PONTIANAK POST – Sebanyak 33 petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kubu Raya menjalani pemeriksaan kesehatan setelah berbulan-bulan terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemeriksaan dilakukan BPBD bersama Dinas Kesehatan Kubu Raya untuk memastikan personel yang turun ke lapangan berada dalam kondisi fisik yang memadai.
Para petugas tersebut merupakan bagian dari 46 personel BPBD Kubu Raya. Mereka menghadapi kebakaran yang berlangsung sejak Juli hingga Agustus 2026, dengan titik api yang beberapa kali kembali muncul setelah dinyatakan padam.
Petugas Mengaku Lelah dan Tertekan
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kubu Raya Asfiansyah mengatakan pemeriksaan kesehatan membantu petugas mengetahui kondisi fisik masing-masing sebelum kembali diterjunkan.
“Kami sangat berterima kasih dengan adanya pemeriksaan kesehatan. Di situ kita bisa tahu kawan-kawan mana yang betul-betul fit atau memang ada yang sakit,” kata Asfiansyah di Sungai Raya, Jumat.
Menurut dia, petugas menghadapi kelelahan fisik dan tekanan psikologis setelah berulang kali melakukan pemadaman.
“Yang pasti yang dialami kawan-kawan pemadaman ini adalah capek, emosi tinggi, kelelahan. Di saat kawan-kawan merasa sudah padam, tiba-tiba muncul lagi di titik lain,” ujarnya.
Situasi tersebut membuat petugas harus kembali bekerja ketika api muncul di lokasi lain. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi personel yang telah bekerja dalam durasi panjang.
BPBD: Petugas Harus Fit Sebelum Turun ke Lapangan
Asfiansyah menilai kondisi fisik menjadi faktor penting dalam pemadaman karhutla. Pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga besar dan dapat dilakukan berulang kali ketika api kembali muncul.
“Percuma kalau kami dalam keadaan sakit. Kerja tidak akan maksimal,” katanya.
Karena itu, ia berharap dukungan kesehatan bagi petugas diperkuat. Dukungan tersebut antara lain berupa vitamin dan masker untuk personel pemadam serta masyarakat yang terdampak asap.
Pemeriksaan kesehatan juga menjadi bagian dari upaya mencegah petugas yang sedang sakit atau tidak fit ikut dalam operasi pemadaman.
46 Personel, Tidak Semuanya Bisa ke Lapangan
BPBD Kubu Raya saat ini memiliki 46 personel. Jumlah tersebut berkurang setelah seorang pegawai pensiun pada awal Agustus dan seorang lainnya meninggal dunia pada Juli.
Namun, tidak seluruh personel dapat diterjunkan dalam operasi pemadaman. Sebagian harus menjalankan tugas logistik dan fungsi pendukung lainnya.
Untuk mengurangi beban, BPBD menggandeng Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pemadam kebakaran swasta.
“Kami BPBD tidak akan mampu jika bergerak sendiri. Makanya kami berkolaborasi dengan relawan, seperti MPA dan damkar swasta. Kami berbagi titik,” kata Asfiansyah.
Pembagian tugas tersebut dilakukan agar penanganan kebakaran di sejumlah lokasi tidak sepenuhnya bergantung pada personel BPBD.
Petugas Juga Butuh Dukungan Administrasi
Beban kerja petugas lapangan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Asfiansyah juga berharap ada kebijakan khusus mengenai administrasi kepegawaian, terutama presensi bagi petugas yang bekerja hingga di luar jam kerja.
Menurut dia, petugas yang sedang melakukan pemadaman terkadang tidak sempat melakukan presensi sesuai ketentuan.
Ia berharap BPBD dapat berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) untuk mencari mekanisme yang sesuai dengan kondisi petugas lapangan.
Anggaran Penanganan Karhutla Juga Jadi Tantangan
Asfiansyah mengatakan dukungan anggaran juga perlu diperkuat. Penanganan karhutla sulit diprediksi karena kebakaran dapat kembali terjadi setelah operasi pemadaman dinyatakan selesai.
Selama ini, dukungan penanganan bencana antara lain berasal dari belanja tidak terduga (BTT). Namun, kebutuhan di lapangan dapat berubah sesuai durasi dan intensitas kebakaran.
“Di saat bencana selesai hari ini, ternyata besok lagi ada. Yang seharusnya kawan-kawan sudah pulang, kalau dibandingkan OPD lain jam empat sudah pulang, tetapi kawan-kawan belum pulang,” ujarnya.
Menhut Sebut Petugas Karhutla sebagai Pahlawan Lapangan
Perjuangan petugas pemadam karhutla juga mendapat perhatian Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Ia menyebut para petugas yang masih berjibaku memadamkan api sebagai pahlawan di lapangan.
Pernyataan itu disampaikan Raja Juli dalam penyerahan penghargaan Wana Lestari 2026 kepada pahlawan hutan di Gedung Kementerian Kehutanan, Jakarta.
“Masih banyak pahlawan-pahlawan lain, para heroes lain di luar sana, terutama sekarang yang sedang berjibaku melawan karhutla,” ujar Raja Juli.
Ia mengajak masyarakat mendoakan para petugas agar operasi pemadaman berjalan lancar dan tidak menimbulkan banyak korban.
Kalbar Jadi Salah Satu Wilayah Perhatian
Kementerian Kehutanan menyebut kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau, dan Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur.
Kemenhut juga berkoordinasi dengan BMKG untuk mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Data pertumbuhan awan digunakan untuk menentukan waktu dan wilayah yang berpotensi mendukung pelaksanaan operasi tersebut.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi perhatian karena peningkatan titik panas dan sebaran asap.
Berdasarkan laporan BMKG per 12 Agustus 2026, peluang pertumbuhan awan sedang hingga tinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah pada 13–16 Agustus.
Pada periode tersebut, titik panas di Kalimantan Barat meningkat dari 98 menjadi 136 titik. Di Kalimantan Tengah, titik panas meningkat dari 29 menjadi 78 titik, sedangkan Kalimantan Selatan dari 10 menjadi 31 titik.
Keselamatan Petugas Tak Boleh Terabaikan
Bagi petugas BPBD Kubu Raya, pemadaman api bukan hanya persoalan mengejar titik kebakaran. Mereka juga harus menjaga kondisi tubuh agar tetap mampu bekerja ketika kebakaran kembali muncul.
Pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu bentuk perlindungan terhadap personel yang berada di garis depan penanganan karhutla.
Di tengah kebakaran yang berlangsung berulang, kebutuhan petugas tidak berhenti pada peralatan pemadaman. Dukungan kesehatan, perlindungan kerja, pengaturan personel, administrasi, dan anggaran menjadi bagian penting agar mereka dapat menjalankan tugas tanpa mengorbankan keselamatan diri.
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan petugas di lapangan. Kasus ISPA di Kabupaten Kubu Raya mencapai 2.119 kasus hingga 10 Agustus 2026, meningkat sekitar 30 persen seiring memburuknya kondisi kabut asap akibat karhutla.
Data tersebut memperkuat kebutuhan perlindungan kesehatan bagi petugas maupun masyarakat yang berada di wilayah terdampak. Pemeriksaan kesehatan, penggunaan masker, serta penguatan layanan kesehatan menjadi penting selama aktivitas pemadaman dan paparan asap masih berlangsung.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro