Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bundaran Gaforaya Jadi Landmark Baru Kubu Raya, Dibangun Tanpa APBD

Ashri Isnaini • Jumat, 2 Januari 2026 | 11:07 WIB

 

IKON: Disaksikan masyarakat dan pelaku usaha, Bupati Kubu Raya, Sujiwo meresmikan Tugu Mangrove di Bundaran GAFORAYA pada malam pergantian tahun 2025 menuju 2026, Rabu (31/12) lalu.
IKON: Disaksikan masyarakat dan pelaku usaha, Bupati Kubu Raya, Sujiwo meresmikan Tugu Mangrove di Bundaran GAFORAYA pada malam pergantian tahun 2025 menuju 2026, Rabu (31/12) lalu.

PONTIANAK POST – Menutup tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menghadirkan ikon baru bagi masyarakatnya dengan meresmikan Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove pada malam pergantian tahun, Rabu (31/12) lalu.

Pembangunan ikon baru Kubu Raya yang terletak di Jalan Arteri Supadio, Kecamatan Sungai Raya dengan pembiayaan sekitar Rp4,8 miliar tersebut tidak menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Pembiayaan berasal dari urunan para pelaku usaha yang beroperasi di Kabupaten Kubu Raya. 

Usai persemian, Bupati Kubu Raya, Sujiwo menegaskan, Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove merupakan wujud nyata kepedulian pelaku usaha terhadap pembangunan daerah. Kata Sujiwo, pemerintah daerah, hanya berperan sebagai fasilitator.

“Pembangunan Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove ini murni dari kemurahan hati para pelaku usaha. Dan tentunya pemerintah dan seluruh masyarakat Kubu Raya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas partisipasi para pelaku usaha yang membangun ikon baru di Kubu Raya ini,” ucap Sujiwo.

Gaforaya merupakan akronim dari GAIA, Four Point, Astra, dan Yamaha, yang merupakan donatur terbesar dalam pembangunan bundaran dan tugu tersebut. Selain itu, dukungan juga datang dari sedikitnya sebelas perusahaan perkebunan serta pelaku usaha lain yang beroperasi di sepanjang koridor Jalan Supadio hingga Arteri Ahmad Yani.

“Pemerintah tidak memegang sepeser pun dana pembangunan. Semua langsung ditransfer oleh dunia usaha kepada pelaksana. Dan nantinya seluruh proses ini akan dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada publik,” tegasnya.

Sujiwo menguraikan makna filosofis Tugu Benteng Mangrove yang kini menjadi salah satu ikon baru Kabupaten Kubu Raya. Mangrove, kata dia, melambangkan pelestarian alam sekaligus benteng bumi dari terpaan ombak, dengan pengorbanan akar, batang, dan daun.

“Itulah simbol kami, saya, Wakil Bupati, dan seluruh jajaran. Kami siap mengorbankan jiwa dan raga untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Filosofi itu kami tuangkan dalam Benteng Mangrove,” jelasnya.

Selain mangrove, terdapat pula simbol tunas kelapa yang melambangkan manfaat menyeluruh. Seluruh bagian kelapa dapat dimanfaatkan, mulai dari daun, batang, air, hingga buahnya. Filosofi ini mencerminkan harapan agar kehadiran Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat, termasuk dunia usaha.

Dari sisi desain, tugu setinggi 20,7 meter melambangkan tahun berdirinya Kabupaten Kubu Raya pada 2007. Benteng berjumlah tujuh merepresentasikan bulan Juli, sementara 17 kotak taman menandakan tanggal 17 Juli sebagai hari jadi Kabupaten Kubu Raya.

Sujiwo juga mengimbau masyarakat untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap Bundaran Gaforaya dan Tugu Benteng Mangrove. Dia meminta Dinas Pekerjaan Umum dan perangkat daerah terkait untuk terus menjaga kebersihan serta memaksimalkan pemeliharaan kawasan tersebut.

“Finishing pembangunan ditargetkan selesai dalam waktu satu hingga satu setengah bulan ke depan. Selama proses itu berlangsung, masyarakat tetap boleh memanfaatkan kawasan ini sebagai ruang publik,” ucapnya.

Terkait pengaturan lalu lintas dan keselamatan, Sujiwo menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD). Kajian teknis tengah dilakukan untuk pemasangan traffic light, penataan zebra cross, serta pengaturan parkir di sekitar kawasan bundaran.

Terkait aktivitas pedagang, Sujiwo mengatakan pemerintah daerah masih melakukan kajian. Untuk sementara, pedagang tidak diperkenankan berjualan secara menetap di kawasan bundaran. Namun, model berjualan secara mobile masih menjadi opsi yang sedang dipertimbangkan. “Kami ingin memberi ruang ekonomi, tetapi juga harus tertib dan tidak mengganggu fungsi ruang publik. Karena itu, kami mohon waktu agar kajian ini benar-benar matang,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Sujiwo juga menyampaikan perkembangan penggalangan dana kemanusiaan bagi korban bencana alam. Hingga saat ini, dana yang berhasil dihimpun sekitar Rp510.413.700, dengan hampir Rp400 juta di antaranya telah disalurkan.

“Sekali lagi, atas nama Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, saya dan Wakil Bupati mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada dunia usaha. Insyaallah, kita akan terus berjalan bersama untuk memajukan Kabupaten Kubu Raya,” pungkasnya. (ash)

Editor : Hanif
#Bundaran Gaforaya #Kolaborasi #apbd #Pemkab Kubu Raya #Pelaku Usaha #ikon daerah