PONTIANAK POST – Dalam hubungan pertemanan, ada kalanya kita menemukan teman yang kelihatannya baik di depan tetapi ternyata bersikap negatif di belakang. Psikolog dan pakar hubungan interpersonal memperingatkan bahwa teman seperti ini, yang sering disebut sebagai toxic friend atau teman beracun, bisa merusak kesehatan mental dan emosional seseorang.
“Teman toxic biasanya menunjukkan sikap yang tidak konsisten, ramah di depan namun merendahkan atau membicarakan kita di belakang. Pola ini bisa menimbulkan rasa tidak aman dan merusak kepercayaan diri,” jelas Ikhsan Bella Persada, M.Psi., dikutip dari KlikDokter.
Senada, psikiater Abigail Brenner, MD menyebut bahwa hubungan dengan orang toxic sering kali ditandai dengan kaburnya batas-batas emosional. “Kita merasa lelah, terkuras, bahkan kehilangan jati diri karena terlalu sering dirugikan dalam hubungan yang tidak sehat ini,” ujarnya, dilansir Psychology Today.
Baca Juga: Rahasia Kulit Mulus, 7 Cara Ampuh Cegah Jerawat Menurut Ahli Dermatologi
Ciri-Ciri Teman Toxic Bermuka Dua
Berdasarkan penelitian dan pendapat para ahli, berikut ciri-ciri teman yang manis di depan tetapi jahat di belakang:
- Ucapan manis di muka, namun gosip atau kritik tersembunyi
Mereka bisa sangat ramah dan perhatian saat di hadapanmu, tetapi membicarakan kelemahanmu di belakang, membanding-bandingkan, atau mengadu domba. - Ketidakkonsistenan antara kata dan tindakan
Janji yang tidak ditepati, berubah-ubah sikap tergantung siapa yang ada di sekitar mereka, atau tampilan dukungan yang hanya sementara. - Suka mencari kesalahan & merendahkan, tapi tak mau dikritik
Kritik yang bersifat merendahkan, bukan membangun; mereka sulit menerima kritik dari orang lain. - Menggunakan hubungan untuk kepentingan sendiri
Dekat saat butuh, tetapi menghilang atau abaikanmu saat kamu membutuhkan. - Mengontrol dan membatasi
Bisa lewat sikap yang membatasi kebebasanmu, membuat kamu merasa tidak bisa menjadi diri sendiri, bahkan menjauhkan dari teman atau keluarga agar kamu lebih bergantung kepada mereka. - Menimbulkan stres, menurunkan kepercayaan diri
Setelah berinteraksi dengan mereka, kamu merasa lelah, sedih, malu, atau kurang percaya diri.
Cara Mengenali Sejak Dini
Untuk mendeteksi teman bermuka dua sedini mungkin:
- Amati pola konsistensi: apakah perilakunya berubah tergantung suasana, orang di sekitarnya, atau keuntungan.
- Perhatikan reaksi emosimu setelah berinteraksi: apakah sering merasa lelah, cemas, malu, atau tidak nyaman. Bila ya, ini bisa jadi indikator bahwa hubunganmu sudah mulai toksik.
- Dengarkan cerita dari pihak ketiga: apakah kamu mendengar bahwa temanmu membicarakanmu di belakang atau bahwa mereka mengatakan hal yang berbeda tergantung siapa yang mendengar.
- Tetapkan batasan pribadi: uji respons temanmu jika kamu menegur atau menyebutkan bahwa sesuatu dari perilakunya mengganggu. Jika dia menolak atau menyangkal terus-menerus, itu bisa jadi tanda.
Cara Menjauh dengan Sehat
Ahli psikologi juga menyarankan strategi agar tetap sehat secara mental sambil menjauh dari teman toxic:
- Komunikasi terbuka: ungkapkan secara jujur perasaanmu jika merasa disakiti oleh perilakunya.
- Tentukan batas (personal boundary): Batasi interaksi, tidak harus memutus hubungan secara langsung, cukup kurangi intensitas komunikasi.
- Kurangi eksposur emosional: Tidak harus memutus total, tapi kurangi keterlibatan emosional agar tidak selalu terpengaruh.
- Bangun lingkungan suportif: cari teman-teman yang mendukung, menghargaimu, dan memiliki empati.
- Cari bantuan profesional jika diperlukan: jika perasaan negatif seperti cemas, stres, atau rasa rendah diri terus-menerus mengganggu, psikolog atau konselor bisa membantu.
Pada akhirnya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan bersama orang yang hanya berpura-pura. Teman sejati adalah mereka yang hadir bukan hanya saat senang, tetapi juga saat kita terjatuh. Jadi, jangan ragu untuk menjauh dari mereka yang bermuka dua, dan bukalah ruang lebih luas untuk orang-orang tulus yang mampu membawa cahaya dalam hidupmu. (*)
Editor : Hanif