PONTIANAK POST - Dalam upaya membesarkan anak yang tangguh dan optimis, orang tua kerap tanpa sadar terjebak dalam toxic positivity, yakni sikap memaksakan pandangan positif dan menolak emosi negatif.
Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 10 Pontianak, Endah Fitriani, M.Psi., mengingatkan bahwa pendekatan semacam ini justru bisa menekan perasaan anak dan berpotensi memengaruhi kesehatan mental mereka.
Lalu bagaimana jika ingin mengajarkan anak berpikir positif? Endah mengatakan hal yang perlu diperhatikan adalah setiap individu memiliki emosi di kedua sisi baik itu negatif atau positif.
“Kita perlu memahami bahwa untuk menumbuhkan pola pikir positif, kita tidak perlu untuk menghilangkan emosi negatif yang anak miliki namun mengajarkan mereka untuk dapat mengenali dan meregulasi emosi yang dirasakan melalui cara yang tepat,” katanya.
Ketika anak bercerita hal-hal negatif yang di alaminya, maka perasaan negatif yang dialaminya terlebih dahulu divalidasi. Penting untuk memahami kondisi yang dialami anak dengan memvalidasi perasaannya.
Seperti ketika anak diganggu oleh teman-temannya, orang tua dapat menanyakan,“Adek sedih ya karena teman-teman gangguin adek.” Atau, “Adek marah ya kalau teman-teman ngeledekin adek, Ayah/Bunda bisa merasakannya kok."
Apabila langsung memberikan respon dengan kalimat “positif”, seakan-akan mengesampingkan emosi negatif yang sedang dirasakan oleh anak. Menganggap emosi tersebut tidak boleh ada atau tidak penting, maka kemungkinan anak merasa orangtua tidak bisa memahaminya.
“Sehingga kemungkinan untuk munculnya perilaku memendam atau membiarkan masalah akan muncul dan membuat anak terus berkutat dalam lingkaran masalah yang tidak berujung.
Selanjutnya, bila terlihat kondisi emosi anak sudah mulai stabil, anak bisa diajak untuk berdiskusi dan mengajarkannya mencerna nilai-nilai positif yang bisa diambil dari kejadian yang dialaminya.
Ia pun mengingatkan jika ingin anak berperilaku positif maka perlu melibatkan anak untuk berpikir dan berdiskusi bersama. Hal ini dilakukan agar perilaku positif yang tercipta bisa bertahan lama karena anak akan memahami sebab akibatnya.
“Jadi bukan hanya sekedar doktrin yang diberikan apalagi berupa paksaan, namun berupa insight yang diharapkan dapat tumbuh dari hasil pemikiran anak sendiri,” tuturnya. (sti)
Editor : Miftahul Khair