Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mirip Nyepi Bali, Balala Bikin Landak Hening dan Kosong Melompong 24 Jam

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 7 Juni 2026 | 22:46 WIB
SEPI: Jalan dan pusat aktivitas masyarakat Mempawah Hulu terlihat sunyi selama pelaksanaan Balala Pantang Nagari di sejumlah wilayah Kabupaten Landak. Tradisi yang kerap disebut mirip Nyepi ini mencerminkan kuatnya kepatuhan warga terhadap aturan adat.
SEPI: Jalan dan pusat aktivitas masyarakat Mempawah Hulu terlihat sunyi selama pelaksanaan Balala Pantang Nagari di sejumlah wilayah Kabupaten Landak. Tradisi yang kerap disebut mirip Nyepi ini mencerminkan kuatnya kepatuhan warga terhadap aturan adat.

PONTIANAK POST – Sejumlah wilayah di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, mendadak hening selama 24 jam akibat pelaksanaan Ritual Adat Balala Pantang Nagari, Sabtu (6/6/2026). Tradisi masyarakat Dayak yang diwariskan turun-temurun ini membuat aktivitas masyarakat berhenti sementara, menghadirkan suasana yang kerap disebut mirip dengan perayaan Nyepi di Bali.

Ritual Balala Pantang Nagari dilaksanakan di sejumlah kecamatan seperti Mandor, Mempawah Hulu, Sompak, Menyuke, Banyuke Hulu, hingga Air Besar. Selama masa pantang berlangsung, masyarakat diwajibkan menghormati aturan adat yang membatasi berbagai aktivitas di wilayah yang menjalankan ritual tersebut.

Dari pantauan di lapangan, sejumlah pasar, pusat aktivitas warga, hingga layanan non-esensial tampak tidak beroperasi. Jalan-jalan yang biasanya ramai terlihat lengang. Hanya petugas pelayanan publik seperti TNI, Polri, tenaga kesehatan, PLN, dan BPBD yang diperbolehkan melintas untuk menjalankan tugas kemanusiaan dan pelayanan masyarakat.

Di Kecamatan Mandor, prosesi Balala diawali dengan ritual Buka SAKA pada Jumat (5/6/2026) petang. Selanjutnya, tokoh adat memimpin prosesi nyangahatn sebagai penanda dimulainya masa pantang nagari.

Bagi masyarakat Dayak di wilayah tersebut, Balala bukan sekadar ritual seremonial. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus pengingat tentang pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan nilai-nilai adat.

RITUAL ADAT: Tokoh adat memimpin prosesi nyangahatn sebagai penanda dimulainya Balala Pantang Nagari di Kabupaten Landak, Sabtu (6/6/2026). Ritual turun-temurun ini menjadi simbol penghormatan masyarakat terhadap adat dan warisan leluhur.
RITUAL ADAT: Tokoh adat memimpin prosesi nyangahatn sebagai penanda dimulainya Balala Pantang Nagari di Kabupaten Landak, Sabtu (6/6/2026). Ritual turun-temurun ini menjadi simbol penghormatan masyarakat terhadap adat dan warisan leluhur.

Suasana khidmat terlihat ketika warga mematuhi aturan adat tanpa paksaan. Kesadaran kolektif masyarakat menjadi kunci utama keberlangsungan tradisi yang telah bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun itu.

Di sejumlah wilayah, personel kepolisian melakukan patroli dan pemantauan guna memastikan ritual berlangsung aman dan tertib.

Kapolres Landak AKBP Devi Ariantari melalui para kapolsek di wilayah pelaksanaan Balala menegaskan bahwa Polri mendukung penuh pelestarian adat selama kegiatan berlangsung aman serta tidak mengganggu kepentingan umum.

Menurut kepolisian, kehadiran aparat bukan untuk mencampuri prosesi adat, melainkan memberikan rasa aman kepada masyarakat yang sedang menjalankan tradisi leluhur.

Di Kecamatan Mempawah Hulu dan Sompak, patroli dilakukan di sejumlah titik strategis termasuk kawasan pasar, objek vital, dan fasilitas pelayanan publik. Situasi terpantau aman dan kondusif selama masa pantang berlangsung.

Sementara itu, di Kecamatan Menyuke dan Banyuke Hulu, aparat bersama tokoh adat turut memantau proses pembuatan Balala Nagari yang menjadi bagian penting dari rangkaian ritual.

Bagi banyak warga, Balala Pantang Nagari bukan hanya tentang larangan atau pantangan. Tradisi ini menjadi ruang refleksi kolektif yang mempertemukan generasi tua dan muda dalam satu nilai yang sama: menjaga identitas budaya.

Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Landak menunjukkan bahwa tradisi leluhur masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika aktivitas ekonomi berhenti sejenak dan jalanan menjadi lengang, Balala menghadirkan pesan sederhana namun kuat: kemajuan tidak harus menghapus akar budaya.

SEPI: Suasana Pasar Mandor tampak lengang saat masyarakat menjalankan Ritual Adat Balala Pantang Nagari. Selama masa pantang, berbagai aktivitas warga dihentikan sementara sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur.
SEPI: Suasana Pasar Mandor tampak lengang saat masyarakat menjalankan Ritual Adat Balala Pantang Nagari. Selama masa pantang, berbagai aktivitas warga dihentikan sementara sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Balala Pantang Nagari adalah ritual adat masyarakat Dayak di Kabupaten Landak yang menetapkan masa pantangan tertentu bagi masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada adat dan leluhur.

Keduanya memiliki kesamaan berupa penghentian berbagai aktivitas masyarakat selama periode tertentu sehingga menciptakan suasana hening dan khidmat. Namun, Balala memiliki akar budaya, aturan adat, dan makna spiritual yang berbeda dengan Nyepi di Bali.

Selama masa pantang, hanya petugas pelayanan publik tertentu seperti TNI, Polri, tenaga kesehatan, PLN, dan BPBD yang diperbolehkan melintas untuk menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#ritual adat Dayak #mirip Nyepi Bali #tradisi masyarakat Landak #pantang nagari #Budaya Kalimantan Barat