PONTIANAK POST — Bupati Kubu Raya, Sujiwo, menegaskan komitmennya menuntaskan pembangunan jalan poros ekonomi di Kecamatan Teluk Pakedai. Jalan itu dinilai mendesak untuk menunjang mobilitas orang dan barang, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.
“Membangun suatu daerah, pertama bangunlah dengan hati, bangunlah dengan cinta dan kasih sayang. Karena membangun itu ada tiga asas yang selalu saya perhatikan: asas manfaat, asas prioritas, dan asas keadilan,” kata Sujiwo, usai menghadiri Safari Ramadan di Masjid Nurul Islam, Kecamatan Teluk Pakedai, Sabtu, (28/2). Di hadapan warga, dia menyebut pembangunan infrastruktur harus berpijak pada asas manfaat, prioritas, dan keadilan.
Dia menilai, keberadaan jalan poros di setiap kecamatan menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa akses yang layak, distribusi hasil pertanian dan perikanan warga tersendat, biaya transportasi meningkat, dan pelayanan publik tidak optimal.
“Memang kalau dari kacamata politik elektoral, Teluk Pakedai ini tidak akan dilirik. Bayangkan, DPT tidak sampai 20 ribu, jaraknya jauh, jalannya rusak. Tetapi ketika kita membangun dengan hati, kita mengedepankan asas keadilan. Karena jalan rusak itulah makanya saya harus bangun,” ujarnya.
Pemerintah daerah, lanjut Sujiwo, kembali menganggarkan pembangunan jalan poros Teluk Pakedai sebesar Rp 2,5 miliar pada tahun ini. Sebelumnya, pada 2025, anggaran dengan nilai yang sama juga telah dialokasikan. Pengerjaan lanjutan dijadwalkan dimulai setelah Lebaran oleh Dinas Pekerjaan Umum.
“Tahun 2025 kemarin juga sudah masuk Rp2,5 miliar. Tahun ini pengerjaan dari dermaga, saya yakin sudah lewat ke Desa Teluk Pakedai Dua ini. Mudah-mudahan bisa lewat. Karena jalan poros ini menjadi aspirasi yang sangat penting. Kemudian yang ke arah Desa Arus Deras, Sungai Deras, juga kita bangun,” ungkapnya.
Dia berharap pembangunan jalan poros dapat mendorong partisipasi masyarakat. Camat dan kepala desa diminta menghidupkan kembali semangat gotong royong, termasuk penataan lingkungan dan pelebaran akses jalan di permukiman.
“Saya lihat sudah mulai lampu-lampu hias, lampu jalan ini keren. Nanti gotong royong harus dibangkitkan kembali, bisa setiap Minggu atau Jumat. Barau-barau yang belum terpasang dilebarkan, karena terlalu tinggi jalannya,” ujar Sujiwo.
Di tengah keterbatasan fiskal, Sujiwo mengakui Kabupaten Kubu Raya mengalami pemotongan dana Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp 397 miliar. Meski demikian, dia memastikan pelayanan publik tidak akan terganggu.
“Bahkan saya masih target untuk menuntaskan seluruh jalan poros strategis atau jalan poros ekonomi dalam satu periode kepemimpinan saya bersama Pak Sukiryanto,” ucapnya. Selain infrastruktur, dia berjanji tetap memberi perhatian pada sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, dan perikanan.
Bagi Sujiwo, Safari Ramadan bukan sekadar agenda seremonial. dia menyebut kegiatan itu sebagai momentum mendekatkan diri dengan masyarakat dan membangun ikatan emosional antara pemerintah dan warga.
“Saya ingin dekat, ngeklik, dan terbangun ikatan emosi. Tidak boleh saya menjaga jarak. Saya ingin selalu melekat di hati masyarakat,” tutupnya. (ash)
Editor : Miftahul Khair