PONTIANAK POST – Kemacetan panjang kembali terjadi di kawasan Jembatan Kapuas II, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, setelah sebuah truk angkutan barang mengalami kerusakan. Polres Kubu Raya menilai pengaturan lalu lintas oleh personel di lapangan hanya menjadi solusi sementara apabila akar persoalan berupa kendaraan yang tidak laik jalan belum dibenahi.
Kasat Lantas Polres Kubu Raya, Iptu Judi Effendhy melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade mengatakan kepolisian setiap hari menempatkan tujuh personel di kawasan Jembatan Kapuas II untuk mengurai kepadatan kendaraan. Namun, langkah tersebut dinilai tidak cukup jika truk angkutan masih mengalami kerusakan saat melintas.
"Kami dari Polres Kubu Raya sebenarnya sudah berusaha maksimal dengan menempatkan tujuh personel setiap hari untuk mengatur lalu lintas di kawasan tersebut. Tetapi harus diakui, itu bukanlah solusi jangka panjang untuk mengatasi akar persoalannya," ujar Ade kepada wartawan, Senin (6/7), di Sungai Raya.
Baca Juga: Truk Muatan Pasir Karang Laka Tunggal di Jembatan Kapuas 1, Arus Lalu Lintas Sempat Macet Panjang
Truk Patah As Roda Sebelum Naik Jembatan
Kemacetan dipicu sebuah truk angkutan barang yang mengalami patah as roda sesaat sebelum menaiki Jembatan Kapuas II pada Minggu (5/7). Hingga Senin (6/7) siang, kendaraan tersebut masih berada di lokasi karena proses evakuasi belum selesai.
Posisi truk yang miring di bawah pangkal jembatan menutup sebagian badan jalan. Akibatnya, arus kendaraan dari arah Bundaran Mayor Alianyang menuju Sungai Ambawang maupun sebaliknya tersendat.
Antrean kendaraan mengular hingga beberapa kilometer. Kondisi ini menghambat mobilitas masyarakat sekaligus distribusi logistik di Jalan Trans Kalimantan yang menjadi jalur utama penghubung Kota Pontianak dengan wilayah timur Kalimantan Barat.
Polisi: Personel Bukan Solusi Utama
Ade mengatakan situasi akan semakin sulit apabila kendaraan mogok tepat di atas Jembatan Kapuas II. Lebar jalan yang terbatas membuat proses evakuasi berlangsung lebih lama, sementara volume kendaraan terus meningkat.
"Jika ada kendaraan yang macet atau mogok di atas jembatan, tujuh personel itu tentu sangat kurang untuk mengurai dampaknya," katanya.
Menurutnya, kemacetan yang berulang di kawasan tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada kepolisian. Perusahaan angkutan dan pemilik armada harus berperan aktif memastikan kendaraan dalam kondisi layak beroperasi.
Perusahaan Diminta Pastikan Armada Laik Jalan
Polres Kubu Raya menilai sebagian besar insiden kendaraan mogok di Jembatan Kapuas II dipicu persoalan teknis yang sebenarnya dapat dicegah melalui pemeriksaan rutin.
Karena itu, perusahaan ekspedisi dan pemilik kendaraan diminta melakukan pengecekan menyeluruh sebelum armada diberangkatkan.
"Kami mengimbau kepada para pemilik angkutan ekspedisi maupun angkutan lainnya agar benar-benar memperhatikan kesiapan kendaraannya, kelayakan jalan, dan aspek keselamatan. Jangan berspekulasi di jalan raya," tegas Ade.
Berdasarkan evaluasi Satlantas Polres Kubu Raya, kendaraan berat yang mengalami gangguan di kawasan Jembatan Kapuas II umumnya disebabkan kehabisan bahan bakar, gangguan mesin, ban pecah, hingga kerusakan berat seperti patah as roda.
Ade menegaskan setiap operator angkutan wajib memastikan kondisi mesin, sistem pengereman, ban, serta kecukupan bahan bakar sebelum kendaraan beroperasi.
Baca Juga: Polisi Ungkap Penyebab Jembatan Kapuas 2 Macet Parah: Jalur Trans Kalimantan Sempat lumpuh
"Memastikan kendaraan dalam kondisi prima bukan hanya menyangkut keselamatan pengemudi, tetapi juga bentuk tanggung jawab kepada pengguna jalan lainnya. Jangan sampai kelalaian satu kendaraan justru menghambat aktivitas masyarakat dan distribusi logistik di jalur strategis ini," pungkasnya.
Dampak Kemacetan Terasa bagi Masyarakat
Kemacetan yang kembali terjadi di Jembatan Kapuas II memperlihatkan bahwa persoalan kendaraan angkutan yang mengalami kerusakan masih menjadi tantangan di jalur strategis Kalimantan Barat.
Selain memperlambat perjalanan masyarakat, antrean panjang juga berdampak pada distribusi barang dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada kelancaran arus lalu lintas di Jalan Trans Kalimantan.*
Editor : Uray Ronald