Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Luncurkan Program CABI, Landak Jadi Percontohan Budidaya Babi di Kalbar

Syahriani Siregar • Sabtu, 4 Mei 2024 | 18:08 WIB

Pj Bupati Landak Samuel membuka kegiatan peluncuran program CABI di aula DPPKP Kabupaten Landak pada Kamis (2/5).
Pj Bupati Landak Samuel membuka kegiatan peluncuran program CABI di aula DPPKP Kabupaten Landak pada Kamis (2/5).
NGABANG – Pj Bupati Landak Samuel membuka kegiatan Peluncuran Program Community ASF Biosecurity Intervention (CABI) di Wilayah Percontohan Provinsi Kalimantan Barat di Aula Dinas Pertanian Perikanan dan ketahanan pangan (DPPKP) Kabupaten Landak pada Kamis (2/5).

Samuel menyebutkan bahwa peternakan babi di wilayah Kabupaten Landak didominasi oleh peternak babi skala mikro-kecil atau peternak rakyat.

Oleh karena itu Landak menjadi salah satu Kabupaten dengan populasi ternak babi paling tinggi di Kalimantan Barat.

Namun, lanjut Samuel, terjadinya wabah penyakit African Swine Fever (ASF) yang melanda Kabupaten Landak dan hampir seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Barat pada tahun 2021 hingga tahun 2022 yang lalu telah menyebabkan kematian sebagian besar ternak babi masyarakat.

“Akibatnya peternak mengalami kerugian yang sangat besar dan berdampak pada perununan populasi ternak babi di Kabupaten Landak sehingga menyebabkan harga daging babi melambung tinggi dan menjadi dalah satu penyumbang peningkatan angka inflasi di Kalimantan Barat pada tahun 2022 yang lalu,” terang Samuel di Ngabang.

Samuel menjelaskan salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan praktik biosekuriti.

Untuk itu, Kementerian Pertanian RI bekerja sama dengan FAO Indonesia menggagas program CABI dan mengimplementasikannya dengan melaksanakan praktik biosekuriti kepada peternak.

“Program CABI ini bertujuan agarpeternak dapat memahami prinsip penerapan budidaya babi yang baik serta mampu memahami definisi, prinsip, dan elemen biosekurity,” jelas Samuel.

Dia berpesan kepada para peternak untuk dapat memahami resiko kerugian dan cara penularan penyakit ASF pada babi melalui program ini.

Program CABI juga memberikan bantuan peralatan kandang bagi peternak mikro-kecil sebagai penunjang praktik biosekuriti dan cara budidaya yang baik dalam peternakan babi.

Pelaksanaan biosekuriti di peternakan mengacu kepada Peraturan Pemerintah (PP) No. 47 Tahun 14 tentang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan dan Kepmentan No 6 Tahun 2021 tentang Good Farming Practices (GFP) atau cara budidaya yang baik dalam peternakan, termasuk budidaya babi.

Samuel berharap kegiatan ini dapat diikuti dengan baik oleh peternak sehingga dapat memahami dan menerapkan cara beternak yang baik.

“Kegiatan ini juga diharapkan menjadi solusi bagi peternak mikro-kecil di Kabupaten Landak untuk kembali meningkatkan produksi tanpa adanya wabah ASF, sehingga dapat menjadi percontohan bagi peternak lain dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas,” tutup Samuel. (mif)

Editor : Syahriani Siregar
#budidaya babi #kalimantan barat #Program CABI #Percontohan