PONTIANAK POST - Baru berusia 21 tahun, RN nekat jadi kurir sabu dengan bayaran belasan juta rupiah. Namun mimpinya pupus ketika Tim Labubu Satresnarkoba Polres Kubu Raya menangkapnya Sabtu (2/8) malam lalu, sesaat sebelum dia meninggalkan Kubu Raya dengan menumpang taksi lintas provinsi dan hendak kabur ke Kalimantan Tengah.
Kasat Narkoba Polres Kubu Raya, AKP Sagi melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade, mengungkapkan penangkapan dilakukan di Jalan Adisucipto, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, sekitar pukul 21.30 WIB.
"Pelaku RN kami amankan saat tengah menunggu kendaraan menuju Palangkaraya. Dari hasil penggeledahan, kami menemukan dua paket sabu seberat total 58,14 gram yang disembunyikan di dalam celana dalam yang telah dimodifikasi," ungkap Aiptu Ade dalam keterangan resminya, Kamis (7/8) di Sungai Raya.
Ade menjelaskan RN merupakan bagian dari jaringan narkoba lintas provinsi yang menggunakan metode komunikasi sangat tertutup. Seluruh instruksi diterima RN melalui aplikasi WhatsApp tanpa pernah bertatap muka dengan pengirim atau penerima barang haram tersebut.
Baca Juga: Razia Layangan di Kubu Raya, Puluhan Tali Gelasan Disita Demi Keselamatan Warga
“Modusnya sangat rapi. RN tidak mengenal siapa pengirim maupun siapa penerima. Ia hanya menerima perintah via WhatsApp dan diarahkan untuk menyerahkan barang ke lokasi yang telah ditentukan,” jelasnya.
Sebagai imbalan, RN dijanjikan upah besar jika berhasil menyelesaikan pengantaran. “Dia dijanjikan upah antara Rp10 juta hingga Rp20 juta apabila paket sampai ke tujuan,” ujar Ade.
Dalam penangkapan itu, polisi menyita sejumlah barang bukti, antara lain dua klip sabu, satu plastik tisu berwarna oranye-kuning yang digunakan untuk menyamarkan paket, dan satu unit ponsel merek Vivo yang diduga sebagai alat komunikasi dengan pengendali jaringan.
Ade menambahkan bahwa pola peredaran narkotika saat ini semakin canggih dan sulit dideteksi. Polisi menduga RN hanyalah kurir atau “pion” dari jaringan yang lebih besar.
“Ini menunjukkan bahwa jaringan peredaran narkoba semakin rapi. Tapi kami tidak tinggal diam. Kami terus melakukan pengembangan untuk mengungkap siapa aktor intelektual di balik jaringan ini,” tegasnya.