PONTIANAK POST – Tragedi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang merenggut nyawa seorang pemuda di Desa Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, menjadi peringatan keras bagi Kabupaten Ketapang. Menyikapi peristiwa tersebut, Bupati Ketapang Alexander Wilyo mengajak seluruh masyarakat menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar karena dampaknya tidak lagi hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam keselamatan jiwa.
Karhutla yang terjadi di ruas Jalan Pelang–Kepuluk pada Selasa (4/8) malam itu menewaskan Taufik Hidayat (26). Dalam kejadian yang sama, empat warga berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, sedangkan seorang lansia yang sempat dilaporkan hilang akhirnya ditemukan hidup oleh Tim SAR gabungan setelah pencarian semalaman.
Karhutla Bukan Lagi Sekadar Bencana Lingkungan
Bupati Alexander Wilyo menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Menurutnya, meninggalnya seorang warga dalam peristiwa tersebut menunjukkan bahwa karhutla kini telah menjadi ancaman serius bagi keselamatan masyarakat.
"Saya mewakili seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Ketapang mengucapkan turut berduka cita yang sangat mendalam atas kejadian ini. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan," ujar Alexander, Rabu (5/8).
Ia mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan menghentikan pembukaan lahan menggunakan api.
"Karhutla bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat mengancam keselamatan jiwa," tegasnya.
Lima Warga Terjebak Asap, Satu Meninggal
Peristiwa tragis itu terjadi ketika kebakaran lahan yang telah berlangsung beberapa hari meluas hingga mendekati Jalan Pelang–Kepuluk di kawasan kilometer 5 hingga kilometer 7. Sekitar 20 hektare lahan dilaporkan hangus terbakar.
Saat malam tiba, kobaran api semakin mendekati badan jalan. Asap pekat membuat jarak pandang nyaris nol sehingga banyak kendaraan memilih berhenti.
Namun, diduga lima pengendara sepeda motor tetap mencoba melintasi jalan yang tertutup asap. Tidak lama kemudian mereka dilaporkan hilang sehingga memicu operasi pencarian oleh tim gabungan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan masyarakat.
Empat korban ditemukan selamat. Sebagian berlindung di dalam parit untuk menghindari panas dan asap sebelum dievakuasi ke rumah sakit karena mengalami gangguan pernapasan.
Sementara itu, Taufik Hidayat ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sepeda motor yang digunakannya juga ditemukan hangus terbakar di sekitar lokasi.
Pemadaman Terkendala Gambut dan Minimnya Air
Kapolres Ketapang AKBP Muhammad Harris membenarkan lima warga sempat terjebak di kawasan kebakaran.
"Empat orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat. Sementara satu orang meninggal dunia," ujarnya.
Menurut Harris, korban diduga mengalami sesak napas saat berusaha menyelamatkan diri melewati kepulan asap. Dalam kondisi tidak sadarkan diri, tubuh korban kemudian tersambar api.
Ia menjelaskan, proses pemadaman masih menghadapi berbagai kendala. Tiupan angin membuat api cepat meluas, sementara lapisan gambut yang kering menyebabkan bara terus menyala di bawah permukaan tanah.
Selain itu, armada pemadam harus mengambil pasokan air dari permukiman warga yang berjarak sekitar 10 kilometer dari lokasi kebakaran.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Selain melanggar hukum, tindakan tersebut sangat berbahaya karena dapat memicu kebakaran yang meluas, merusak lingkungan, serta mengancam keselamatan masyarakat. Kami juga akan melakukan penyelidikan guna mengungkap penyebab pasti kebakaran ini," tegas Harris.
Kabar Baik di Tengah Tragedi
Di tengah kabar duka, Tim SAR gabungan berhasil menemukan Daryono Hadi (60), warga Desa Sengkaharak, Kecamatan Tumbang Titi, yang sempat dilaporkan hilang saat melintasi kawasan karhutla.
Korban ditemukan pada Rabu (5/8) pukul 06.15 WIB dalam kondisi lemah, sekitar 257 meter dari titik awal kejadian.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak, Made Junetra, mengatakan korban diduga terpisah dari rombongan setelah seluruh pengendara berhenti akibat asap pekat yang menutup jalan.
"Korban langsung dievakuasi ke Puskesmas Sungai Pelang untuk mendapatkan penanganan medis. Dengan ditemukannya korban, operasi SAR resmi ditutup," katanya.
Made kembali mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri melintasi kawasan yang terdampak karhutla karena asap pekat dapat menghilangkan jarak pandang dan membahayakan keselamatan.
Pemkab Terus Lakukan Penanganan
Pemerintah Kabupaten Ketapang bersama BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan seluruh unsur terkait masih melanjutkan pemadaman serta pendinginan di lokasi kebakaran. Langkah itu dilakukan untuk mencegah api meluas sekaligus menghindari jatuhnya korban jiwa berikutnya.
Tragedi di Desa Pelang menjadi pengingat bahwa karhutla bukan hanya meninggalkan kerusakan hutan dan lahan. Dalam hitungan jam, satu keluarga kehilangan anggota tercinta, sementara warga lain harus berjuang menyelamatkan diri dari kepungan asap dan kobaran api. Pemerintah pun berharap peristiwa serupa tidak kembali terulang dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan menggunakan api.