Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Optimisme Bikin Umur Lebih Panjang, Studi Ungkap Orang Optimistis Bisa Hidup 15 Persen Lebih Lama

Uray Ronald • Kamis, 14 Mei 2026 | 15:17 WIB
Ilustrasi. (Pinterest)
Ilustrasi. (Pinterest)

 

PONTIANAK POST - Sebuah studi dari Boston University School of Medicine menemukan hubungan kuat antara optimisme dan umur panjang.

Orang yang lebih optimistis disebut berpotensi hidup 11-15 persen lebih lama dibanding kelompok paling pesimistis.

Penelitian itu juga menunjukkan orang optimistis memiliki peluang 50-70 persen lebih besar mencapai usia 85 tahun.

Temuan tersebut tetap konsisten setelah peneliti memperhitungkan kondisi kesehatan dan gaya hidup peserta.

Studi Libatkan Lebih dari 70 Ribu Peserta

Dilansir Expert Editor, riset yang dipublikasikan pada 2019 itu melibatkan lebih dari 70 ribu orang dewasa.

Sebanyak 69.744 perempuan dipantau selama 10 tahun, sementara 1.429 laki-laki diikuti selama 30 tahun.

Baca Juga: Rutin Makan Telur Turunkan Risiko Alzheimer, Ini Hasil Studi Terbaru!

Peserta diminta mengisi survei terkait tingkat optimisme, pola makan, kebiasaan merokok, dan kesehatan. 

Peneliti kemudian melacak peserta yang hidup paling lama. Hasilnya menunjukkan peserta paling optimistis hidup lebih panjang dibanding kelompok paling pesimistis.

Hubungan itu tetap terlihat setelah peneliti mengontrol faktor usia, pendidikan, penyakit kronis, depresi, konsumsi alkohol, olahraga, pola makan, dan frekuensi kunjungan ke dokter.


Baca Juga: Manfaat Alam bagi Kesehatan: Santai 20 Menit di Taman Bisa Turunkan Stres dan Tekanan Darah

Namun, penelitian ini bersifat observasional. Artinya, studi hanya menunjukkan hubungan, bukan membuktikan optimisme sebagai penyebab langsung umur panjang.

Peneliti Sebut Optimisme Bisa Dilatih

Penulis utama penelitian, Lewina Lee, mengatakan optimisme berpotensi menjadi faktor penting dalam kesehatan masyarakat.

Ia menilai sikap optimistis dapat membantu memperpanjang usia manusia.

“Studi ini memiliki relevansi tinggi bagi kesehatan karena menunjukkan bahwa optimisme merupakan salah satu aset psikososial yang berpotensi memperpanjang usia manusia,” kata Lewina Lee.

Ia juga menyebut optimisme dapat dibentuk melalui teknik sederhana atau terapi. Menurutnya, hal itu membuat optimisme berbeda dari faktor genetik yang sulit diubah.

Baca Juga: 7 Makanan Pencegah Kanker yang Wajib Dikonsumsi untuk Hidup Lebih Sehat

Cara Optimisme Memengaruhi Kesehatan

Peneliti menduga optimisme membantu seseorang mengelola stres lebih baik. Orang optimistis juga dinilai lebih cepat pulih dari tekanan dan kesulitan hidup.

“Penelitian lain menunjukkan bahwa orang yang lebih optimistis mungkin mampu mengatur emosi dan perilaku dengan lebih baik, serta lebih efektif bangkit dari stres dan kesulitan,” kata Laura Kubzansky dari Harvard T.H. Chan School of Public Health.

Selain faktor emosional, optimisme juga berkaitan dengan kebiasaan sehat. Orang optimistis cenderung rutin berolahraga dan lebih jarang merokok.

Baca Juga: Risiko Kanker Payudara Meningkat Akibat Konsumsi Keju? Cek Faktanya di Sini

Penelitian Lain Temukan Hasil Serupa

Temuan Boston University sejalan dengan penelitian lain dari Yale University pada 2002.

Studi itu menemukan lansia dengan pandangan positif hidup 7,5 tahun lebih lama dibanding kelompok dengan pandangan negatif.


Penelitian tersebut tetap menunjukkan hasil serupa setelah memperhitungkan usia, jenis kelamin, kondisi sosial ekonomi, kesepian, dan kesehatan fisik.

Meski menggunakan pendekatan berbeda, arah temuannya dinilai konsisten. 

Peneliti menegaskan hasil studi ini bukan resep pasti untuk memperpanjang usia. Namun, hubungan kuat antara optimisme dan umur panjang dinilai sulit diabaikan.*

Editor : Uray Ronald
#umur panjang #hidup lebih lama #penelitian kesehatan #Boston University #optimisme