Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Bundaran Gaforaya di Kubu Raya, Ikon Baru yang Ternyata Dibangun Tanpa Satu Rupiah pun Dana APBD

Silvina • Rabu, 15 Juli 2026 | 16:14 WIB
Bundaran Gaforaya di Kubu Raya ini dibangun tanpa dana APBD. Keberadaannya kerap dimanfaatkan untuk berbagai momentum (DOK PONTIANAK POST)
Bundaran Gaforaya di Kubu Raya ini dibangun tanpa dana APBD. Keberadaannya kerap dimanfaatkan untuk berbagai momentum (DOK PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Di pintu masuk Kabupaten Kubu Raya telah berdiri sebuah ikon baru yang mulai menarik perhatian masyarakat, yakni Bundaran Gaforaya Benteng Mangrove. Selain mempercantik wajah kawasan, bundaran ini memiliki cerita menarik karena lahir bukan dari anggaran pemerintah daerah, melainkan dari semangat gotong royong dunia usaha melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR).

Keberadaan Bundaran Gaforaya menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah daerah dan para pelaku usaha dalam membangun ruang publik yang bermanfaat bagi masyarakat.

Nama Gaforaya Berasal dari Kawasan yang Berkembang Pesat

Baca Juga: Sejarah Monumen Ali Anyang di Kubu Raya dan Alasan Dibangun di Pertigaan Trans Kalimantan

Dilansir dari laman resmi Dinas Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Kubu Raya  dan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya nama Gaforaya bukan dipilih secara kebetulan.

Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menjelaskan nama tersebut merupakan akronim yang merujuk pada kawasan yang berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan bisnis di wilayah Sungai Raya. Penamaan itu menjadi bentuk penghormatan terhadap pelaku-pelaku usaha yang berkontribusi dalam pembangunan kawasan tersebut.

Namun, lebih dari sekadar nama, Gaforaya kini menjadi identitas baru yang melekat pada salah satu simpul strategis di Kubu Raya.

Baca Juga: Sejarah Kabupaten Kubu Raya, Dari Kerajaan Kubu hingga Menjadi Kabupaten Termuda di Kalbar

Kawasan ini diharapkan berkembang menjadi wajah modern kabupaten sekaligus pintu gerbang bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Kalimantan Barat.

Dibangun dari Dana CSR, Bukan APBD

Hal yang paling menarik dari pembangunan Bundaran Gaforaya adalah sumber pendanaannya.

Baca Juga: Sejarah Kabupaten Kubu Raya, Dari Kerajaan Kubu hingga Menjadi Kabupaten Termuda di Kalbar

Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menegaskan bahwa pembangunan bundaran beserta kawasan penataannya tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Seluruh pembiayaan berasal dari kontribusi para pelaku usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.

Model pembangunan ini dinilai menjadi contoh kolaborasi yang berhasil antara pemerintah dengan dunia usaha, di mana pembangunan fasilitas publik dapat diwujudkan tanpa membebani keuangan daerah.

Baca Juga: Wisata Tebiar Kubu Raya, Bekas Tempat Liburan Favorit yang Kini Menyisakan Kisah Tragis

Bahkan, saat peresmian Bundaran Tugu Gaforaya Benteng Mangrove pada malam pergantian tahun 2025, Bupati Kubu Raya menyampaikan tidak ada satu rupiah pun dana APBD yang digunakan dalam proyek tersebut.

Simbol Gotong Royong Membangun Daerah

Pembangunan Bundaran Gaforaya dimulai pada September 2025 dengan melibatkan puluhan pelaku usaha yang secara sukarela memberikan dukungan pendanaan.

Baca Juga: Menyusuri Sejarah dan Keunikan Klenteng Tengah Laut Kubu Raya, Satu-Satunya di Dunia

Menurut Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, nilai terbesar dari proyek tersebut bukan semata besarnya anggaran yang dihimpun, melainkan semangat kebersamaan yang berhasil dibangun.

Kolaborasi itu menunjukkan pembangunan daerah tidak selalu bergantung pada anggaran pemerintah, tetapi juga dapat diwujudkan melalui partisipasi aktif dunia usaha yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Semangat gotong royong inilah yang kemudian menjadi filosofi utama lahirnya Bundaran Gaforaya.

Baca Juga: Mengenal H. Ismail Mundu, Pendiri Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu (bagian 1)

Benteng Mangrove Menjadi Ikon Baru

Untuk memperkuat identitas daerah, kawasan bundaran juga dilengkapi dengan Tugu Benteng Mangrove yang menjadi elemen utama desainnya.

Pemilihan bentuk mangrove bukan tanpa alasan.Mangrove merupakan salah satu kekayaan alam yang menjadi ciri khas wilayah pesisir Kubu Raya. Selain berfungsi melindungi garis pantai, hutan mangrove juga menjadi bagian penting dari ekosistem dan kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Mengenal H. Ismail Mundu, Pendiri Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu (bagian 2)  

Karena itu, kehadiran tugu tersebut tidak hanya mempercantik kawasan, tetapi juga menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan dan identitas Kabupaten Kubu Raya.

Menjadi Landmark Baru Kubu Raya

Keberadaan Bundaran Gaforaya kini tidak hanya berfungsi sebagai pengatur lalu lintas.Lebih dari itu, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi landmark baru Kabupaten Kubu Raya sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi yang terus berkembang.

Baca Juga: Mengungkap Sejarah Masjid Batu Teluk Pakedai yang Dibangun Tanpa Kayu

Dengan lokasinya yang strategis, Bundaran Gaforaya diharapkan mampu menjadi wajah baru Kubu Raya, memperkuat citra daerah, serta menjadi ruang publik yang membanggakan masyarakat.

Yang paling menarik, di balik megahnya bundaran tersebut tersimpan sebuah pesan penting: pembangunan dapat diwujudkan melalui kolaborasi, kepercayaan, dan semangat gotong royong, tanpa harus bergantung pada pembiayaan dari APBD.

Editor : Silvina
ikon baru kubu raya Bundaran Gaforaya CSR perusahaan dana apbd kubu raya