PONTIANAK POST - Di era serba terkoneksi seperti sekarang, notifikasi ponsel seolah tidak pernah berhenti. Pesan masuk, email, grup chat, hingga aplikasi media sosial terus berebut perhatian.
Namun, ada sebagian orang yang memilih untuk menonaktifkan semua suara dan getar ponsel, bahkan mengaktifkan mode senyap atau Do Not Disturb (DND) hampir setiap waktu.
Kebiasaan ini bukan sekadar soal preferensi gaya hidup, tetapi menurut sejumlah ahli psikologi, bisa mencerminkan kepribadian dan cara seseorang menghadapi dunia digital.
Orang yang gemar menjaga ponselnya tetap hening cenderung memiliki kecerdasan emosional tinggi, batas pribadi yang kuat, dan kebutuhan mendalam akan ketenangan batin.
Mereka Introvert atau Butuh Ruang untuk Mengisi Energi
Dirujuk dari GeEditing, orang yang sering mengaktifkan mode senyap biasanya bukan anti-sosial, melainkan tipe yang lebih peka terhadap stimulasi berlebih.
Mereka mudah merasa lelah jika terus terpapar notifikasi, suara dering, dan tuntutan untuk segera merespons pesan.
Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan tipe introvert atau Highly Sensitive Person (HSP) individu yang otaknya lebih aktif memproses rangsangan dari lingkungan.
Mode senyap menjadi cara alami mereka untuk menciptakan “ruang aman” agar bisa berpikir jernih dan mengatur ulang energi.
Mereka Menjaga Batas Pribadi dengan Sadar
Dirujuk dari Earth.com menyebut bahwa mode senyap bisa menjadi refleksi dari kemampuan seseorang menjaga batas pribadi (personal boundaries).
Di tengah dunia digital yang menuntut kita untuk selalu “siap sedia”, orang-orang ini tahu kapan harus “terhubung” dan kapan harus berhenti sejenak dari banjir informasi.
Mereka tidak merasa harus selalu tersedia untuk orang lain dan ini bukan egois, melainkan tanda kesehatan emosional.
Dengan cara ini, mereka bisa tetap hadir sepenuhnya saat benar-benar dibutuhkan, tanpa kehilangan fokus atau kedamaian batin.
Mereka Lebih Fokus dan Terkendali
Psikolog menjelaskan bahwa individu yang memilih mode senyap memiliki tingkat pengendalian diri (self-control) yang tinggi.
Mereka menyadari bahwa setiap bunyi notifikasi adalah potensi distraksi yang bisa menurunkan produktivitas dan konsentrasi.
Penelitian dalam psikologi kognitif juga menunjukkan bahwa otak membutuhkan waktu sekitar 23 menit untuk kembali fokus setelah terganggu oleh notifikasi.
Maka, dengan mematikan suara ponsel, orang-orang ini sedang melindungi kualitas fokus dan kinerjanya.
Mereka Tidak Takut Melewatkan Informasi (FOMO Rendah)
Orang yang nyaman dengan mode senyap biasanya memiliki FOMO (Fear of Missing Out) yang rendah.
Mereka tidak khawatir ketinggalan berita, chat, atau update terbaru di media sosial. Sebaliknya, mereka lebih menikmati JOMO (Joy of Missing Out) kebahagiaan karena bisa hidup tanpa tekanan untuk selalu online.
Sikap ini menunjukkan kemandirian emosional dan rasa percaya diri tinggi, karena mereka tidak mendefinisikan nilai diri dari respons cepat atau keterlibatan digital yang konstan.
Mereka Reflektif dan Memiliki Kesadaran Diri Tinggi
Dilansir dari TalkAndroid, kebiasaan mengaktifkan DND sering kali muncul dari orang dengan tingkat kesadaran diri (self-awareness) yang tinggi.
Mereka tahu kapan tubuh dan pikiran butuh istirahat dari arus notifikasi. Mereka sadar bahwa teknologi seharusnya mendukung kehidupan, bukan menguasainya.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menurunkan tingkat stres, meningkatkan kualitas tidur, dan memperkuat hubungan interpersonal karena mereka bisa benar-benar hadir bukan hanya “online”. (*)
Editor : Miftahul Khair