PONTIANAK POST - Keterbatasan ruang belajar tidak menyurutkan semangat para guru di SD Negeri 52 Sungai Raya untuk terus menebarkan ilmu kepada para siswanya. Di pagi yang cerah itu, dua guru tampak sibuk mengajar di ruangan yang sama. Sebuah penyekat kayu setinggi dua pertiga dinding memisahkan ruangan menjadi dua kelas — di sisi kanan kelas 1, di sisi kiri kelas 2.
Suara guru yang sedang menjelaskan pelajaran di kelas 1 terdengar jelas hingga ke kelas 2, begitu pula sebaliknya. Riuh rendah tawa dan celoteh anak-anak menembus batas penyekat, menciptakan suasana belajar yang khas di sekolah dasar yang dulu dikenal dengan nama SD Negeri Patok 40 itu.
Sekolah ini terletak di Jalan Patok 40, Dusun Sidomulyo, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Kepala SDN 52 Sungai Raya, Dwi Mirawati, menjelaskan bahwa saat ini sekolahnya memiliki 46 siswa dengan 7 orang guru yang mengajar di empat ruang kelas.
“Ada dua lokal yang disekat. Satu lokal digunakan untuk kelas 1 dan 2, satu lagi untuk kelas 3 dan 4. Sementara kelas 5 dan 6 menempati bangunan di sebelahnya,” ujar Dwi saat ditemui beberapa waktu lalu.
Wilayah sekitar sekolah merupakan kawasan transmigrasi yang difungsikan sebagai permukiman dan tempat usaha bagi masyarakat. Mayoritas warga di wilayah ini adalah transmigran asal Pulau Jawa.
“Anak-anak kami semuanya tinggal di sekitar sekolah, tepatnya di RT 1 dan 2 RW 9, serta RT 1 dan 2 RW 10, Dusun Sidomulyo,” tambahnya.
Dwi berharap pemerintah daerah dapat memberi perhatian lebih terhadap kondisi sekolah yang berdiri sejak 1982 itu. “Harapan kami semoga ada penambahan ruang kelas agar kegiatan belajar mengajar bisa lebih efisien dan nyaman. Kalau bisa, juga dibantu dengan sarana dan prasarana lain,” ucapnya.
Selain keterbatasan ruang belajar, akses menuju sekolah juga menjadi kendala tersendiri. Kondisi jalan yang belum layak kerap menyulitkan guru, terutama yang berasal dari luar Sidomulyo.
“Kami juga berharap jalan menuju sekolah bisa diperbaiki supaya guru-guru lebih mudah datang mengajar,” harap Dwi.
Hingga kini, SDN 52 Sungai Raya juga belum mendapatkan program MBG (Makanan Bergizi Gratis). Padahal, menurut Dwi, sebagian besar siswanya sangat membutuhkan dukungan gizi untuk menunjang aktivitas belajar mereka.
Dengan rata-rata hanya delapan siswa per kelas, SDN 52 Sungai Raya terus berupaya memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak di pelosok desa, meski di tengah segala keterbatasan. (her)
Editor : Hanif