Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Guru Besar Unair Ingatkan Pentingnya Etika dalam Komunikasi Sehari-hari

Chairunnisya • Senin, 11 Mei 2026 | 18:35 WIB
Ilustrasi penggunaan prompt AI (AI)
Ilustrasi penggunaan prompt AI (AI)

PONTIANAK POST - Di tengah derasnya arus komunikasi digital dan kebiasaan serba cepat, etika dalam berbicara dan menyampaikan pendapat dinilai semakin penting dijaga.

Cara seseorang mengkritik, meminta bantuan, hingga berinteraksi sehari-hari disebut dapat mencerminkan kualitas sikap dan pola komunikasi yang dimiliki.

Guru besar media dan komunikasi FISIP Unair, Rachmah Ida menegaskan bahwa menyampaikan kritik bukanlah sesuatu yang dilarang. Namun, kritik harus disampaikan secara elegan dan tetap berfokus pada persoalan yang dibahas.

“Kalau mengkritik, fokus saja pada aspek yang dikritik, jangan melebar ke hal lain. Gunakan bahasa yang objektif, tidak emosional atau personal. Pilihan diksi menjadi penting,” tegasnya, dikutip dari Jawapos.

Baca Juga: Etika Digital Anak Dinilai Harus Dibangun Sejak Dini oleh Orang Tua

Menurut Rachmah, perbedaan antara meminta tolong dengan sopan dan menodong permintaan secara kasar dapat terlihat jelas dari bahasa maupun nada komunikasi yang digunakan.

“Di Barat, anak-anak sejak kecil sudah diajari magic word ‘please’. Kadang ditambah emoticon senyum. Itu menandakan permintaan yang sungguh-sungguh dan sopan. Kalau dibiasakan, perilaku anak akan lebih beretika,” katanya.

Ia mengingatkan, kebiasaan menodong atau menuntut sesuatu jika dianggap normal akan membawa dampak serius terhadap pembentukan karakter seseorang.

Baca Juga: Fenomena Todong Prompt AI Cerminkan Generasi Serba Instan dan Minim Empati

“Akan terjadi kerusakan mental attitude dan behaviour. Dalam komunikasi manusia, harus ada mental filter agar interaksi tidak menimbulkan konflik,” ucap Rachmah.

Fenomena tersebut, lanjutnya, juga menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam kehidupan sosial masyarakat. Ia membedakan antara semangat gotong royong dengan budaya instan yang berkembang saat ini.

“Gotong royong itu berbeda. Ia adalah nilai kolektif bangsa Indonesia. Sedangkan budaya instan dan menuntut lahir dari level individual, akibat kurangnya sosialisasi etika pergaulan dan komunikasi humanis sejak dini. Bayangkan, sejak bayi sudah diberi gawai, akhirnya sentuhan manusia berkurang,” jelasnya. (*)

Editor : Chairunnisya
#prompt AI #Prompt #unair #ruang digital