PONTIANAK POST - Generasi Z (Gen Z), yakni mereka yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012, kini memasuki fase penting dalam kehidupan finansialnya.
Sebagian sudah mulai bekerja, sebagian lagi masih kuliah atau baru lulus, tapi hampir semuanya menghadapi tantangan yang sama, tentang bagaimana mengelola uang di tengah tuntutan gaya hidup modern yang serba cepat.
Dibandingkan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh dalam era digital, dikelilingi oleh media sosial, e-commerce, dan tren global yang mudah diakses hanya dengan sentuhan layar.
Kondisi ini menjadikan mereka lebih konsumtif, karena belanja bukan sekadar memenuhi kebutuhan, tapi juga menjadi bagian dari identitas diri dan cara bersosialisasi.
Banyak Generasi Z yang sadar pentingnya menabung dan berinvestasi untuk masa depan, tetapi disisi lain mereka juga kesulitan melawan godaan gaya hidup yang glamor.
Media sosial bahkan semakin memperkuat tekanan ini, karena munculnya budaya “flexing” dan FOMO (fear of missing out) membuat standar hidup seakan-akan harus selalu naik.
Baca Juga: Mengapa Gen Z Sering Dianggap Malas dan Tidak Tangguh? Temukan Jawabannya di Sini!
Berikut hal-hal yang mempengaruhi Generasi Z memiliki pola hidup konsumtif:
Tekanan Ekonomi dan Kebiasaan Belanja Gen Z
Menurut rujukan data dari Bank of America, lebih dari 70% Gen Z mengaku harus mengubah gaya hidupnya karena tekanan ekonomi, terutama inflasi dan kenaikan biaya hidup.
Banyak dari mereka tetap ingin menikmati pengalaman hidup, seperti nongkrong, berlibur, atau membeli barang-barang lifestyle, meskipun kondisi keuangan seringkali terbatas.
Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi bagi Generasi Z bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi juga sarana untuk merasa “hidup” dan tetap relevan di lingkaran sosial.
Inilah salah satu alasan mengapa mereka sering sulit mengendalikan pengeluaran harian, meski sadar pentingnya menabung.
Antara Menabung dan Tekanan Sosial
Hampir setengah dari Gen Z sebenarnya sudah memiliki kebiasaan menabung. Namun menariknya, 63% di antaranya masih merasa tertekan atau bahkan “dihakimi” terkait cara mereka mengatur uang.
Fenomena ini bisa dijelaskan dengan pengaruh media sosial. Gen Z sering membandingkan diri mereka dengan standar hidup orang lain yang terlihat lebih “kaya” di Instagram atau TikTok.
Akibatnya, ada dorongan untuk mengikuti tren meski harus mengorbankan tabungan. Dengan kata lain, meskipun ada kesadaran finansial, rasa takut tertinggal (FOMO) masih lebih kuat mendorong konsumsi daripada menabung.
Konsumsi Sebagai Identitas
Bagi Gen Z, konsumsi bukan hanya soal belanja, melainkan juga bagian dari identitas diri. Mereka cenderung memilih produk atau pengalaman yang bisa mencerminkan nilai, gaya, dan status sosial.
Di era digital, “hidup kaya” bagi Gen Z tidak selalu berarti memiliki aset besar, melainkan terlihat memiliki gaya hidup modern misalnya selalu update gadget terbaru, makan di kafe hits, atau traveling ke destinasi populer.
Masalahnya, ketika hal ini dijalankan tanpa strategi finansial yang jelas, pola konsumtif semacam ini justru menimbulkan kesulitan menabung jangka panjang.
Bagaimana Gen Z Bisa Menyeimbangkan?
Meskipun tantangan finansial cukup besar, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan Generasi Z agar tetap bisa menikmati hidup tanpa kehilangan kendali atas keuangan:
- Prioritaskan kebutuhan: bedakan mana pengeluaran untuk kebutuhan primer, mana yang hanya sekadar gaya hidup.
- Terapkan budgeting sederhana: metode seperti 50/30/20 (50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan/investasi) bisa membantu.
- Gunakan media sosial dengan bijak: hindari terlalu sering membandingkan diri dengan standar orang lain.
- Mulai investasi kecil: meski dengan jumlah terbatas, investasi bisa membantu menyiapkan masa depan keuangan yang lebih stabil.
Pola konsumtif Gen Z tidak bisa dilepaskan dari identitas mereka sebagai generasi digital yang sangat terhubung dengan media sosial dan tren global.
Meskipun sebagian Gen Z sudah mencoba menabung, gaya hidup konsumtif dan tekanan sosial masih menjadi tantangan utama.
Jika tidak dikelola dengan baik, keinginan untuk terlihat kaya justru bisa menjebak mereka dalam siklus keuangan yang tidak sehat.
Sebaliknya, dengan strategi finansial sederhana dan pola konsumsi yang lebih bijak, Gen Z tetap bisa menikmati gaya hidup modern sekaligus membangun masa depan yang lebih stabil. (*)
Editor : Miftahul Khair