan awak kapal.
Maryono juga mengimbau masyarakat untuk lebih mengutamakan
keselamatan saat beraktivitas di laut maupun sungai.
Ia menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri serta memastikan kondisi kapal dalam keadaan layak sebelum berlayar.
“Keselamatan harus menjadi prioritas. Jika terjadi kondisi darurat, segera laporkan agar bisa ditangani dengan cepat,” tegasnya.
Peristiwa ini meninggalkan duka sekaligusmenjadi peringatan keras bahwa kelalaian sekecil apa pun di perairan dapat berujung fatal.
Upaya peningkatan kewaspadaan dan standar keselamatan menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa terulang. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro