PONTIANAK POST - Kedelai telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama ribuan tahun.
Di Indonesia, biji kecil ini identik dengan tempe dan tahu.
Namun di balik penggunaannya sebagai bahan pangan sehari-hari, kedelai ternyata memiliki perjalanan sejarah panjang dan kandungan gizi yang membuatnya dijuluki sebagai "great legume" atau kacang-kacangan luar biasa.
Baca Juga: Pemerintah Beri Subsidi Kedelai Rp2.000 per Kg, Pengrajin Tempe Diharapkan Tetap Bertahan
Dilansir dari Jawapos, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof. Dr. Apt. Mangestuti Agil, MS, menjelaskan bahwa kedelai bukan sekadar bahan makanan, melainkan tanaman yang memiliki nilai nutrisi sangat tinggi dibandingkan jenis kacang-kacangan lainnya.
Berawal dari Penyubur Tanah
Kedelai liar berasal dari kawasan Tiongkok Timur Laut dan telah dikenal sekitar 3.000 tahun lalu. Pada awalnya, tanaman ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai penyubur tanah.
Diperlukan waktu sekitar seribu tahun hingga manusia memahami bahwa kedelai memiliki potensi besar sebagai sumber pangan.
Seiring perkembangan budidaya, kedelai kemudian menyebar ke berbagai wilayah, mulai dari Tiongkok, Korea, Jepang, Asia Tenggara hingga Eropa.
Tanaman dengan nama ilmiah Glycine max dari suku Papilioaceae ini memiliki tiga tipe utama berdasarkan warna bijinya, yakni hijau, hitam, dan kuning.
Baca Juga: Mulai Hari Lebih Sehat dengan Segelas Susu Kedelai, Ini Manfaatnya!
Dari ketiganya, kedelai kuning menjadi jenis yang paling dikenal luas sebagai bahan pangan.
Dijuluki Great Legume
Menurut Prof. Mangestuti Agil, hingga kini belum ada jenis kacang-kacangan lain yang mampu menandingi potensi kedelai sebagai bahan pangan.
Karena keunggulannya tersebut, kedelai mendapat julukan great legume atau kacang-kacangan yang luar biasa.
Di Tiongkok, kedelai bahkan menempati posisi sentral dalam dunia pangan selama berabad-abad. Sementara di Indonesia, kedelai menjadi bahan baku utama pembuatan tempe dan tahu.
Tempe sendiri memiliki nilai budaya yang tinggi karena telah menjadi nomine cultural heritage UNESCO.
Baca Juga: Tiongkok Borong Kedelai AS, Trump dan Xi Jinping Sepakat Akhiri Ketegangan Dagang
Kandungan Nutrisi yang Sangat Lengkap
Keunggulan utama kedelai terletak pada komposisi gizinya. Kandungan protein mencapai sekitar 40 persen, lemak sekitar 20 persen, serta karbohidrat sekitar 35 persen.
Tidak hanya itu, kedelai juga mengandung protein lengkap atau complete protein, yaitu protein yang tersusun atas sembilan asam amino esensial yang diperlukan tubuh dan harus diperoleh melalui makanan.
Baca Juga: Kedelai Naik 30 Persen, Tempe Tahu Makin Tipis
Selain protein, kedelai juga mengandung berbagai vitamin dan mineral penting, seperti vitamin B, zat besi, kalsium, magnesium, dan serat.
Di dalamnya juga terdapat berbagai senyawa fitoaktif, seperti flavonoid, asam fenolat, isoflavon, serta saponin yang dikenal sebagai sumber antioksidan.
Menjadi Bahan Dasar Berbagai Produk Pangan
Seiring berkembangnya pengetahuan masyarakat, kedelai kemudian diolah menjadi berbagai produk pangan.
Baca Juga: Perajin Kurangi Ukuran Tempe, Kedelai Impor Masih Jadi Tumpuan
Di Indonesia, produk yang paling dikenal adalah tempe dan tahu.
Sementara di berbagai negara Asia, kedelai juga diolah menjadi susu kedelai, kecap, minyak kedelai, hingga berbagai produk fermentasi yang menjadi bagian penting dari budaya kuliner setempat.
Keberagaman olahan tersebut menunjukkan bahwa kedelai tidak hanya kaya nutrisi, tetapi juga memiliki fleksibilitas tinggi sebagai bahan pangan.
Tetap Menjadi Pangan Penting Hingga Kini
Perjalanan kedelai dari tanaman penyubur tanah menjadi salah satu sumber pangan utama dunia menunjukkan betapa besar manfaat tanaman ini bagi kehidupan manusia.
Baca Juga: Kementan Subsidi Biaya Distribusi Kedelai
Dengan kandungan protein lengkap, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa bioaktif, kedelai tetap menjadi salah satu bahan pangan yang memiliki nilai gizi tinggi dan terus dimanfaatkan dalam berbagai bentuk olahan di berbagai negara.
Melalui berbagai penelitian yang terus berkembang, potensi kedelai sebagai sumber pangan bergizi juga semakin dipahami sehingga menjadikannya tetap relevan sebagai bagian dari pola konsumsi masyarakat modern. (*)
Editor : Chairunnisya