ASHRI ISNAINI, Sungai Raya
WAKTU baru menunjukkan pukul 8.30 WIB akhir pekan lalu. Kala itu, Hayat baru saja membersihkan lahan kebun jahenya yang terletak tak jauh dari kediamannya di Desa Kalibandung, Kecamatan Sungai Raya. “Ya, beginilah hari-hari saya. Saat ada waktu luang saya gunakan untuk mengelola lahan kebun jahe ini,” kata Hayat kepada Pontianak Post.
Sebelumnya pada 2017, Hayat bekerja sebagai pengangkut argo di Pasar Flamboyan. Setiap hari dia diupah sebesar Rp5 ribu untuk satu kali angkut beragam jenis sayur yang datang dari Kota Singkawang, Sanggau, serta Rasau Jaya. “Kerjaan saya itu dulunya angkut sayur dari pikap masuk ke dalam pasar. Paling banyak saya mampu mengangkut sekitar 30 – 40 argo dalam sehari. Jadi dikalikan saja upah saya. Sekitar Rp150 ribu – Rp200 ribu perhari,” jelasnya.
Di sela-sela mengangkut sayur, Hayat mendapatkan banyak informasi terkait pengalaman dan usaha yang dilakukan para pemasok sayur yang berupaya keras mengolah lahan seadanya di daerah masing-masing, sehingga mampu menjadi produsen sayur. Bahkan sesekali dia menyempatkan diri turun langsung ke sejumlah tempat penghasil sayur seperti di Kota Singkawang, Sanggau, dan sekitarnya. “Mendengar cerita-cerita dari petani sayur itulah saya kemudian termotivasi dan mulai berpikir mengelola lahan di desa untuk ditanami commodity yang menghasilkan. Jadi saya yakin lahan di desa saya itu jauh lebih luas asal mau saja mengelolanya. Makanya, akhir 2017 saya berhenti kerja di Flamboyan dan memilih untuk mengembangkan budidaya tanaman jahe,” jelasnya.
Di Desa Kalibandung selain jahe, komoditas yang banyak ditanami masyarakat di sana seperti nanas, pinang, jengkol, dan jagung. Hanya saja kata Hayat, jahe memang menjadi komoditas unggulan. Namun karena keterbatasan akses pemasaran, diakui dia, membuat banyak petani jahe setempat awalnya hanya menanam jahe dalam skala kecil atau sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja.
“Awalnya petani jahe di desa itu terkendala dalam proses pemasaran. Nah, karena saya sudah ada jaringan, di sejumlah pasar di Kota Pontianak, Kubu Raya, dan sekitarnya. Saya manfaatkan jaringan saya itu untuk bantu memasarkan hasil panen jahe di desa. Jadi Alhamdulillah, secara tak langsung para petani di desa juga terbantu,” terangnya.
Menurut Hayat, tidak perlu modal besar untuk menanam jahe. Hanya saja, diakui dia, diperlukan ketekunan dalam mengolah lahan yang ada. “Jahe itu paling modalnya di pupuk saja. Selebihnya tingga kita harus tekun untuk merawatnya,” jelasnya.
Adapun masa tanam jahe hingga panen, menurutnya, membutuhkan waktu sekitar 4 – 6 bulan saja. “Kalau untuk dijual di pasar seperti Flamboyan dan sejenisnya, itu 4 bulan tanam jahenya sudah bisa kita panen. Karena dia harus jahe muda. Namun kalau untuk dijual ke pabrik dia masa tanamnya harus sekitar 6 – 7 bulan harus jahe yang agak tua,” jelasnya.
Dengan luasan lahan yang dikelola sekitar 1 hektare, sekitar sejak awal tanam hingga saat ini dirinya sudah bisa memanen jahe sebanyak 7 kali panen, dengan hasil setiap sekali panen sebanyak 1,2 ton – 1,5 ton jahe. “Untuk harga jual jahe itu sendiri perkilogramnya bervariasi mulai sekitar Rp21 ribu hingga Rp30 ribu perkilogram. Jadi dikalikan saja hasilnya. Itulah hasil panen yang kami dapat,” jelasnya.
Selain di Pasar Flamboyan, hasil jahe yang ditanamnya juga dipasarkan di Kabupaten Ketapang, Meliau, Kota Pontianak, Singkawang, dan sekitarnya. Sedangkan untuk pemasaran skala besar hasil jahe yang ditanam juga dijualnya hingga ke Semarang. “Kami berharap ke depan akan semakin banyak pihak yang membantu kami para petani jahe di Desa Kalibandung ini unstuck terus memasarkan hasil panen, sehingga para petani disini kesejahtraannya secara bertahap bisa terus meningkat,” ungkapnya.
Dengan hasil yang didapat saat ini, Hayat pun mengaku bisa menambah luasan lahan untuk kemudian kembali dikembangkan dalam budidaya tanaman jahe, dan sejumlah komoditas lainnya.
Cukup besar hasil yang didapat, membuat Hayat kian bersemangat mengembangkan budidaya jahe di desanya. Bersama sejumlah rekan-rekannya pria yang kini dipercaya sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Kalibandung ini juga merangkul banyak petani di Desa Kalibandung, untuk terus mengembangkan sejumlah komoditas khas yang ada di desa setempat.
“Selain terus mengembangkan potensi diri, bersama beberapa rekan-rekan, saya juga berupaya merangkul banyak petani di desa ini, untuk sama-sama agar lebih optimal dalam mengelola potensi sumber daya alam yang ada. Saya yakin selain jahe, jika kita mau usaha, maka commodity lainnya juga bisa dikembangkan dengan baik di desa ini,” jelasnya.
Belajar dari pengalaman yang dimiliki, Hayat pun mengimbau masyarakat, khususnya di Desa Kalibandung, untuk sama-sama bisa lebih optimal memanfaatkan dan memberdayakan potensi sumber daya alam yang ada di desa. “Tidak perlu jauh-jauh merantau ke desa atau kota untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kita jeli dan mampu mengelola lahan yang ada disekitar kita, Insyaallah juga akan menghasilkan. Asalkan kita mau berusaha dan bekerja keras,” pungkasnya. (ash) Editor : admin2