PONTIANAK POST — Pemerintah Kabupaten Kubu Raya terus mengintensifkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menggelar rapat koordinasi (rakor) lintas sektor, Senin (30/3), di Ruang Pamong Praja I, Kantor Bupati Kubu Raya. Rapat yang dipimpin langsung Bupati Kubu Raya, Sujiwo, dan dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), unsur TNI-Polri, dan sejumlah instansi vertikal lainnya.
Dalam arahannya, Sujiwo menegaskan penanganan karhutla tidak dapat dilakukan secara parsial. Dia menyebut diperlukan sinergi kuat dan terintegrasi antarinstansi guna menghadapi ancaman kebakaran yang kerap berulang setiap musim kemarau.
“Penanganan karhutla tidak bisa sendiri-sendiri. Harus ada kolaborasi lintas sektor yang solid dan terkoordinasi,” kata Sujiwo.
Dia menambahkan, rakor kali ini diikuti secara lebih luas dengan melibatkan berbagai unsur tambahan yang disebutnya sebagai “Forkopimda Plus”. Selain unsur utama seperti Dandim, Kapolres, dan Kajari, rapat juga dihadiri perwakilan dari Lanud Supadio, Denhanud, Yonko Brajamusti, Batalion Pelopor, Satbrimob, Kikav, hingga Batalion TP.
“Rakor hari ini cukup lengkap. Ini yang saya sebut sebagai Forkopimda Plus, karena melibatkan lebih banyak unsur strategis dalam penanganan karhutla,” ujarnya.
Menurut Sujiwo, ke depan keterlibatan TNI dan Polri tidak hanya difokuskan pada penanganan bencana, tetapi juga akan dioptimalkan untuk mendukung percepatan pembangunan daerah. Hal tersebut sejalan dengan arahan pimpinan TNI dan Polri di tingkat daerah agar pemerintah daerah dapat memanfaatkan potensi personel yang ada.
“Selama ini dukungan dari Dandim, Kapolres, dan seluruh jajaran sangat luar biasa. Pergerakan di tingkat kecamatan juga cepat, terutama dalam penyediaan data dan informasi di lapangan,” katanya.
Berdasarkan informasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kata Sujiwo, Kubu Raya masih berada dalam periode rawan karhutla setidaknya hingga 20 April mendatang. Kondisi tersebut diperkirakan akan berlanjut dengan tantangan yang lebih berat pada pertengahan tahun.
Sujiwo mengungkapkan, potensi kemunculan fenomena El Nino pada Juni berisiko memicu kemarau panjang yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
“Kita harus bersiap. Setelah April, kita akan menghadapi potensi El Nino yang cukup ekstrem. Jika kemarau panjang terjadi, maka risiko karhutla akan semakin tinggi,” ujarnya.
Dia menekankan, langkah pencegahan harus menjadi prioritas utama. Upaya tersebut, menurutnya, harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh elemen, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, hingga masyarakat.
“Karhutla adalah tanggung jawab bersama. Pencegahan harus kita lakukan sejak dini dan secara konsisten,” kata Sujiwo.
Sujiwo juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur Forkopimda atas komitmen dan kerja sama dalam penanganan karhutla selama ini. Ia menilai sinergi yang telah terbangun menjadi modal penting dalam menghadapi potensi bencana ke depan.
Sementara itu, Kapolres Kubu Raya, AKBP Kadek Ary Mahadika mengatakan rapat koordinasi ini bertujuan menyelaraskan langkah penanganan karhutla dengan melibatkan berbagai pihak. Menurut dia, penyamaan persepsi penting agar penanganan di lapangan berjalan efektif.
“Kami menyelaraskan tindakan di lapangan, termasuk bagaimana penanganan karhutla di seluruh kecamatan,” ujarnya.
Kadek menambahkan, kepolisian akan terus melakukan penyelidikan terhadap kasus kebakaran lahan. Penegakan hukum tetap dilakukan untuk memberikan efek jera.
“Kami berharap ada perkembangan dari proses penyelidikan hingga penetapan tersangka,” ungkapnya.
Sementara itu, Dandim 1207/Pontianak, Letkol Inf Robbi Firdaus menyatakan seluruh pemangku kepentingan telah bersepakat memperkuat langkah mitigasi. Upaya tersebut meliputi peningkatan sosialisasi kepada masyarakat, penyediaan sarana dan prasarana, serta pemetaan wilayah rawan kebakaran.
Selain itu, pembagian personel juga telah disiapkan agar respons di lapangan lebih cepat. Setiap satuan akan bergerak sesuai sektor masing-masing ketika terjadi kebakaran.
“Jika terjadi karhutla, seluruh personel akan turun sesuai wilayah tugas untuk melakukan pemadaman,” tutupnya. (ash)
Editor : Hanif