PONTIANAK POST - Selama puluhan tahun, dunia psikologi dan masyarakat umum hanya mengenal dua kutub besar dalam memahami kepribadian introvert dan ekstrovert. Introvert digambarkan sebagai pribadi yang nyaman dengan dunia batin, senang menyendiri, dan sering kali dianggap pendiam.
Sebaliknya, ekstrovert identik dengan sosok yang penuh energi saat bersosialisasi, mudah bergaul, dan merasa hidup dalam keramaian.
Namun, psikiater asal Amerika, Dr. Rami Kaminski, memperkenalkan sebuah istilah baru yang kini mulai ramai diperbincangkan yaitu otrovert.
Konsep ini tidak sekadar tren, melainkan sebuah upaya untuk menjelaskan keragaman manusia yang selama ini tidak terakomodasi oleh dua label klasik tersebut.
Lewat lembaga yang ia dirikan, The Otherness Institute, serta wawancaranya dengan media dengan Radio New Zealand (RNZ), Dr Kaminski menjelaskan bahwa banyak orang merasa “tidak pas” jika hanya disebut introvert atau ekstrovert. Di sinilah istilah otrovert hadir sebagai sebuah kategori baru yang dianggap lebih relevan.
Apa Itu Otrovert?
Secara sederhana, otrovert adalah individu yang tidak sepenuhnya introvert ataupun ekstrovert. Mereka memiliki kecenderungan untuk mencari keterhubungan dengan orang lain, tetapi tidak asal berinteraksi.
Bagi seorang otrovert, kualitas hubungan jauh lebih penting daripada kuantitas pergaulan. Menurut Dr Kaminski, kepribadian ini memiliki kebutuhan mendalam akan hubungan autentik.
Mereka bisa menikmati waktu sendiri, tetapi tidak ingin terjebak dalam isolasi. Disisi lain, mereka juga bisa berfungsi baik di tengah keramaian, selama interaksi yang terjadi terasa jujur dan bermakna.
Ciri-Ciri Kepribadian Otrovert
Berdasarkan penjelasan Dr Kaminski melalui situs resmi The Otherness Institute dan wawancara di RNZ, berikut beberapa ciri utama yang menandai kepribadian otrovert:
1. Mencari Koneksi yang Autentik
Kepribadian ini tidak puas hanya dengan obrolan basa-basi. Mereka ingin membangun percakapan yang penuh makna dan hubungan yang tulus.
2. Fleksibilitas Sosial
Mereka tidak mudah kelelahan seperti introvert saat bersosialisasi, tetapi juga tidak terus-menerus mencari keramaian seperti ekstrovert. Kepribadian baru ini bisa beradaptasi dengan berbagai situasi sosial, asalkan relevan dengan nilai dan emosi mereka.
3. Menerima Keberbedaan
Filosofi yang ditawarkan Kaminski menekankan konsep otherness kemampuan untuk menghargai orang lain apa adanya. Hal ini membuat otrovert lebih terbuka terhadap keberagaman.
Baca Juga: Pasanganmu Selingkuh Berkali-Kali? Waspada, Kenali Pola Serial Cheater Menurut Ahli Psikologi
4. Tidak Nyaman dengan Label Lama
Banyak orang merasa label introvert-ekstrovert tidak cukup menggambarkan mereka.
Mengapa Otrovert Disebut Revolusioner?
Konsep kepribadian baru ini dianggap revolusioner karena menantang dikotomi klasik yang sudah lama tertanam dalam psikologi dan budaya populer. Beberapa alasannya adalah:
- Lebih Akurat: Banyak orang yang merasa dirinya tidak sepenuhnya masuk ke dalam salah satu kategori lama. Kepribadian baru ini memberi ruang bagi pengalaman yang lebih kompleks.
- Memberi Kesadaran Baru: Dengan mengenali diri sebagai otrovert, seseorang bisa lebih memahami kebutuhan emosional dan sosialnya.
- Relevan dengan Era Modern: Di era digital, hubungan sosial sering kali dangkal. Kepribadian baru ini hadir sebagai pengingat pentingnya interaksi yang bermakna.
- Mendorong Toleransi: Karena kepribadian baru ini berfokus pada otherness (keberbedaan), konsep ini membantu menciptakan masyarakat yang lebih inklusif.
Menurut laporan RNZ, banyak orang yang setelah mendengar istilah ini merasa “akhirnya menemukan kata yang tepat” untuk menggambarkan diri mereka.
Konsep otrovert yang diperkenalkan Dr Rami Kaminski merupakan lompatan penting dalam memahami kepribadian manusia. Istilah ini mengisi kekosongan yang tidak mampu dijawab oleh dikotomi klasik introvert-ekstrovert.
Bagi masyarakat Indonesia, mengenal konsep ini bisa membantu kita memahami diri sendiri maupun orang lain dengan lebih dalam. Hal ini bukan sekadar label baru, melainkan sebuah cara untuk merayakan keragaman manusia dan pentingnya koneksi autentik. (*)
Editor : Miftahul Khair