PONTIANAK POST - Citra terus berinovasi untuk mengembangkan varian produk gluten-free yang dapat diterima oleh pasar. Salah satu tantangan terbesar adalah mencari formula yang pas agar produk tidak keras saat disimpan dalam kulkas.
“Untuk kue misalnya, saya menggunakan tepung jagung untuk membuat teksturnya lebih lembut. Namun, untuk cookies, saya harus memperlakukan tepungnya berbeda,” ujarnya.
Untuk research and development (R&D) misalnya, Citra dibantu putri keduanya. Kata Citra R&D itu tidak boleh mandeg. Harus terus upgrade produk.
“Karena pasti selalu menemukan sesuatu yang baru bila bikin produk yang gluten-free,” ucap dia.
Selain inovasi produk, Citra juga mengembangkan usaha. “Setelah pandemi selesai, saya memutuskan untuk membuka kafe dengan konsep yang lebih fokus pada komunitas. Kami sering mengadakan kegiatan seperti workshop menghias kue, yang mengga bungkan antara produk dan kegiatan sosial,” jelasnya.
Digerainya juga dilengkapi slow tea bar yang digawangi Baskoro A.S. Teh-teh yang diseduhkan tea enthusiast itu dibikin sesuai dengan kudapan yang dipesan oleh konsumen.
Melihat perkembangan yang pesat, Citra percaya bahwa peluang bisnis pastry glutenfree di Indonesia masih sangat terbuka lebar. Meskipun pasar semakin ramai, Citra merasa bahwa untuk sukses, penting untuk terus berinovasi dan menciptakan sesuatu yang berbeda.
“Tidak bisa hanya mengandalkan satu resep atau produk saja. Kita harus terus mencoba dan mencari solusi untuk memberikan produk yang lebih baik,” ujarnya. (*/sha/tia/jp)
Editor : Miftahul Khair