PONTIANAK POST - Sering merasa sulit menolak permintaan orang lain, meski sebenarnya tidak sanggup? Atau terbiasa selalu berkata “iya” demi menjaga perasaan orang lain? Bisa jadi, Anda termasuk kelompok people pleaser.
Sosiolog Universitas Airlangga (Unair), Tuti Budirahayu, menilai fenomena ini semakin sering muncul di era sekarang. Salah satunya dipicu oleh dorongan membangun personal branding secara berlebihan demi menjaga citra diri.
“Jangan sampai demi terlihat sempurna, kita jadi kehilangan kejujuran dan identitas diri,” ucapnya, dikutip dari Jawapos.
Menurut Tuti, keinginan untuk selalu terlihat baik di mata orang lain dapat mendorong seseorang terus mengiyakan berbagai permintaan, meski bertentangan dengan kemampuan atau kondisi diri sendiri.
Baca Juga: Terlalu Sering Mengiyakan Bisa Jadi Tanda People Pleaser yang Berbahaya
Karena itu, ia menekankan pentingnya keberanian untuk berkata jujur, sekalipun terasa tidak nyaman.
“Integritas itu penting. Apa yang dikatakan sesuai dengan yang dilakukan. Jangan jadi people pleaser hanya untuk menjaga citra. Menjaga sopan santun perlu, tapi bukan berarti harus mengorbankan diri sendiri,” tuturnya.
Tuti mengingatkan, menjaga keseimbangan antara empati dan ketegasan merupakan kunci dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Sikap jujur dan autentik justru akan memperkuat kepercayaan, baik dalam relasi personal maupun profesional. (*)
Editor : Chairunnisya