PONTIANAK POST – Aktivitas transportasi sungai di jalur Rasau Jaya–Batu Ampar, Desa Padang Tikar, akhirnya kembali normal setelah sempat lumpuh akibat mogok massal pengemudi dan pemilik motor tambang karena krisis solar bersubsidi.
Kembalinya operasional transportasi air itu dipastikan langsung Bupati Kubu Raya, Sujiwo, saat meninjau Dermaga Rasau Jaya sebelum melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Batu Ampar, Selasa (19/5).
Dari hasil pemantauan di lapangan, aktivitas penyeberangan penumpang, kendaraan roda dua, hingga distribusi barang sudah kembali berjalan lancar. Sejumlah motor tambang tampak kembali beroperasi melayani masyarakat.
“Alhamdulillah, setelah dilakukan komunikasi dan penyelesaian, angkutan motor tambang sudah kembali beroperasi normal. Kami akan terus memastikan pelayanan transportasi untuk masyarakat tetap berjalan baik,” ujar Sujiwo.
Baca Juga: BBM Solar Tembus Rp17 Ribu, Penyeberangan Kapal Rasau Jaya dan Teluk Batang Lumpuh
Dalam peninjauan tersebut, Sujiwo didampingi Sekretaris Daerah Kubu Raya Yusran Anizam, perwakilan Komando Daerah TNI Angkatan Laut XII, Polres Kubu Raya, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya.
Lumpuh karena Solar Langka
Sebelumnya, aktivitas motor tambang di lintasan Rasau Jaya–Batu Ampar sempat terhenti akibat aksi mogok massal para pengemudi dan pemilik armada. Penghentian operasional dipicu sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi jenis solar serta tingginya harga bahan bakar di lapangan.
Kondisi itu memicu kekhawatiran masyarakat karena jalur sungai menjadi akses utama mobilitas warga sekaligus jalur distribusi kebutuhan pokok menuju sejumlah wilayah pesisir.
Transportasi air dari Rasau Jaya diketahui melayani rute menuju Padang Tikar, Kayong Utara, Ketapang, hingga antar kecamatan dan desa lainnya. Saat operasional berhenti sejak Minggu (17/5), aktivitas ekonomi masyarakat ikut terganggu.
“Kalau transportasi air berhenti, efek dominonya besar sekali. Ini menyangkut kepentingan masyarakat umum,” kata Sujiwo.
Baca Juga: Sopir Angkutan di Sungai Pinyuh Keluhkan Kelangkaan Solar Subsidi dan Antrean Panjang di SPBU
Pemkab Gelar Rakor Mendesak
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya langsung menggelar rapat koordinasi mendadak pada Senin (18/5). Rapat dipimpin langsung Bupati Sujiwo bersama Pertamina, DPRD, OPD terkait, asosiasi transportasi, hingga pihak terkait lainnya di Ruang Rapat Bupati Kubu Raya.
Sujiwo mengatakan langkah cepat dilakukan setelah menerima laporan mengenai lumpuhnya aktivitas transportasi sungai akibat kelangkaan solar.
“Begitu saya mendapatkan laporan dan melihat dari berbagai media tentang berhentinya aktivitas transportasi karena faktor BBM, khususnya solar, maka saya langsung mengambil langkah cepat. Kalau ini dibiarkan, dampaknya akan luar biasa ke banyak sektor,” ujarnya.
Menurutnya, penghentian operasional motor tambang tidak hanya berdampak pada distribusi barang dan aktivitas ekonomi, tetapi juga berpotensi memunculkan persoalan sosial di masyarakat.
Dispensasi Solar Diterbitkan
Dari hasil rapat koordinasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya akhirnya memutuskan menerbitkan surat dispensasi pengambilan solar guna mendukung operasional transportasi sungai masyarakat.
Baca Juga: Sujiwo Terbitkan Dispensasi Solar, Angkutan Sungai Rasau Jaya Kembali Beroperasi
Kebijakan itu disebut sebagai solusi sementara sambil menunggu terbitnya surat keputusan dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
“Bismillah, demi kepentingan masyarakat dan kepentingan publik, saya akan menandatangani surat dispensasi itu setelah dikaji bagian hukum dan Sekda,” kata Sujiwo.
Meski demikian, ia mengingatkan agar dispensasi tersebut tidak disalahgunakan oleh pihak tertentu. “Pesan saya, dispensasi yang kami keluarkan mohon tidak disalahgunakan. Ini ada batasannya dan hanya berlaku sementara sampai SK dari BPH Migas terbit,” tegasnya.
Pengawasan Distribusi Diperketat
Selain meminta percepatan regulasi dari BPH Migas, Sujiwo juga meminta Pertamina memperketat pengawasan distribusi BBM di lapangan. Menurutnya, situasi kelangkaan solar rawan dimanfaatkan oknum tertentu untuk mencari keuntungan pribadi.
“Di situasi seperti ini banyak oknum yang memanfaatkan keadaan. Korbannya masyarakat kecil. Karena itu Pertamina harus memaksimalkan pengawasan,” ujarnya.
Ia juga meminta aparat penegak hukum ikut mengawasi distribusi BBM agar penyalahgunaan tidak semakin meluas.
Sujiwo menegaskan pemerintah daerah akan terus menjaga stabilitas transportasi sungai dan membuka ruang komunikasi dengan seluruh pihak agar distribusi logistik serta aktivitas masyarakat tetap berjalan normal.
Pantauan di Dermaga Rasau Jaya menunjukkan masyarakat mulai kembali beraktivitas tanpa hambatan berarti. Para sopir dan pemilik motor tambang juga menyatakan siap mendukung kelancaran transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah Rasau Jaya dan Batu Ampar. (ash)
Editor : Hanif