PONTIANAK POST - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kubu Raya mencatat 6.396 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sejak awal Agustus hingga 31 Agustus di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Rata-rata per hari mencapai 206 kasus. Khusus 31 Agustus sebanyak 390 kasus.
Kondisi tersebut membuat Dinkes Kubu Raya meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker, terutama saat beraktivitas di luar rumah.
Kepala Dinkes Kubu Raya Wan Iwansyah mengatakan, berdasarkan pemantauan kualitas udara menggunakan indikator partikulat PM2,5 dan PM10, kondisi udara saat ini berada pada level yang sangat berbahaya dan tidak sehat bagi masyarakat.
Baca Juga: Pameran Ekraf Sintang Diundur ke 7 September, Pelaksanaan Masih Tunggu Kabut Asap Mereda
“Untuk udara, yang pasti sangat berbahaya dan sangat tidak sehat. Kita menggunakan indikator PM2,5 dan PM10. Semuanya itu sudah di angka yang sangat berbahaya untuk kesehatan masyarakat,” kata Wan Iwansyah kepada Pontianak Post, Senin (31/8), di Sungai Raya.
Meski jumlah kasus ISPA mencapai 6.006 kasus selama periode pemantauan Agustus, Wan mengatakan perkembangan kasus dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tren penurunan. Namun, kondisi tersebut belum membuat Dinkes mengurangi kewaspadaan.
Menurut dia, memburuknya kualitas udara dan masih meningkatnya aktivitas karhutla berpotensi memicu kembali kenaikan kasus ISPA. Paparan asap juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya penyakit yang berkaitan dengan saluran pernapasan.
“Untuk kasus ISPA memang kita tidak ada yang naik sekarang, ada penurunan. Tapi kita tetap waspada karena kondisi karhutla juga semakin meningkat. Kita tidak tahu beberapa hari ke depan,” ujarnya.
Baca Juga: Kabut Asap Memburuk, Wali Kota Cek Kesiapan RS Pontianak Antisipasi Lonjakan Kasus ISPA
Wan menjelaskan, Dinkes Kubu Raya memantau kasus ISPA setiap hari melalui sistem pelaporan e-Puskesmas. Sistem tersebut terintegrasi dengan pencatatan rekam medis elektronik sehingga perkembangan kasus di fasilitas pelayanan kesehatan dapat dipantau dan datanya ditarik secara berkala.
Pemantauan dilakukan secara intensif sejak 1 Agustus. Data diperbarui setiap hari untuk melihat perkembangan kasus serta kecenderungan peningkatan maupun penurunan kasus di tengah kondisi lingkungan yang terdampak kabut asap.
“Yang sampai saat ini masih terjadi tren menurun. Ada tinggi, terus dalam beberapa hari belakangan ada penurunan,” jelasnya.
Meski tren harian menunjukkan penurunan, Dinkes tetap mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus apabila kabut asap bertahan dan kualitas udara semakin memburuk dalam beberapa hari ke depan.
Karena itu, masyarakat diminta tidak lengah. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah diimbau menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel pencemar udara.
Wan juga memberikan panduan penggunaan masker. Untuk masker bedah, masyarakat disarankan menggunakan dua lapis. Sedangkan masker respirator jenis N95 atau KN95 cukup digunakan satu lapis dengan pemakaian yang tepat.
Baca Juga: Kemarau Panjang di Kayong Utara, TNI Gencarkan Edukasi Cegah Karhutla dan Warga Hadapi Krisis Air
“Dengan kondisi udara yang sangat berbahaya ini, harus menggunakan masker. Kalau maskernya masker bedah, sarannya dua lapis. Kalau masker N95 atau KN95 cukup satu lapis,” katanya.(ash)
Editor : Miftakhair