PONTIANAK POST – Video viral yang menyebut seorang santri Pondok Pesantren Asy Sayfi’iyah, Kecamatan Sungai Kakap, menjadi korban bullying tenaga pendidik dipastikan hoaks. Polisi menegaskan yang terjadi hanyalah perkelahian antarsantri. Bhabinkamtibmas Desa Punggur Kecil, Aipda Deni Ardiansyah, bersama Kepala Dusun Kenanga Baharudin dan pengurus RW setempat melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Hasilnya, tidak ditemukan adanya tindak kekerasan dari tenaga pendidik terhadap santri.
Deni menjelaskan, peristiwa bermula Selasa (9/9) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat pengecekan santri untuk tidur siang, seorang tenaga pendidik menegur dua santri yang bergurau. Salah satu santri yang tak terima lalu memukul temannya hingga berkelahi. Perkelahian segera dilerai pengasuh pondok.
Namun, salah satu santri sempat melarikan diri ke arah Sungai Bemban dan berhenti di warung. Dalam keadaan menangis, ia mengaku dipukul di pondok pesantren. Ucapan spontan itu direkam warga dan videonya tersebar luas di media sosial, sehingga memicu isu bullying oleh tenaga pendidik.
Santri tersebut kemudian dijemput ustaz, sempat dihalangi warga, dan akhirnya dipulangkan ke rumah ibunya. Keesokan harinya, ia kembali ke pondok dan beraktivitas seperti biasa. Kasus ini diselesaikan melalui mediasi di Kantor Desa Punggur Kecil pada Rabu (10/9) yang dihadiri orang tua kedua santri, pengurus pondok, dan Bhabinkamtibmas. Kedua belah pihak sepakat berdamai dan menandatangani surat pernyataan damai tanpa paksaan.
Kapolsek Sungai Kakap, Ipda Dollas Zimmi, melalui Kasubsie Penmas Aiptu Ade menegaskan kabar bullying oleh tenaga pendidik tidak benar. “Faktanya, yang terjadi adalah perkelahian antarsantri. Saat ini keduanya sudah berdamai, bahkan sudah kembali berteman dan beraktivitas normal,” jelasnya. Ade juga mengimbau masyarakat bijak bermedia sosial. “Jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Jika ada persoalan, komunikasikan langsung dengan pihak terkait,” tegasnya. (ash)
Editor : Hanif