PONTIANAK POST – Upaya pemerintah Kabupaten Kubu Raya dalam memperluas akses pendidikan terus berlanjut. Kali ini, mereka meluncurkan inisiatif baru berupa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Terbuka, khusus bagi anak-anak usia sekolah yang tinggal di wilayah terpencil atau sulit menjangkau sekolah formal.
Program ini merupakan komitmen Pemkab Kubu Raya di bawah kepemimpinan Bupati Sujiwo dan Wakil Bupati Sukiryanto. Lokasi peluncurannya berada di SMPN 2 Desa Batu Ampar.
Menurut Syarif Muhammad Firdaus Alkadrie, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya, bahwa tujuan utamanya adalah memberikan layanan pendidikan yang setara bagi seluruh anak, tanpa terkecuali. "Kami ingin semua anak di Kubu Raya punya kesempatan yang sama untuk belajar, bahkan di wilayah terluar sekalipun," ujar Firdaus saat ditemui di lokasi pembukaan SMP 2 Terbuka di Kecamatan Batu Ampar.
Yang membedakan SMP Terbuka dengan sistem pendidikan konvensional adalah proses belajarnya. Meski siswa tidak secara fisik berada di satu bangunan sekolah utama, administrasi tetap dilakukan melalui "sekolah induk". Artinya, nilai rapor, kurikulum, hingga seragam yang digunakan benar-benar sama seperti siswa reguler.
Guru-guru yang mengajar juga bukan sembarang tenaga pendidik. Sebagian besar berasal dari sekolah-sekolah induk, sementara selebihnya direkrut dari masyarakat sekitar dengan kualifikasi sesuai standar pendidikan nasional. "Ini bukan program murahan. Anak-anak yang belajar di SMP Terbuka tetap mendapat pendidikan berkualitas, dengan metode belajar yang fleksibel namun tetap terstruktur," jelas Firdaus.
Menurut data Dinas Pendidikan Kubu Raya, angka putus sekolah di Kecamatan Batu Ampar masih cukup tinggi. Ada tiga kelompok anak yang menjadi target program ini: pertama, anak yang pernah sekolah tapi tidak tamat; kedua, lulusan SD yang tidak bisa melanjutkan ke SMP karena berbagai alasan; dan ketiga, anak yang belum pernah sekolah sama sekali.
Dua faktor utama menyebabkan tingginya angka putus sekolah, yaitu kondisi ekonomi keluarga dan keterbatasan akses geografis ke sekolah. Untuk itu, hadirnya SMP Terbuka diharapkan menjadi solusi efektif bagi masalah ini. "Anak-anak yang dulunya harus membantu orang tua bekerja atau tinggal jauh dari sekolah, sekarang bisa melanjutkan pendidikan mereka lewat sekolah terbuka ini," tambah Firdaus.
Firdaus juga menjelaskan bahwa model SMP Terbuka ini berbeda dengan Sekolah Alternatif (SATAP). Jika pada SATAP guru yang mengajar biasanya berasal dari jenjang pendidikan sebelumnya (misalnya guru SD mengajar di SMP SATAP), maka di SMP Terbuka guru yang bertugas adalah guru jenjang SMP itu sendiri.
Selain itu, program ini juga lebih fleksibel dan mudah diakses karena tidak perlu membangun sekolah baru secara fisik. Cukup memanfaatkan fasilitas yang sudah ada di desa, seperti balai desa atau gedung milik masyarakat.
Selain fokus pada pendidikan formal, Dinas Pendidikan Kubu Raya juga menekankan pentingnya pelestarian budaya lokal dalam setiap program pendidikan. Hal ini tercermin dari upaya mengintegrasikan nilai-nilai kebudayaan daerah dalam kurikulum maupun kegiatan belajarr-mengajar.
"Kami percaya, pendidikan yang baik haruslah mencerdaskan sekaligus melestarikan identitas budaya kita sebagai masyarakat Kubu Raya," tutup Firdaus.
Dengan adanya SMP Terbuka ini, harapan pemerintah adalah agar tidak ada lagi anak di Kubu Raya yang tertinggal hanya karena keterbatasan akses atau ekonomi. Semua punya hak yang sama untuk cerdas, maju, dan berkontribusi bagi masa depan bangsa.(den)
Editor : Hanif