PONTIANAK POST — Pemerintah Kabupaten Landak resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Langkah krusial ini diambil menyusul pemburukan kualitas udara akibat kabut asap pekat dalam tiga hari terakhir. Keputusan tersebut disepakati usai Rapat Koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Landak, Selasa (1/9).
Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, menguraikan bahwa penetapan status tanggap darurat sejalan dengan instruksi Pemprov Kalbar serta peringatan BMKG mengenai potensi kemarau panjang. Maraknya kemunculan titik api (hotspot) menuntut langkah penanganan yang lebih cepat dan terpadu.
"Maka kami menetapkan status tanggap darurat untuk 14 hari ke depan dan nanti akan dievaluasi setiap harinya, apakah bisa diperpendek, bisa juga diperpanjang," ujar Karolin seusai rapat koordinasi.
Baca Juga: Karhutla Melanda Sidas Landak, Sekitar 50 Hektare Terbakar dan Api Dekati Permukiman Warga
Seiring berlakunya status baru ini, Karolin menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah daerah hingga elemen masyarakat untuk bergotong-royong menanggulangi karhutla.
Ia menegaskan larangan keras pembukaan lahan dengan cara dibakar, mengingat partikel halus kabut asap sudah memasuki taraf membahayakan kesehatan publik. "Saya minta untuk distop, apapun alasannya karena situasi hari ini sudah sampai pada situasi darurat asap, di mana kita semua melihat dan merasakan bagaimana asap sudah mengepung kita," tegasnya.
Guna memastikan kepatuhan di lapangan, Pemkab Landak menggandeng jajaran Kepolisian dan Kejaksaan untuk memproses hukum pihak-pihak yang sengaja membakar lahan. "Jadi ini tidak main-main ya, situasinya ini sudah sampai pada taraf asap ini membahayakan kita, membahayakan kesehatan kita," kata Karolin.
Krisis Air Bersih Membayang
Selain risiko titik api di hutan dan perkebunan, kondisi lingkungan yang sangat kering memicu kekhawatiran meluasnya kebakaran di pemukiman warga.
Karolin mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah sembarangan, selalu mengenakan masker saat keluar rumah, serta membatasi kegiatan yang mengumpulkan kerumunan di ruang terbuka. Di tengah situasi krusial ini, Pemkab Landak dihadapkan pada keterbatasan Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Kendati demikian, Karolin memastikan dana BTT yang tersisa bakal dimaksimalkan untuk menopang kebutuhan logistik dan operasional personel pemadam kebakaran di lapangan.
Baca Juga: Karhutla Melanda Sidas Landak, Sekitar 50 Hektare Terbakar dan Api Dekati Permukiman Warga
"Kita memang ada dana tidak terduga tapi jumlahnya juga sangat terbatas. Untuk sementara, kita optimalkan itu dengan anggaran yang terbatas ini, kita support para petugas kita yang berada di lapangan," jelasnya.
Dampak musim kemarau tahun ini juga memicu krisis air bersih bagi warga. Debit Sungai Landak menyusut drastis hingga menyisakan kedalaman sekitar 80 sentimeter, yang mengakibatkan gangguan pada pasokan air PDAM. Untuk mengatasinya, Pemkab Landak bakal menerjunkan dua unit armada tangki air guna menyalurkan air bersih ke wilayah-wilayah yang paling terdampak.
Sementara itu, Kapolres Landak AKBP Devi Ariantari menyampaikan sejumlah persoalan yang memengaruhi terjadinya karhutla. Di antaranya kebiasaan sebagian masyarakat membuka lahan dengan cara membakar, keterbatasan sumber air, belum optimalnya peran Masyarakat Peduli Api (MPA), serta keterbatasan sarana dan prasarana pemadaman.
"Karhutla membutuhkan penanganan bersama dan terpadu. Pencegahan harus menjadi prioritas, disertai kesiapsiagaan serta respons cepat ketika ditemukan hotspot atau titik api," ujar Devi.
Kapolres juga memaparkan sejumlah langkah strategis yang telah dan akan dilakukan Polres Landak, mulai dari pemetaan wilayah rawan karhutla, penguatan Satgas bersama pemerintah daerah dan TNI, apel kesiapsiagaan, sosialisasi kepada masyarakat, hingga penguatan peran tiga pilar desa.
Selain itu, Polres Landak memiliki sejumlah sarana penanganan karhutla serta motor trail Unit Reaksi Cepat (URC) yang dimodifikasi untuk menjangkau medan sulit. "Motor trail URC ini nantinya bisa digunakan untuk masuk lahan gambut dan lahan lunak," terang Devi. (mif)
Editor : Hanif