PONTIANAK POST - Ancaman abrasi di pesisir Desa Kuala Karang, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, semakin mengkhawatirkan. Erosi daratan akibat gelombang laut yang terus meningkat kini mengancam bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 12 Kuala Karang. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kubu Raya, Dedy Hidayat, menyatakan pemerintah daerah telah menyiapkan langkah cepat berupa relokasi sementara fasilitas sekolah dan tenaga pendidik. Langkah itu dilakukan sambil menyiapkan strategi pemulihan lingkungan secara bertahap di kawasan terdampak.
“Untuk jangka pendek, solusi terbaik adalah melakukan relokasi sarana dan prasarana sekolah, termasuk murid dan tenaga pendidik, ke lokasi yang lebih aman,” ujar Dedy baru-baru ini di Sungai Raya. Menurutnya, kondisi gelombang laut yang terus meningkat membuat kawasan Kuala Karang semakin rentan terhadap abrasi. Jika tidak segera ditangani, abrasi dikhawatirkan akan terus meluas dan mengikis daratan di bibir pantai.
Sebagai langkah awal, DLH Kubu Raya berencana melakukan penanaman pohon di sepanjang pesisir terdampak abrasi, bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kubu Raya. “DLH Kubu Raya akan membuat rencana kegiatan penanaman pohon di sepanjang pinggiran lahan yang terkena abrasi, dan kami akan berkoordinasi dengan KPH untuk pelaksanaannya,” jelas Dedy.
Ia juga menekankan pentingnya pemetaan lokasi terdampak guna memastikan status lahan, apakah termasuk kawasan hutan atau berada di bawah Hak Pengelolaan Lahan (HPL). Hal ini, katanya, penting agar koordinasi antarinstansi di tingkat kabupaten dan provinsi berjalan efektif. “Ini akan segera kami tindak lanjuti dan komunikasikan. DLH akan bekerja sama dengan KPH agar rencana program penanganan abrasi ini berjalan sinergis,” terangnya.
Untuk jangka panjang, Dedy menilai program pemulihan lingkungan harus difokuskan pada penanaman pohon endemik pesisir yang mampu menahan hempasan ombak. “Jenis pohon yang kami rekomendasikan antara lain api-api, jambu-jambuan, dan mahang, karena tanaman ini terbukti tahan terhadap gelombang laut dan efektif mengurangi dampak abrasi,” paparnya.
Selain vegetasi, DLH Kubu Raya juga mempertimbangkan pembangunan pemecah ombak (breakwater) serta penerapan sistem blok alami yang diperkuat dengan penanaman bakau terpadu di sepanjang garis pantai Kuala Karang. “Kami akan mengkomunikasikan hal ini lebih lanjut dengan KPH Kubu Raya agar langkah-langkah teknisnya bisa segera dirumuskan,” tambahnya.
Dedy juga mengimbau masyarakat pesisir untuk ikut berperan aktif dalam menjaga lingkungan. “Peran masyarakat sangat penting, tidak hanya menanam tapi juga merawat. Untuk titik-titik yang berpotensi longsor parah, kita bisa buat barau sebagai penahan daratan agar tidak ambruk,” pungkasnya. (ash)
Editor : Hanif