BMKG Maritim Waspadai Jarak Pandang Pesisir Kalbar, Ketapang Bisa di Bawah 1 Kilometer

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 22:51 WIB
KABUT ASAP: KM Sukadana Raya bersandar di Dermaga Kapuas Indah, Pontianak. Kabut asap karhutla mulai mengganggu jarak pandang pelayaran di Sungai Kapuas. / HARYADI/PONTIANAK POST
KABUT ASAP: KM Sukadana Raya bersandar di Dermaga Kapuas Indah, Pontianak. Kabut asap karhutla mulai mengganggu jarak pandang pelayaran di Sungai Kapuas. / HARYADI/PONTIANAK POST

 

PONTIANAK POST – BMKG Maritim Dwikora mewaspadai penurunan jarak pandang di perairan Kalimantan Barat akibat udara kabur yang dipengaruhi kabut asap karhutla. Dalam prakiraan 26–29 Agustus 2026, jarak pandang di sejumlah wilayah diperkirakan 1–5 kilometer, bahkan kurang dari 1 kilometer di perairan Ketapang.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pelaku pelayaran. Jarak pandang yang terbatas dapat menyulitkan nahkoda mengenali kondisi di depan kapal, terutama ketika pelayaran berlangsung malam hari.

Prakirawan BMKG Maritim Dwikora Arrumi mengatakan udara kabur masih berpotensi terjadi di bantaran Sungai Kapuas dan wilayah perairan pesisir Kalimantan Barat.

“Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di wilayah perairan pesisir Kalimantan Barat. Jarak pandang terendah, yakni kurang dari 1 kilometer, diprakirakan terjadi di wilayah perairan Ketapang,” ujar Arrumi.

Kabut Asap Mulai Dirasakan Nahkoda

Dampak terbatasnya jarak pandang mulai dirasakan nahkoda kapal yang melintasi Sungai Kapuas. Ramli, nahkoda KM Sukadana Raya, mengatakan kondisi tersebut membuat pelayaran membutuhkan konsentrasi lebih tinggi.

Saat ditemui ketika kapalnya bersandar di Dermaga Kapuas Indah, Rabu (26/8), Ramli mengatakan jarak pandang di sepanjang alur Sungai Kapuas mulai terbatas akibat kabut asap.

“Jarak pandang di sungai sudah mulai terbatas, apalagi saat malam kondisinya sangat terbatas sehingga butuh konsentrasi saat berlayar,” katanya.

Menurut Ramli, kondisi tersebut turut memengaruhi kecepatan kapal. Dalam keadaan normal, perjalanan Pontianak–Kayong Utara maupun sebaliknya dapat ditempuh sekitar 18 jam.

Namun, ketika jarak pandang berkurang, kapal harus berjalan lebih lambat. Waktu tempuh pun dapat mencapai 24 jam atau lebih.

“Kalau kapal berjalan lambat, waktu tempuh menjadi lama dan berpengaruh pada kondisi bahan bakar kapal klotok,” ujarnya.

Ketapang Jadi Wilayah yang Perlu Diwaspadai

Selain jarak pandang, BMKG Maritim juga memprakirakan kondisi gelombang dan angin di perairan Kalimantan Barat.

Gelombang laut secara umum diperkirakan berada dalam kategori tenang hingga sedang. Namun, gelombang setinggi 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi pada 26–29 Agustus di perairan Kubu Raya, Kayong Utara, dan Ketapang.

Angin di perairan utara dan selatan Kalimantan Barat diprakirakan bergerak dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 1–25 knot.

Arrumi mengingatkan adanya potensi angin kencang di sejumlah wilayah.

“Perlu diwaspadai potensi angin dengan kecepatan lebih dari atau sama dengan 25 knot yang diprakirakan terjadi pada 26–29 Agustus 2026 di perairan Sambas hingga perairan Ketapang,” jelasnya.

Cuaca Berawan hingga Hujan Ringan

Dalam tiga hari ke depan, kondisi cuaca di perairan Kalimantan Barat diprakirakan bervariasi. Cuaca dapat berupa berawan, udara kabur, hingga hujan ringan.

Potensi hujan ringan diprakirakan terjadi di perairan Sambas pada 26 Agustus.

Sementara itu, udara kabur masih menjadi perhatian di bantaran Sungai Kapuas dan wilayah pesisir. Kondisi tersebut berkaitan dengan dampak karhutla yang masih terjadi di Kalimantan Barat.

Pelayaran Harus Lebih Waspada

Bagi kapal yang melayani rute antardaerah, kondisi jarak pandang menjadi faktor penting dalam menentukan kecepatan dan keselamatan pelayaran.

Ramli mengatakan KM Sukadana Raya mengangkut penumpang dan berbagai jenis barang serta berlayar setiap tiga hari sekali. Ketika memasuki alur Sungai Kapuas, dia masih mengandalkan pengalaman dan penguasaan terhadap alur sungai.

Namun, ketika memasuki kawasan pesisir, GPS menjadi perangkat penting untuk membantu navigasi.

“Kalau sudah melintasi pesisir, perlu menggunakan GPS sebagai pemandu berlayar agar lebih mudah saat kondisi kabut asap,” katanya.

Dengan jarak pandang di sejumlah perairan Kalbar yang berpotensi menurun, terutama Ketapang, pelaku pelayaran diminta memperhitungkan kondisi cuaca sebelum berangkat. Bagi nahkoda, berkurangnya jarak pandang berarti kecepatan harus disesuaikan dan kewaspadaan ditingkatkan.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
kabut asap Kalbar BMKG Maritim Kalbar jarak pandang perairan perairan Ketapang keselamatan pelayaran