BPBD Kubu Raya Periksa Kesehatan Petugas Karhutla, Pastikan Kondisi Personel Tetap Fit

Uray Ronald • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 22:26 WIB
Personel Damkar BPBD Kabupaten Kubu Raya menjalani skrining sekaligus konsultasi kesehatan dengan tenaga kesehatan Puskesmas Sungai Durian di Kantor BPBD Kubu Raya, Kalbar, Jumat (14/8/2026). (ANTARA/Jessica)
Personel Damkar BPBD Kabupaten Kubu Raya menjalani skrining sekaligus konsultasi kesehatan dengan tenaga kesehatan Puskesmas Sungai Durian di Kantor BPBD Kubu Raya, Kalbar, Jumat (14/8/2026). (ANTARA/Jessica)

 

PONTIANAK POST – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kubu Raya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat memeriksa kesehatan petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi fisik personel tetap fit setelah berbulan-bulan menangani karhutla.

Sebanyak 33 dari total 46 personel BPBD Kubu Raya mengikuti pemeriksaan kesehatan di Kantor BPBD Kubu Raya, Jumat (14/8). Para petugas tersebut selama beberapa waktu terakhir terlibat dalam penanganan karhutla di wilayah setempat.

Baca Juga: 296 Hotspot Terdeteksi di Kubu Raya, Sungai Raya Jadi Wilayah Karhutla Paling Banyak Terdampak Tahun

Petugas Alami Kelelahan

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kubu Raya, Asfiansyah, mengatakan pemeriksaan kesehatan penting untuk mengetahui kondisi setiap petugas sebelum diterjunkan ke lapangan.

"Kami sangat berterima kasih dengan adanya pemeriksaan kesehatan. Di situ kita bisa tahu kawan-kawan mana yang betul-betul fit atau memang ada yang sakit, sehingga bisa meminimalisir petugas yang sakit turun ke lapangan," kata Asfiansyah di Sungai Raya.

Menurut dia, penanganan karhutla sejak Juli hingga Agustus membuat petugas harus bekerja dalam durasi panjang. Kondisi semakin berat karena titik api kerap kembali muncul setelah sebelumnya dinyatakan padam.

"Yang pasti yang dialami kawan-kawan pemadaman ini adalah capek, emosi tinggi, kelelahan. Di saat kawan-kawan merasa sudah padam, tiba-tiba muncul lagi di titik lain. Akhirnya emosi kawan-kawan akan lebih tinggi," katanya.

Asfiansyah mengatakan kondisi fisik dan psikologis petugas menjadi perhatian karena pemadaman karhutla membutuhkan tenaga besar dan dapat dilakukan berulang kali ketika titik api kembali muncul.

“Percuma kalau kami dalam keadaan sakit. Kerja tidak akan maksimal,” ujarnya.

Baca Juga: Kantor Daops Brigade Karla Kubu Raya Resmi Dioperasikan untuk Perkuat Pengendalian Karhutla

BPBD Gandeng Relawan

Untuk mengurangi beban personel, BPBD Kubu Raya menggandeng berbagai unsur, termasuk Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pemadam kebakaran swasta. Personel dibagi untuk menangani sejumlah lokasi kebakaran agar beban pemadaman tidak hanya ditanggung BPBD.

“Kami BPBD tidak akan mampu jika bergerak sendiri. Makanya kami berkolaborasi dengan relawan, seperti MPA dan damkar swasta. Kami berbagi titik,” katanya.

BPBD Kubu Raya saat ini memiliki 46 personel setelah satu pegawai pensiun pada awal Agustus dan seorang lainnya meninggal dunia pada Juli.

Asfiansyah mengatakan tidak seluruh personel dapat diterjunkan untuk pemadaman karena sebagian harus menangani logistik dan tugas lainnya.

Minta Dukungan Kesehatan dan Administrasi

Selain pemeriksaan kesehatan, Asfiansyah berharap dukungan pelayanan kesehatan bagi petugas diperkuat melalui penyediaan vitamin dan masker, baik untuk personel pemadam maupun masyarakat yang terdampak asap karhutla.

Dia juga berharap ada kebijakan khusus terkait administrasi kepegawaian, terutama presensi bagi petugas yang bekerja di lapangan hingga di luar jam kerja.

“Di saat kita mau harus absen, kawan-kawan di lapangan kadang lupa. Kami berharap ada kolaborasi dengan BKPSDM (Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia), mungkin dengan kebijakan pimpinan berbicara antar-pimpinan,” katanya.

Baca Juga: Kronologi Lengkap Warga Rasau Jaya di Kubu Raya Meninggal Saat Ikut Membantu Penanganan Karhutla

Dukungan Anggaran Dinilai Penting

Asfiansyah juga menilai dukungan anggaran perlu diperkuat karena penanganan karhutla berlangsung tidak menentu. Kebakaran dapat kembali terjadi setelah operasi pemadaman selesai.

Selama ini BPBD mendapat dukungan melalui alokasi belanja tidak terduga (BTT). Namun, kebutuhan penanganan bencana dapat melampaui perencanaan karena waktu dan intensitas kejadian sulit diprediksi.

“Di saat bencana selesai hari ini, ternyata besok lagi ada. Yang seharusnya kawan-kawan sudah pulang, kalau dibandingkan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) lain jam empat sudah pulang, tetapi kawan-kawan belum pulang,” katanya.

Asfiansyah berharap dukungan layanan kesehatan, anggaran, dan kebijakan bagi petugas lapangan terus diperkuat agar penanganan karhutla berjalan optimal dengan tetap memperhatikan keselamatan dan kondisi personel.

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
Karhutla Kubu Raya BPBD Kubu Raya kesehatan petugas karhutla petugas pemadam karhutla pemeriksaan kesehatan petugas