PONTIANAK POST - Sering merasa tidak enak menolak permintaan orang lain, meski sebenarnya tidak sanggup? Kebiasaan selalu berkata “iya” demi menyenangkan orang lain bisa jadi tanda perilaku people pleaser yang kerap luput disadari.
Sosiolog Universitas Airlangga (Unair), Tuti Budirahayu, mengingatkan bahwa perilaku tersebut tidak boleh dianggap wajar.
“Masyarakat jadi penuh kepura-puraan, konflik laten bisa muncul, daya kritis tergerus, dan perubahan sosial terhambat. Masyarakat cenderung stagnan karena takut berbeda,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Dalam hubungan sosial, people pleasing berpotensi merusak relasi. Seseorang bisa memakai “topeng seribu muka” untuk menjilat atasan atau menjatuhkan pihak lain. “Kalau dibiarkan, bisa menimbulkan konflik manifes yang lebih besar,” lanjutnya.
Bukan hanya melelahkan secara emosional, perilaku ini juga berisiko membuat seseorang kehilangan respek dari lingkungan.
“Ada istilah ABS (Asal Bapak Senang), atau inggih-inggih tapi ora kepanggih. Lama-lama si people pleaser bisa dimanfaatkan lingkungannya karena dianggap selalu menurut,” tegas Tuti.
Menurutnya, penting membangun sikap hormat tanpa harus terjebak menjadi people pleaser. Tuti menyarankan adanya resosialisasi sejak dini agar generasi muda mampu menempatkan diri secara tepat.
“Generasi muda perlu diajarkan memilih sikap yang tepat. Hormat dan empati tetap penting, tapi kalau kebablasan justru merusak hubungan sosial,” katanya.
Baca Juga: Cara Menolak Sumbangan dengan Sopan Tanpa Merusak Hubungan Sosial
Peran keluarga dan sekolah dinilai sangat vital dalam membentuk karakter tersebut. Anak-anak perlu diajarkan integritas, yakni jujur dalam perkataan dan perbuatan serta berani bertanggung jawab.
“Mereka perlu tahu bahwa berkata ‘tidak’ bukan berarti tidak sopan, tapi bagian dari komunikasi sehat,” lanjut perempuan 57 tahun itu.
Tuti menegaskan, kunci utama dalam membangun relasi yang sehat adalah komunikasi yang setara. “Komunikasi harus setara, seimbang, dan adil. Kalau salah satu merasa lebih tinggi, relasi jadi timpang. Padahal etika menuntut kita saling menghormati,” jelasnya. (*)
Editor : Chairunnisya