Deny Hamdani, Kubu Raya
KENDARAAN roda dua dan roda empat lalu lalang melewati gerobak Bang Umar. Ada saja konsumen yang berhenti, memesan atau sekadar merasakan kue pancong buatan pria bertubuh ramping ini. Dengan cekatan, dia pun mengaduk adonan kue, menuangkan ke cetakan dan memasaknya.
Tak butuh waktu lama, hanya 10 menit kue tersebut sudah jadi dalam loyang cetakan kecilnya. "Iya, pagi ini sudah ada yang beli. Bahkan tadi ada yang sudah pesan Rp20 ribu. Alhamdulillah. Saya jual juga tidak mahal. Hanya Rp600 per biji," katanya kepada awak media ini yang menyambanginya di pagi itu.
Gerobak yang dijadikan lapak jualannya itu merupakan pemberian pemerintah. Letak dagangan Umar memang cukup strategis. Selain berada di pinggir Jalan Adisucipto, sekitar 50 meter ke arah kanan (Supadio), ada pasar pagi yang ramai penjual dan pembeli sejak subuh hari. Terkadang warga yang belanja di pasar pagi itu mampir memesan kue dagangannya.
"Mungkin dampak dari keberadaan pasar pagi Kampung Arang, Bang. Ada saja pembeli," ucapnya. Umar bercerita sudah menjual kue pancong selama sekitar 15 tahun. Kenapa kue ini pilihannya? Sebab, bahan adonannya tak terlalu sulit dicari, dan membuatnya pun tidak butuh waktu lama. Jadi, konsumen selalu mendapatkan kue yang baru dan hangat.
Di sisi lain, konsumen juga suka dengan kuenya karena bau khas adonan yang memang dari bahan alami dan bersih. Umar meracik bersama istrinya demi menciptakan sensasi kue pancong berbeda dari kebanyakan. Biasanya hanya dari bahan kelapa dan tepung terigu. Dia justru membuatnya dari bahan coklat, vanila dan campuran rahasia. Kebetulan kuenya memang hanya dua rasa saja. "Rasanya cukup maknyus apabila dicampur kopi pagi hari," kata Hamidah (45), seorang ibu rumah tangga yang ikut antre membeli.
Lantaran rasa kuenya yang berbeda, setiap hari tanpa libur, adonan kuenya selalu habis terjual. Namun, di masa Pagebluk Covid-19 ini, Umar ikut merasakan
dampak. Di hari-hari biasa, ia bisa menghabiskan dua sampai tiga kilogram adonan kue sehari. Kini volumenya jauh berkurang. Satu kilogram sampai 1,5 kilogram adonan saja sudah untung. Otak Umar berpikir keras bagaimana agar dagangannya tetap laku. "Asap di dapur harus mengepul.Saya dibuat berpikir keras," ujarnya
Dia pun menyiasati dengan memperbesar ukuran dan mengubah harganya." Sebelum Covid-19 mendera, hanya kuenya Rp500 per biji. Hanya sejak Covid-19 berdampak, dinaikkan Rp100 per biji. Itu pun ukurannya diperbesar, dengan tujuan tidak kehilangan pelanggan. Terbukti caranya itu jitu dan dapurnya masih aman mengepul.
Cerita Bang Umar menumpukan sumber penghasilan dan kehidupan anak istrinya dari berjualan kue pancong memang karena keadaan. Dulu sebelum tinggal di Desa Arang Limbung, profesinya adalah buruh pabrik kayu. Masa itu industri perkayuan memang sedang booming dan diminati banyak masyarakat. Barulah sekitar tahun 2000, industri kayu banyak gulung tikar dan melakukan PHK secara besar-besaran. Umar adalah salah satu korban PHK.
Umar sendiri merupakan transmigran asal Cirebon. Dia masuk Kalbar tahun 1977, mengikuti program transmigrasi pemerintah bersama saudara dan saudarinya. Kebetulan keluarganya ada 10 orang yang keluar dari Jawa Barat masuk ke Kalbar. Pertama kali, dia sempat merasakan pekatnya alam Kalimantan karena tinggal di Desa Sungai Bulan. Di sana penerangan belum ada, jalan juga masih berupa hutan belantara.
Berbekal uang tabungan dan PHK, dia mulai membangun rumah tangganya. Umar memutuskan tinggal di Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya dengan membeli "sepetak" tanah untuk keluarga kecilnya. Untuk pendapatan hari-hari, dia pun menyiasati dengan berjualan kue pancong. Kebetulan istrinya cekatan dan piawai dalam membuat aneka kue.
Pertama berjualan, lapaknya sering berpindah tempat. Terkadang berada di daerah BTN Teluk Mulus, bisa juga di wilayah lain. Sayangnya, pendapatan sering tidak seimbang dengan pengeluaran. Penyebabnya karena belum terlalu banyak pembeli atau pelanggan. Namun dia tak putus asa. Berkat mencoba beragam racikan dan menjaga aroma khas kue tetap alami, akhirnya sampai sekarang Bang Umar masih bertahan berjualan di bibir jalan persis di depan Gang Keluarga. Baginya pendapatan dari jualan kue pancong, sudah cukup menghidupi keluarganya.
"Anak-anak sudah besar. Yang tertua umur 25 tahun sudah selesai sekolah dan bekerja. Sementara yang bungsu masih duduk di kelas 3 SMP. Tekad saya, anak-anak harus mengubah hidupnya dengan pendidikan," ujarnya.* Editor : Super_Admin