Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Sejarah Monumen Ali Anyang di Kubu Raya dan Alasan Dibangun di Pertigaan Trans Kalimantan

Silvina • Rabu, 15 Juli 2026 | 14:56 WIB
Bundaran Tugu Mayor Alianyang di Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya kini berubah menjadi ruang terbuka publik
Bundaran Tugu Mayor Alianyang di Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya kini berubah menjadi ruang terbuka publik (DOK PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Bagi masyarakat yang melintas di Simpang Tiga Jalan Trans Borneo Kilometer 5, Kabupaten Kubu Raya, tentu tidak asing dengan berdirinya monumen seorang pejuang yang gagah mengenakan seragam militer. Monumen tersebut merupakan penghormatan kepada Mohammad Ali Anyang, tokoh pejuang intelektual asal Kalimantan Barat yang dikenal gigih mempertahankan kemerdekaan Indonesia

Namun, mengapa sosok Ali Anyang yang dipilih? Dan mengapa monumen itu dibangun tepat di lokasi tersebut?

Berdasarkan informasi dari laman resmi TNI, pembangunan monumen itu memiliki alasan historis yang sangat kuat.

Baca Juga: Menelusuri Sejarah dan Peran Masjid Jami’atus Sholihin, Pusat Dakwah Tertua di Tanjung Saleh

Dibangun untuk Mengabadikan Jasa Pejuang Kalbar

Pembangunan Monumen Pejuang Intelektual Mohammad Ali Anyang mulai dikerjakan pada akhir tahun 2009 oleh prajurit di lingkungan Korem 121/Alambhana Wanawai (Abw).

Pengerjaannya melibatkan personel dari Detasemen Kavaleri 2 Pontianak, Kompi Senapan Batalyon Infanteri 643/Wanara Sakti, serta mendapat asistensi teknis dari Detasemen Zeni Bangunan Pontianak.

Baca Juga: Mengungkap Sejarah Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu

Saat itu, pembangunan ditargetkan selesai pada Desember 2009 agar dapat diresmikan oleh Panglima TNI, Jenderal TNI Djoko Santoso.

Monumen tersebut dibangun bukan sekadar sebagai penanda sejarah, tetapi juga sebagai simbol penghormatan kepada salah satu putra terbaik Kalimantan Barat yang mengabdikan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Mengapa Sosok Ali Anyang yang Dipilih?

Baca Juga: Sejarah Kabupaten Kubu Raya, Dari Kerajaan Kubu hingga Menjadi Kabupaten Termuda di Kalbar

Menurut Korem 121/Abw, terdapat sejumlah alasan kuat mengapa Mohammad Ali Anyang diabadikan dalam sebuah monumen.

Ali Anyang merupakan putra asli Kalimantan Barat yang terlibat langsung dalam perang gerilya melawan pasukan Belanda (NICA) dan sekutunya sejak tahun 1945 hingga 1949.

Ia bergerilya di berbagai wilayah Kalimantan Barat, termasuk kawasan perbatasan Teluk Serebang dan Kampung Sematan di wilayah Malaysia yang berbatasan dengan Dusun Camar Bulan, Desa Tanjung Datok, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas.

Baca Juga: Menyusuri Jejak Perantau Hadramaut Yaman yang Membangun Kerajaan Kubu di Kalbar

Dalam perjuangannya, Ali Anyang dikenal sebagai sosok yang tidak pernah menyerah kepada musuh.

Lebih dari itu, ia berjuang atas kesadaran sendiri tanpa mengharapkan gaji, jabatan pemerintahan, maupun kedudukan di lingkungan kerajaan.

Semangat pengabdian itulah yang kemudian menjadikan namanya dikenang sebagai salah satu pejuang intelektual Kalimantan Barat.

Baca Juga: Mengenal H. Ismail Mundu, Pendiri Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu (bagian 1)

Pahlawan yang Diakui Negara

Perjuangan Mohammad Ali Anyang juga mendapat pengakuan dari pemerintah Indonesia. Presiden Soekarno menganugerahkan Bintang Penegak pada 17 Agustus 1958 sebagai bentuk penghargaan atas kiprahnya dalam perang gerilya.

Selanjutnya, Presiden Soeharto memberikan penghargaan pada 17 Agustus 1967, disusul Bintang Mahaputera Adipradana yang diberikan Presiden B.J. Habibie pada 17 Agustus 1999.

Selain penghargaan tersebut, Ali Anyang juga menerima sekitar 20 Satyalancana atas jasa dan pengabdiannya kepada bangsa.

Baca Juga: Mengenal H. Ismail Mundu, Pendiri Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu (bagian 2)  

Setelah perjuangan bersenjata berakhir, ia tetap mengabdikan diri melalui institusi TNI hingga akhir hayatnya pada April 1970. Salah satu amanah yang pernah diembannya adalah sebagai Ketua DPRD Gotong Royong Kabupaten Sambas dari Fraksi ABRI.

Mengapa Monumen Dibangun di Simpang Tiga Trans Borneo?

Pemilihan lokasi monumen di Simpang Tiga Jalan Trans Borneo Kilometer 5, Kabupaten Kubu Raya, bukan tanpa alasan.

Baca Juga: Permainan Jage Telok Buaya, Warisan Budaya dari Pesisir Teluk Pakedai  yang  Nyaris Hilang

Lokasi tersebut merupakan salah satu pintu gerbang utama menuju Kota Pontianak sekaligus jalur strategis yang menghubungkan berbagai daerah di Kalimantan Barat.

Dengan menempatkan monumen di kawasan yang ramai dilalui masyarakat, nilai perjuangan Mohammad Ali Anyang diharapkan dapat terus dikenang oleh generasi muda.

Keberadaan monumen itu juga menjadi pengingat bahwa Kalimantan Barat memiliki tokoh-tokoh pejuang yang berperan besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Menyusuri Sejarah dan Keunikan Klenteng Tengah Laut Kubu Raya, Satu-Satunya di Dunia

Simbol Pengingat Semangat Patriotisme

Hingga kini, Monumen Mohammad Ali Anyang tidak hanya menjadi penanda kawasan di Kubu Raya, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap keberanian, ketulusan, dan semangat pengabdian seorang putra daerah.

Di tengah pesatnya perkembangan Kalimantan Barat, monumen tersebut menjadi pengingat  kemerdekaan Indonesia diraih melalui perjuangan panjang para pahlawan. Termasuk Mohammad Ali Anyang yang memilih mengabdikan hidupnya untuk bangsa tanpa mengharapkan balas jasa.

 

Editor : Silvina
Monumen Alianyang Kubu Raya Pahlawan Bangsa Tokoh Intelektual Simpang Tiga Trans Borneo