Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rangkul Anak Muda, Lestarikan Budaya Dayak Kanayatn

Ari Aprianz • Senin, 17 Februari 2020 | 10:46 WIB
TAMPIL: Anak-anak Sanggar Tanyuk Bunga Desa Dara Itam 1, Kecamatan Jelimpo saat hendak tampil di Festival Naik Dango KE-XXXIII di Ambawang, pertengah April 2018 lalu. ISTIMEWA
TAMPIL: Anak-anak Sanggar Tanyuk Bunga Desa Dara Itam 1, Kecamatan Jelimpo saat hendak tampil di Festival Naik Dango KE-XXXIII di Ambawang, pertengah April 2018 lalu. ISTIMEWA
Menengok Sanggar Tanyuk Bunga Desa Dara Itam 1

Mengamati beragamnya potensi seni dan kebudayaan suku Dayak, Lestari Sandiwanti terdorong untuk mendirikan sanggar seni Tanyuk Bunga di Desa Dara Itam 1, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak. Dua tahun berjalan, semangatnya mempertahankan adat dan budaya Dayak Kanayatn mulai memperlihatkan hasil.

MIFTAHUL KHAIR, Ngabang

ALUNAN musik tradisi Suku Dayak mengiringi gerakan gemulai para penari. Lenggokan gemulai penari itu berpadu ciamik. Ayunan tangan dengan sekali-kali tubuh mereka pun berputar mengikuti alunan petikan sape.

Dengan gerak lincah ke berbagai arah, tak terlihat wajah lelah dari pancaran mata belia itu. Adalah Lestari Sandiwanti, mengamati mereka dari jarak beberapa langkah. Sesekali menegur jika ada gerakan yang salah.

Seorang guru garis depan (GDD) yang bertugas di Desa Dara Itam 1 itu tampak luwes mengajar tari. Tak hanya lincah di ruang kelas, ia juga berusaha menularkan bakat menarinya kepada anak-anak desa setempat. "Kami sedang latihan gerak tari. Biasanya seminggu satu sampai tiga kali latihan. Jika ada event kami biasanya latihan setiap hari," ucapnya.

Pemain musim memperlambat pukulannya. Para penari mengambil posisi hormat. Pamit keluar panggung. Ia pun mengumpulkan anak-anak tersebut untuk memberikan pengarahan.

Kami pun berbincang soal sanggar budaya tersebut. Menurut Lestari, ia dan suami, Muhammad Alli yang mendirikan sanggar tersebut. Tepatnya pada Desember 2017 lalu.

Tak hanya berfokus pada seni tari, sanggarnya juga melestarikan budaya Dayak Kanayatn lain, seperti memahat dan musik tradisional.

"Pembentukan sanggar ini awalnya karena kepedulian kami terhadap pemuda-pemudi Desa Dara Itam 1. Dan kepedulian kami untuk pelestarian seni dan budaya yang ada di lingkungan di sini," ungkapnya yang sehari-hari mengajar di SDN 11 Dusun Sangku.

Tak tanggung-tanggung, sanggar tersebut sudah tampil di berbagai perhelatan budaya di Kabupaten Landak. Acara seperi Naik Dango Sungai Ambawang 2018, acara Festival Binua Landak, acara perusahaan dan acara gawai di kampung, serta natal dan paskah sudah mereka jajal. Anggotanya kini berjumlah sekitar 80 orang.

Demi kebutuhan sanggar, para anggota menyisihkan uang. Selama dua tahun, kegiatan sanggar dapat berjalan secara swadaya.

Menurutnya, keberadaan seni dan budaya sangat penting. Sebab, jika budaya itu tidak dilestarikan lambat laun akan tergerus oleh zaman.

Ia berharap kepada anggota sanggar sebagai generasi penerus agar tidak malu, gengsi bahkan mengacuhkan budaya lokal. Sebab, kaya dia, kebudayaan kita adalah salah satu kekayaan bangsa ini. Dan, sudah menjadi tuga generasi penerus untuj tetap mempertahankan budaya.

Sanggar budaya juga ikut punya andil untuk mencetak generasi muda yang percaya diri. Selain harus mampu menghadapi perkembangan zaman,  tanpa menghilangkan budaya lokal itu sendiri.

Terpenting lagi, sebut dia, mereka bisa mencintai ragam kebudayaan daerah dari seluruh provinsi Indonesia, salah satunya tari tradisi suku Dayak Kalimantan Barat.

"Kemudian harapan kami yang paling penting adalah kepedulian masyarakat terhadap budaya ini, tdk mencampur adukkan kebudayaan Dayak Kanayatn dengan budaya luar," sebutnya. (*) Editor : Ari Aprianz
#Kecamatan Jelimpo #Sanggar Tanyuk Bunga Desa #NGABANG #GDD