Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ritual Balala’ Masyarakat Adat Dayak Kanayatn Digelar

Ari Aprianz • Selasa, 24 Maret 2020 | 09:52 WIB
DOA: Tetua adat memanjatkan doa dalam ritual adat tolak bala di rumah radakng Aya’ Ngabang, Minggu (22/3). MIFTAH/PONTIANAKPOST
DOA: Tetua adat memanjatkan doa dalam ritual adat tolak bala di rumah radakng Aya’ Ngabang, Minggu (22/3). MIFTAH/PONTIANAKPOST
Social Distancing Tangkal Covid-19 dengan Kearifan Lokal

Sebagian warga Kabupaten Landak, Kalimantan Barat di 13 kecamatan memiliki cara sendiri mencegah penyebaran virus covid-19. Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Landak memilih pendekatan budaya yang sudah mengakar sejak ratusan tahun. Ritual Adat Balala’ Tamakng atau Bapantakng.

MIFTAHUL KHAIR, Ngabang

TETUA adat memanjatkan doa. Dikelilingi timanggong dari sejumlah binua. Didepannya tertata rapi sesajen. Dan perlengkapan adat. Prosesi berjalan khidmat.

Ritual adat di rumah radakng Aya’ Ngabang, Minggu (22/3) sore itu ialah tolak bala. Doa dipanjatkan kepada Jubata untuk menghindarkan Landak dari mara bahaya. Prosesi Adat Tolak Bala yang digelar masyarakat adat tersebut merupakan rangkaian kegiatan sebelum dilakukan prosesi berpantang massal, Balala’ mulai Minggu tengah malam, hingga Senin (23/2) petang.

Apa itu Balala’ atau Bapantakng? Itu merupakan salah satu bagian dari tatanan adat budaya Dayak, sub suku Dayak Kanayatn. Balala’ bisa berarti berpantang, baik dalam hal perbuatan dan pekerjaan. Selain itu, makan dan minum tetap diperbolehkan di dalam rumah masing-masing.

Meski begitu, kata dia terdapat pengecualian bagi para tenaga medis di Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Landak dan Kepolisian serta TNI. Mereka dapat menjalankan aktivitas pelayanan publik seperti biasa.

Begitu juga dengan warga dari luar Kabupaten Landak yang hendak melintas. Masyarakat dapat leluasa melintas di daerah Kabupaten Landak. Dengan catatan warga tidak dapat singgah di desa yang sedang menjalankan ritual adat tersebut, terkecuali dalam kedaan darurat.

"Adat ini bertujuan untuk memanjatkan doa Tolak Bala' memohon kepada Jubata atau Sang Maha Pencipta agar dijauhkan dari wabah, petaka, bencana dan bahaya lainnya. Dalam hal ini kita berharap dijauhkan dari covid-19," kata ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Landak, Heri Saman usai pelaksanaan ritual adat Tolak Bala di rumah radakng Aya’ Ngabang, Minggu (22/3).

Dengan merebaknya wabah Corona ini, kata Heri. DAD hingga tingkat kecamatan dan Timanggong Binua di tiap desa di Kabupaten Landak, berinisiatif untuk menggunakan kearifal lokal dalam menangkal masuknya wabah corona ke Kabupaten Landak.

Ritual adat tersebut, menurut Heri juga sesuai dengan anjuran pemerintah yang meminta masyarakat untuk tetap berada di rumah. Ia mengibaratkan, ritual adat tersebut ialah social distancing dengan kearifan lokal. Bukan hanya menjalankan adat saja, tapi terdapat substansi yang bisa dijalankan untuk mencegah merebaknya covid-19.

“Pada hari itu, kampung kita ini dibersihkan oleh jubata dari segala jenis penyakit. Bukan hanya suku dayak, tapi semua suku etnis dan agama yang ada, kita minta perlindungan kepada Tuhan yang maha kuasa,” tambah Heri.

Ia menceritakan, cara menangkal bahaya ini sudah dilaksanakan secara turun temurun. Ratusan tahun yang lalu, diriwayatkan telah terjadi sebuah wabah penyakit. Jatuh korban secara berturut-turut. Masyarakat pun menggunakan ritual adat Balala’ atau Bapantakng.

“Puji tuhan, wabah itu bisa teratasi. Mudah-mudahan kali ini juga mendapat pengabulan dari tuhan yang maha kuasa,” harapnya.

Ditanya apakah hukum adat tersebut juga berlaku pada suku atau etnis lain, ia mengatakan hal tersebut merupakan kesepakatan bersama masyarakat di tiap binua. Karena menurutnya, doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk mendoakan masyarakat dayak saja, tetapi semua etnis yang tinggal di wilayah binua setempat itu, tanpa terkecuali.

Menurutnya, masyarakat setempat sudah paham mengenai ritual adat tersebut. “Jadi itu berlaku untuk seluruhnya,” kata dia.

Ia mengharapkan seluruh masyarakat dapat ikut menghargai adat istiadat yang dijalankan tersebut. “Mudah-mudahan semua masayrakat yang ada di Kabupaten Landak ini bisa menghargai adat istiadat ini, sehingga tujuan dari adat Balala’ ini bisa tercapai,” ucapnya. (*) Editor : Ari Aprianz
#covid-19 #ritual