PONTIANAK POST – Kualitas udara di Kabupaten Kubu Raya memburuk hingga masuk kategori tidak sehat pada Minggu (20/7) malam. Berdasarkan pemantauan pukul 22.00 WIB, Air Quality Index (AQI) US mencapai 169 dengan polutan utama berupa partikel halus PM2.5 berkonsentrasi 80,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Kondisi tersebut menunjukkan udara mulai berisiko mengganggu kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan. Di saat bersamaan, petugas gabungan masih berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya.
Meski demikian, belum ada keterangan resmi dari BMKG maupun instansi lingkungan hidup yang menyatakan penurunan kualitas udara tersebut secara langsung dipicu kebakaran di Rasau Jaya Umum. Hubungan keduanya masih memerlukan analisis terhadap arah angin, kondisi atmosfer, dan sumber polutan lainnya.
PM2.5 Dapat Menembus Hingga Paru-paru
PM2.5 merupakan partikel debu berukuran sekitar 30 kali lebih kecil dibanding diameter rambut manusia. Ukurannya yang sangat halus membuat partikel ini mampu masuk jauh ke saluran pernapasan hingga mencapai alveoli paru-paru, bahkan memasuki aliran darah apabila paparan terjadi secara terus-menerus.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut paparan PM2.5 dalam jangka pendek dapat memicu iritasi saluran pernapasan, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma. Dalam jangka panjang, paparan partikel ini meningkatkan risiko penyakit paru kronis, penyakit jantung, stroke, hingga kematian dini.
Dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 80,9 µg/m³, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan, khususnya kelompok rentan.
Warga Disarankan Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Pada kategori AQI 151–200 (Tidak Sehat), kelompok sensitif berpotensi mengalami gangguan kesehatan lebih cepat. Bahkan masyarakat umum juga dapat mulai merasakan dampaknya apabila beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus seperti KN95 atau N95, serta menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan membatasi masuknya udara luar apabila kondisi terus memburuk.
Pemadaman Karhutla Terkendala Gambut dan Minim Air
Sementara kualitas udara menurun, Tim Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Kubu Raya masih berupaya memadamkan kebakaran di Desa Rasau Jaya Umum. Titik api berada di lahan gambut di perbatasan Desa Rasau Jaya Umum dan Desa Kuala Dua.
Kepala Regu Brigade Dalkarhutla KPH Wilayah Kubu Raya, Florensius Loren, mengatakan karakteristik gambut membuat api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga merambat hingga ke bawah tanah.
"Proses pemadaman cukup sulit karena lahan didominasi gambut. Kami terus berupaya agar api tidak meluas ke wilayah lain," ujarnya, Senin (20/7).
Menurut Florensius, petugas juga menghadapi keterbatasan sumber air yang lokasinya cukup jauh dari titik kebakaran. Selain itu, panjang selang pemadam belum mampu menjangkau seluruh area yang terbakar.
"Kendala di lapangan saat ini adalah sumber air yang cukup jauh sehingga menguras tenaga personel. Selain itu, jumlah selang hantar yang kami miliki masih terbatas sehingga belum mampu menjangkau titik api yang berada di bagian ujung," katanya.
Ia menambahkan, tingginya intensitas operasi pemadaman membuat mesin pompa bekerja hampir tanpa henti sehingga performanya mulai menurun.
Asap Gambut Bisa Bertahan Lama
Florensius menjelaskan kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibanding lahan mineral. Api dapat terus membara di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan umumnya baru benar-benar padam setelah turun hujan dengan intensitas tinggi.
Kondisi tersebut membuat asap berpotensi bertahan lebih lama di atmosfer dan mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi kebakaran.
Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi yang mengaitkan kualitas udara Kubu Raya yang mencapai AQI 169 dengan kebakaran di Rasau Jaya Umum. Faktor meteorologi, arah angin, dan akumulasi polutan lokal masih perlu dikaji lebih lanjut.
Imbauan Tidak Membakar Lahan
Florensius mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar selama musim kemarau. Menurutnya, kebakaran di lahan gambut jauh lebih sulit dikendalikan karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah.
"Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena api dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah. Berbeda dengan lahan mineral yang lebih mudah ditangani," tegasnya.
Ia berharap upaya pemadaman bersama berbagai instansi dan relawan segera mengendalikan kebakaran sehingga dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas warga dapat diminimalkan. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro