SUNGAI RAYA – Sebanyak 106 santri berusia 50 tahun ke atas kini mengikuti program pesantren kilat yang diselenggarakan oleh Pesantren Mentari Senja (PMS) di Gardenia Resort, Kubu Raya.
Program ini berlangsung dari 19 hingga 23 Agustus dan menghadirkan sejumlah narasumber ternama, termasuk Ustaz Dr Harjani Lc, Ustaz Dr Didik Nur Haris Lc, Fanani, dan Ustaz Muamar Khadafi.
“Salah satu tujuan utama dari pesantren kilat ini adalah memperkuat keimanan para santri serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi masa senja dengan bekal ilmu keagamaan yang lebih mendalam,” ujar Ketua Pesantren Mentari Senja, Juniwati, kepada Pontianak Post, Rabu (21/8) di Sungai Raya
Juniwati menjelaskan bahwa Pesantren Mentari Senja adalah yang pertama di Kalimantan Barat yang menyelenggarakan program pesantren kilat khusus untuk lansia. Ini menjadikannya sebagai pelopor dalam bidang ini.
"Biasanya kita hanya mendengar pesantren untuk anak-anak dan cucu kita. Namun, kini saatnya kita merasakan sendiri bagaimana menjadi seorang santri," tambah Juniwati.
Program ini juga terinspirasi oleh data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan peningkatan usia harapan hidup di Indonesia.
Secara nasional, usia harapan hidup rata-rata mencapai 71,3 tahun, sedangkan di Kalimantan Barat, usia harapan hidup pria rata-rata adalah 69,38 tahun dan wanita 73,35 tahun.
"Kelompok usia lanjut ini memiliki kebutuhan spiritual yang tinggi, sehingga kami merespons dengan mengadakan Pesantren Mentari Senja," jelas Juniwati.
Antusiasme masyarakat terhadap program ini sangat besar, terbukti dari jumlah pendaftar yang melebihi kuota.
Dari total 106 santri, 76 berasal dari Pontianak, sementara sisanya datang dari berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Barat, seperti Ketapang, Sintang, Sanggau, Singkawang, Mempawah, dan Kubu Raya.
Rentang usia santri sangat bervariasi, mulai dari di bawah 50 tahun sebanyak 9 orang, di atas 70 tahun sebanyak 16 orang, hingga seorang santri berusia 80 tahun. Mayoritas peserta adalah wanita, dengan jumlah 93 orang, sementara peserta pria berjumlah 13 orang.
Selama lima hari kegiatan, para santri akan terlibat dalam berbagai aktivitas keagamaan dan kesehatan yang telah dirancang secara khusus oleh panitia.
Kegiatan tersebut meliputi tahajud berjamaah, kuliah subuh, olahraga, belajar tahsin, pemeriksaan kesehatan, hingga tausiah mengenai fiqih ibadah, tauhid, dan doa-doa pilihan.
“Kami berharap melalui program ini, para santri dapat memperdalam ilmu agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat,” harap Juniwati.
“Dengan harapan, kegiatan ini dapat menjadi model bagi pesantren lain di Indonesia dalam memberikan pelayanan spiritual kepada lansia, serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi masa senja dengan penuh kedamaian dan berkah,” pungkasnya. (ash)
Editor : A'an