46 Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Kalbar, Habitat Aman Jadi Tantangan

Uray Ronald • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 16:07 WIB
Ilustrasi - Petugas menyelamatkan orangutan terdampak karhutla beberapa waktu lalu. (Kemenhut)
Ilustrasi - Petugas menyelamatkan orangutan terdampak karhutla beberapa waktu lalu. (Kemenhut)

 

PONTIANAK POST — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelamatkan 46 individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari habitat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak Agustus hingga 9 Oktober 2026.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan penyelamatan tersebut menjadi bagian dari upaya melindungi satwa dilindungi yang kehilangan habitat akibat kebakaran.

Tantangan berikutnya adalah menyediakan kawasan hutan yang aman dan sesuai bagi kelangsungan hidup orangutan.

"Sejak Agustus hingga 9 Oktober 2026 selama siklus karhutla, setidaknya sudah ada 46 orangutan yang diselamatkan dari habitat yang terbakar. Sementara penyediaan habitat aman menjadi tantangan lanjutan bagi upaya konservasi satwa dilindungi tersebut," kata Murlan, Minggu (11/10).

Baca Juga: Delapan Orang Utan Korban Karhutla di Kalbar Dilepasliarkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu

Dari jumlah tersebut, delapan orangutan yang dinyatakan sehat mulai ditranslokasikan pada 9 Oktober ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang. Pemindahan dilakukan setelah satwa menjalani pemeriksaan kesehatan dan observasi.

"Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas," ujar Murlan.

Orangutan Terisolasi di Perkebunan

Orangutan yang diselamatkan berasal dari sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.

Kebakaran menyebabkan hilangnya tutupan hutan dan terputusnya keterhubungan antarkawasan, sehingga sejumlah satwa terisolasi di perkebunan dengan sumber pakan dan ruang jelajah terbatas.

Salah satu contohnya adalah Mama Lifa dan anaknya, Lifa, yang ditemukan terisolasi di antara pepohonan akasia pada lahan sekitar 400 meter persegi.

Lokasi tersebut dikelilingi perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Kabupaten Ketapang.

Sementara itu, Mama Man dan anaknya, Man, dievakuasi dari Desa Tempurukan, Ketapang, pada 3 September 2026 setelah kebakaran mendekati habitat mereka.

Empat orangutan lainnya, yakni Mama Nopi dan anaknya, Nopi, serta dua orangutan jantan remaja bernama Naufal dan Nopan, diselamatkan dari Desa Pemangkat, Kabupaten Kayong Utara, pada 4 September.

Baca Juga: Karhutla Kalimantan Jadi Sorotan Internasional, Leonardo DiCaprio Buka Suara soal Nasib Orangutan

Hutan Lindung Batu Nyambu Dipilih sebagai Habitat Tujuan

Direktur Operasional YIARI Argitoeranting mengatakan pemilihan lokasi translokasi mempertimbangkan ketersediaan pakan, sumber air, ruang jelajah, dan keterhubungan dengan kawasan hutan lainnya.

Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih berdasarkan kajian kesesuaian habitat dan daya dukung ekologis.

Kawasan seluas sekitar 23.000 hektare itu memiliki tutupan hutan primer dan sekunder serta terhubung dengan sejumlah kawasan hutan lindung dalam lanskap Arabella–Schwaner.

Berdasarkan survei pada 2023, kawasan tersebut merupakan habitat alami orangutan dengan daya dukung ekologis yang dinilai memadai.

"Translokasi bukanlah solusi akhir. Selama kebakaran masih berlangsung dan habitat terus terancam, upaya penyelamatan harus dibarengi dengan perlindungan hutan yang tersisa," kata Argitoeranting.

CEO YIARI Karmele Llano Sánchez menambahkan, sejumlah orangutan terdampak karhutla lainnya masih menjalani perawatan intensif akibat luka bakar, malnutrisi, anemia berat, dan gangguan kesehatan lain.

Satwa-satwa tersebut membutuhkan waktu untuk pulih sebelum dapat dipindahkan ke habitat alami yang aman dan sesuai.

Baca Juga: BKSDA-YIARI Selamatkan Induk dan Bayi Orangutan yang Terjebak di Kebun Sawit Terbakar

Perlindungan Hutan Perlu Dilanjutkan

Kepala KPH Ketapang Utara Ya' Suharnoto berharap translokasi diikuti patroli pengamanan kawasan secara rutin, sosialisasi kepada masyarakat, serta penanaman pohon penghasil bunga dan buah sebagai sumber pakan orangutan.

"Langkah tersebut diperlukan untuk mendukung keberlangsungan hidup orangutan setelah dilepasliarkan dan menjaga habitatnya dari ancaman berikutnya," kata Ya' Suharnoto.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
orangutan Kalimantan Barat Hutan Lindung Batu Nyambu bksda kalbar YIARI karhutla kalbar