PONTIANAK POST - Sebanyak 60 persen bangunan sekolah di Kabupaten Kubu Raya dilaporkan mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat keparahan. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kabupaten Kubu Raya untuk memfokuskan anggaran pada sektor pendidikan, khususnya perbaikan infrastruktur sekolah pada tahun mendatang.
Bupati Kubu Raya, Sujiwo, menegaskan pihaknya akan melakukan pendataan menyeluruh guna memprioritaskan perbaikan sekolah yang mengalami kerusakan berat secara bertahap. Langkah ini dilakukan agar sekolah benar-benar menjadi ruang belajar yang layak bagi peserta didik.
“Kita ingin sekolah menjadi rumah kedua bagi anak-anak. Harus aman, bersih, indah, dan nyaman,” ujar Jiwo, sapaan karibnya, kemarin (6/5).
Kata dia, di tengah keterbatasan anggaran daerah, pemerintah juga akan mengupayakan dukungan dari pemerintah pusat untuk program revitalisasi sekolah. Sujiwo menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, serta organisasi profesi guru dalam mempercepat perbaikan mutu pendidikan.
Baca Juga: Kubu Raya Fokus Kembangkan Hortikultura dan Jagung untuk Optimalkan Lahan Gambut
Jiwo juga mengajak para guru menjadikan momentum Hari Pendidikan sebagai refleksi untuk memperkuat etos kerja, disiplin, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas. “Momentum ini harus kita jadikan tonggak untuk membangun semangat, disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab para guru,” ujarnya.
Ia menegaskan peran guru sangat strategis dalam menyiapkan generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas. Pemerintah daerah, kata Sujiwo, akan terus berupaya hadir mendampingi tenaga pendidik dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kubu Raya. “Kita sedang menyiapkan generasi penerus bangsa. Maka saya bersama Wakil Bupati dan Sekda akan selalu hadir dan membersamai para guru,” pungkasnya.
Namun, persoalan pendidikan di Kubu Raya tidak hanya soal kerusakan bangunan. Sorotan juga datang dari kalangan legislatif terkait ketimpangan akses pendidikan menengah di wilayah tersebut.
Anggota DPRD Kalimantan Barat, Agus Sudarmansyah, menyebut minimnya keberadaan SMA dan SMK negeri di sejumlah wilayah Kubu Raya menjadi masalah serius yang berdampak langsung pada keberlanjutan pendidikan siswa.
Menurutnya, mayoritas sekolah menengah negeri masih terpusat di kawasan perkotaan dan pusat kecamatan, sementara daerah pesisir, kepulauan, hingga pedalaman masih kekurangan fasilitas pendidikan. “Kalau melihat data jumlah peserta didik dengan sebarannya serta daya dukung sekolah, memang terlihat ada ketimpangan yang cukup jomplang,” ujar Agus.
Baca Juga: Pemkab Kubu Raya Luncurkan E-Adipati, Disiplin Guru Kini Dipantau Secara Real Time
Ia mencontohkan wilayah seperti Padang Tikar, Kuala Mandor B, Tanjung Beringin, hingga Terentang yang masih minim akses SMA dan SMK negeri. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa terpaksa menghentikan pendidikan setelah lulus SMP karena jarak dan keterbatasan akses.
“Banyak anak-anak yang seharusnya bisa lanjut dari SMP ke SMA akhirnya terputus karena akses sekolahnya belum maksimal,” katanya.
Agus mendorong Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk mempercepat pembangunan sekolah baru berbasis kebutuhan wilayah. Selain menambah jumlah sekolah, ia juga menekankan pentingnya perencanaan pendidikan berbasis potensi lokal. “Ini bukan hanya soal jumlah sekolah, tapi soal pemerataan akses pendidikan,” tegasnya. (mrd)
Editor : Hanif