PONTIANAK POST - Keluhan brain fog atau sulit fokus saat bekerja ternyata tidak selalu berkaitan dengan kurang tidur atau beban kerja berlebihan.
Aktivitas fisik yang minim juga disebut berperan besar dalam menurunnya fungsi kognitif. Hal ini diungkapkan oleh dr Adam Prabata melalui unggahannya di platform X.
Dalam tulisannya, dr Adam mengaku berusaha rutin berolahraga setelah membaca sebuah penelitian ilmiah yang membahas hubungan langsung antara aktivitas fisik dan kesehatan otak.
“Gua berusaha rutin olahraga agar tidak brain fog setelah baca jurnal ini,” tulisnya.
Ia menjelaskan, banyak orang sering merasa sulit fokus atau cepat lelah secara mental, padahal penyebabnya bisa jadi karena kurang bergerak.
Baca Juga: Tak Bisa Puasa dan Olahraga karena Asam Lambung? Ini Cara Mengatasinya Menurut Ade Rai
Adam merujuk pada sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Brain Behavior and Immunity Integrativetahun 2023, yang menunjukkan adanya bukti klinis kuat tentang kaitan aktivitas fisik rutin dengan optimalisasi fungsi kognitif.
Menurut dr. Adam, secara molekuler olahraga, terutama jenis aerobic, mampu memicu pelepasan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Protein ini memiliki peran penting dalam proses neurogenesis, yakni pembentukan sel-sel saraf baru, serta meningkatkan plastisitas sinaps atau kemampuan otak untuk beradaptasi dan belajar.
“Pada tingkat seluler, olahraga membantu menjaga integritas struktural otak,” jelasnya.
Tak hanya itu, manfaat olahraga juga dirasakan secara sistemik. Aktivitas fisik disebut mampu memperlambat penurunan fungsi kognitif akibat penuaan, sekaligus memperkuat daya ingat dan kapasitas belajar.
Baca Juga: Bukan Cuma Bikin Sehat, Olahraga Terbukti Menajamkan Otak dan Daya Ingat
Dengan kata lain, olahraga tidak hanya berdampak pada kebugaran tubuh, tetapi juga menjaga ketajaman berpikir dalam jangka panjang.
Adam juga menyoroti peran olahraga dalam menstimulasi angiogenesis, yaitu pembentukan pembuluh darah baru di otak.
Proses ini penting untuk memastikan suplai oksigen dan nutrisi tetap optimal, sehingga kemampuan berpikir, fokus, dan pemrosesan informasi dapat bekerja secara maksimal.
“Selain itu, aktivitas fisik menstimulasi angiogenesis atau pembentukan pembuluh darah baru di otak, memastikan suplai oksigen dan nutrisi tetap optimal agar kemampuan berpikir tetap tajam,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair