PONTIANAK POST – Karhutla Ketapang kembali memakan korban jiwa. Seorang pemuda, Taufik Hidayat (26), meninggal dunia setelah terjebak kobaran api dan asap pekat saat melintasi Jalan Pelang–Kepuluk, Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Selasa (4/8) malam. Dalam peristiwa yang sama, empat warga berhasil diselamatkan, sementara seorang lansia yang sempat dinyatakan hilang akhirnya ditemukan hidup setelah menjalani pencarian semalaman.
Tragedi itu menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menghanguskan kawasan hutan, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi kebakaran.
Tragedi di Desa Pelang terjadi di tengah meningkatnya ancaman karhutla di Kalimantan Barat. Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan hingga 25 Juli 2026 luas kebakaran hutan dan lahan di provinsi ini telah mencapai 28.680,47 hektare, tertinggi di Indonesia. Kondisi tersebut membuat Kalbar menjadi salah satu wilayah dengan risiko kebakaran paling tinggi selama musim kemarau tahun ini.
Terjebak Asap di Jalan yang Berubah Menjadi Perangkap
Kebakaran yang telah berlangsung beberapa hari meluas hingga mendekati ruas Jalan Pelang–Kepuluk di kilometer 5 hingga kilometer 7. Sekitar 20 hektare lahan dilaporkan hangus terbakar akibat api yang cepat menjalar di kawasan gambut yang mengering selama musim kemarau.
Saat malam tiba, asap pekat menutup badan jalan hingga jarak pandang nyaris nol. Sejumlah kendaraan memilih berhenti menunggu kondisi membaik.
Namun, diduga lima pengendara sepeda motor tetap melanjutkan perjalanan menembus kepulan asap. Tidak lama kemudian mereka dilaporkan hilang sehingga memicu operasi pencarian oleh tim gabungan.
Pemuda Ditemukan Meninggal, Empat Korban Selamat
Tim gabungan dari BPBD Ketapang, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan masyarakat menyisir kawasan kebakaran sepanjang malam. Petugas bahkan memeriksa parit-parit di sisi jalan karena menduga para korban berusaha menyelamatkan diri dari panas dan kobaran api.
Empat korban akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat. Sebagian berlindung di dalam parit untuk menghindari asap dan suhu panas sebelum dievakuasi ke rumah sakit karena mengalami gangguan pernapasan.
Sementara itu, Taufik Hidayat ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Di dekat lokasi penemuan korban, petugas juga menemukan sepeda motor miliknya yang telah hangus terbakar.
Lansia yang Hilang Ditemukan
Di tengah kabar duka tersebut, operasi pencarian juga menghadirkan secercah harapan.
Daryono Hadi (60), warga Desa Sengkaharak, Kecamatan Tumbang Titi, yang sempat dilaporkan hilang akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat pada Rabu (5/8) pukul 06.15 WIB, sekitar 257 meter dari lokasi awal dilaporkan hilang.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak, Made Junetra, mengatakan korban terpisah dari rombongan setelah seluruh pengendara berhenti akibat asap yang menutup jalan.
"Korban langsung dievakuasi ke Puskesmas Sungai Pelang untuk mendapatkan penanganan medis. Dengan ditemukannya korban, operasi SAR resmi ditutup," katanya.
Pemadaman Terkendala Gambut, Angin, dan Jarak Sumber Air
Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris mengatakan lima warga sempat terjebak dalam kebakaran tersebut.
"Empat orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Sementara satu orang meninggal dunia," ujarnya.
Menurut Harris, korban diduga mengalami sesak napas ketika berusaha menyelamatkan diri sebelum akhirnya tersambar api.
Upaya pemadaman hingga kini masih menghadapi berbagai kendala. Tiupan angin membuat api cepat berpindah, sementara bara di lapisan gambut terus menyala di bawah permukaan tanah sehingga sulit dipadamkan.
Kesulitan semakin bertambah karena sumber air berada sekitar 10 kilometer dari lokasi kebakaran. Kondisi itu membuat mobil pemadam harus bolak-balik mengambil pasokan air dari permukiman warga.
Bupati: Jangan Lagi Membuka Lahan dengan Membakar
Bupati Ketapang Alexander Wilyo menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Taufik Hidayat.
"Saya mewakili seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Ketapang mengucapkan turut berduka cita yang sangat mendalam atas kejadian ini. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan," ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
"Karhutla bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat mengancam keselamatan jiwa," pesannya.
Kapolres Ketapang juga memastikan kepolisian akan menyelidiki penyebab kebakaran yang diduga berkaitan dengan pembukaan lahan menggunakan api.
Karhutla Kini Bukan Sekadar Bencana Lingkungan
Tragedi di Desa Pelang menunjukkan bahwa karhutla telah berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan manusia. Dalam hitungan jam, satu keluarga kehilangan anaknya, sementara seorang lansia harus bertahan semalaman di tengah asap pekat sebelum akhirnya ditemukan selamat.
Di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, pemerintah bersama BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan terus melakukan pemadaman serta pendinginan untuk mencegah meluasnya kebakaran dan jatuhnya korban jiwa berikutnya.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro