Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Stunting Kubu Raya Masih 30,2 Persen, Dinkes Gencarkan Program Satu Telur Satu Hari

Ashri Isnaini • Kamis, 15 Januari 2026 | 13:13 WIB

 

Siswani
Siswani

PONTIANAK POST — Pemerintah Kabupaten Kubu Raya terus memacu berbagai program intervensi gizi untuk menekan angka stunting yang masih berada di level 30,2 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terakhir. Plt Kepala Dinas Kesehatan Kubu Raya, Siswani mengatakan pada tahun 2025 tidak dilakukan survei SSGI, sementara survei berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Oktober atau November 2026.

“Angka terakhir stunting kita berdasarkan SSGI masih 30,2 persen. Tahun 2025 ini tidak ada survei, dan nanti survei berikutnya akan dilakukan di 2026,” ucap Siswani kepada Pontianak Post, Rabu (14/1) di Sungai Raya.

Meski belum ada survei nasional pada 2025, Dinas Kesehatan Kubu Raya, tetap melaksanakan berbagai program intervensi yang akan terus dilanjutkan hingga 2026. Salah satu fokus utama katanya adalah pemberian makanan tambahan berbasis protein hewani, khususnya telur.

Dalam upaya menekan angka stunting, kata Siswani, Dinkes Kubu Raya memiliki inovasi bernama Gestur (Gerakan Satu Telur Satu Hari). Program ini menyasar anak-anak stunting dengan pemberian satu butir telur setiap hari selama 90 hari berturut-turut.

“Target kita jelas, anak-anak yang stunting diberikan satu telur satu hari selama 90 hari. Ini bagian dari intervensi gizi spesifik,” ujarnya.

Untuk mendukung keberlanjutan program tersebut, kata dia, sumber pendanaan tidak hanya mengandalkan APBD. Dinkes Kubu Raya membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, pemerintah desa, hingga organisasi dan lembaga lainnya di Kubu Raya.

Selain itu, pada 2026 mendatang, pihaknya juga akan menggandeng Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada di Kabupaten Kubu Raya, khususnya untuk mendukung pemberian telur bagi anak stunting.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Jadi kita gandeng CSR, desa, dan nanti juga MBG melalui SPPG yang ada di Kubu Raya,” jelasnya.

Siswani menjelaskan berdasarkan pemetaan terbaru, saat ini Kecamatan Sungai Ambawang masih menjadi wilayah dengan angka stunting relatif tinggi. Meski demikian, berbagai upaya intervensi telah dan terus dilakukan secara intensif di wilayah tersebut.

“Stunting yang masih cukup tinggi saat ini ada di Kecamatan Sungai Ambawang. Di sana kita lakukan intervensi lebih masif,” ungkapnya.

Tak hanya melibatkan pemerintah, Dinkes Kubu Raya juga menggandeng organisasi keagamaan seperti Muslimat NU, Aisyiyah, serta organisasi masyarakat lainnya. Peran kader posyandu juga diperkuat dalam pelaksanaan dan pemantauan program Gestur.

Setiap kader, kata Siswani, akan melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah keluarga yang memiliki anak stunting untuk memastikan program berjalan optimal.

“Kader kita libatkan penuh. Mereka memantau langsung ke rumah-rumah anak stunting, memastikan pemberian satu telur satu hari selama 90 hari itu benar-benar terlaksana,” tegasnya.

Siswani juga menyinggung adanya perbedaan data antara hasil SSGI dan laporan penimbangan rutin di posyandu melalui EPPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat). Berdasarkan data penimbangan bulanan posyandu, angka stunting tercatat sekitar 7,8 persen.

“Angka dari posyandu memang terlihat lebih rendah, sekitar 7,8 persen. Ini karena masih ada bayi dan balita yang belum ditimbang,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Dinkes Kubu Raya. Ke depan, kata Siswani, pihaknya menargetkan 100 persen bayi dan balita dapat terpantau melalui penimbangan rutin dengan memperkuat peran aktif kader di lapangan.

“Itu menjadi prioritas kita, bagaimana semua bayi dan balita bisa ditimbang secara rutin. Kuncinya ada di peran kader,” ungkapnya.

Siswani berharap Kubu Raya mampu mencapai angka minimal setara dengan target nasional, yakni 15 persen pada 2026. Meski mengakui tantangan cukup besar, dia optimistis upaya kolaboratif akan membuahkan hasil.

“Harapan kami minimal bisa sama dengan nasional, 15 persen. Walaupun sekarang masih 30,2 persen, tapi ini akan terus kita upayakan sehingga angka stunting di Kubu Raya bisa kian maksimal diminimalisir,” pungkas Siswani. (ash)

Editor : Hanif
#Lintas Sektor #Kolaborasi #Pemkab Kubu Raya #Satu Telur Satu Hari #cegah stunting