PONTIANAK POST – Pemerintah Kabupaten Kubu Raya terus mendorong peningkatan produktivitas pertanian melalui program Optimasi Lahan (Oplah). Desa Tanjung Saleh, Kecamatan Sungai Kakap, dipastikan menjadi salah satu lokasi prioritas pengembangan di tahun 2026.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kubu Raya, Agus Siswandi, mengatakan pemerintah pusat telah menyetujui usulan Oplah seluas 1.129 hektare di Desa Tanjung Saleh. Persetujuan itu menjadi langkah awal untuk mendorong peningkatan luas tanam sekaligus produktivitas petani.
“Alhamdulillah, untuk Kecamatan Kakap khususnya di Desa Tanjung Saleh sudah disetujui sebagai lokasi Oplah tahun 2026. Setelah disetujui, berbagai bantuan akan mulai disalurkan ke petani,” ujar Agus Siswandi kepada Pontianak Post, Kamis (16/4) di Sungai Raya.
Dia menjelaskan, bantuan yang akan diberikan meliputi pupuk, benih, alat dan mesin pertanian, hingga dukungan pengolahan lahan. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan bantuan dana sekitar Rp900 ribu per hektare bagi petani yang tergabung dalam brigade pangan.
Baca Juga: Menteri LH Ingatkan Daerah Siaga Karhutla, Kalbar dan Riau Jadi Daerah Paling Rawan
“Petani nantinya tidak bekerja sendiri. Kita bentuk brigade pangan, lalu mereka juga mendapat bantuan dana sekitar Rp900 ribu per hektare untuk mendukung pengolahan lahan,” jelasnya.
Menurut Agus, program oplah tersebut diyakini mampu meningkatkan indeks pertanaman dan hasil produksi di kawasan tersebut. Dengan intervensi yang terstruktur, lahan yang sebelumnya belum optimal dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Selain di Tanjung Saleh, program serupa juga akan dilaksanakan di sejumlah kecamatan lain di Kubu Raya, seperti Kecamatan Kubu, Teluk Pakedai, dan Batu Ampar.
Lebih lanjut, Agus menuturkan pengembangan pertanian di Kubu Raya juga mempertimbangkan karakteristik lahan, khususnya lahan gambut yang cukup luas di wilayah ini. Ia mengakui, lahan gambut memiliki keterbatasan jika ditanami padi, sehingga diperlukan alternatif komoditas yang lebih sesuai.
“Memang untuk gambut, produktivitas padi tidak terlalu baik. Tapi ada komoditas lain yang justru cocok dan memberikan hasil tinggi,” katanya.
Baca Juga: Antisipasi Karhutla, Kubu Raya Siapkan 84 Embung dan Normalisasi Sungai di Wilayah Rawan
Dia mencontohkan sejumlah desa yang telah berhasil mengembangkan komoditas alternatif. Di Kecamatan Terentang, petani berhasil membudidayakan jahe dengan produksi yang melimpah. Sementara di Rasau Jaya Umum, masyarakat mengembangkan berbagai tanaman hortikultura seperti bunga kol, kacang panjang, timun, dan sayuran lainnya.
Selain itu, jagung juga dinilai sangat potensial dikembangkan di lahan gambut, baik jagung manis maupun jagung pipil. Salah satu contoh keberhasilan terdapat di wilayah Rasau Jaya, di mana budidaya jagung pipil menunjukkan hasil yang signifikan.
“Di lahan sekitar 800 meter persegi, dengan bantuan benih hanya 3,5 kilogram, bisa menghasilkan sekitar 350 kilogram jagung pipil dalam waktu 3 sampai 4 bulan,” ungkapnya.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Pertanian, aparat kepolisian melalui Brimob, serta organisasi keagamaan PCNU. Hasil panen tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal, tetapi juga mendukung kegiatan organisasi.
Agus menegaskan, ke depan pemerintah akan terus memperluas kolaborasi lintas sektor guna memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Baca Juga: Kemenkum Kalbar Siap Jadi Tuan Rumah Sosialisasi KUHP, Jonny Pesta Simamora Temui Ditjen AHU
“Dengan kolaborasi dan pemilihan komoditas yang tepat, kita optimistis sektor pertanian di Kubu Raya akan terus berkembang,” pungkasnya. (ash)
Editor : Hanif