PONTIANAK POST - Di tengah gempuran gawai dan beragam hiburan digital, Mini 4WD ternyata tetap memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya, termasuk Aan.
Warga Kota Baru, Pontianak Selatan, yang berusia 35 tahun ini menganggap Mini 4WD bukan sekadar mainan.
Hobi yang dikenalnya sejak masa Sekolah Dasar (SD) itu kini telah berkembang menjadi olahraga yang membawanya meraih prestasi di tingkat provinsi.
Aan Forpus-nama bekennya, mengenal Mini 4WD pada era 1990-an. Saat itu, serial kartun Let's & Go sedang populer di kalangan anak-anak.
Bersama teman-temannya, ia pun mulai mengenal mobil balap mini yang mampu melaju kencang di lintasan khusus itu.
“Waktu itu saya mengenal Mini 4WD dari kartun Let's & Go dan teman-teman di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Seiring bertambahnya usia, kesibukan sekolah, dan kuliah sempat membuat hobinya terhenti. Namun kecintaan terhadap Mini 4WD tidak pernah benar-benar hilang.
Pada 2016, ia kembali aktif menekuni hobi tersebut seiring berkembangnya komunitas, dan kompetisi Mini 4WD di Kalimantan Barat.
Menurut Aan, ada banyak alasan yang membuat dirinya tetap bertahan hingga sekarang. Bukan hanya soal nostalgia masa kecil, tetapi juga tantangan yang selalu hadir dalam setiap proses perakitan, dan penyetelan mobil.
“Yang membuat saya bertahan adalah kombinasi antara hobi merakit, melakukan tuning, dan sensasi kompetisi. Setiap perubahan kecil pada setting mobil bisa memberikan hasil yang berbeda di lintasan,” katanya.
Saat ini Aan memiliki sekitar 15 unit Mini 4WD dengan berbagai kelas perlombaan. Mulai dari kelas STB (Standar Tamiya Box), Damper Style atau Indonesia Damper Class (IDC), hingga STO atau Indonesia Open Class (IOC).
Masing-masing kelas menurutnya memiliki karakteristik, dan tingkat kesulitan yang berbeda. Semakin tinggi kelas yang diikuti, semakin kompleks pula modifikasi, dan penyetelan yang harus dilakukan.
Namun diantara seluruh koleksinya, ada dua unit yang memiliki nilai emosional tersendiri. Yakni mobil kelas Damper Style dan STO yang pernah mengantarkannya meraih gelar juara umum Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Kalbar pada 2023, dan 2025.
“Selain karena prestasinya, mobil itu (paling berkesan) juga karena hasil setting, dan eksperimen saya sendiri,” ungkapnya.
Bagi orang awam, Mini 4WD mungkin terlihat sederhana. Namun di balik kecepatan mobil yang meluncur di lintasan, terdapat proses panjang yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Aan menjelaskan, untuk perakitan dasar, sebuah Mini 4WD dapat diselesaikan dalam waktu satu hingga dua jam. Agar benar-benar siap berlomba, proses tuning, dan pengujian bisa memakan waktu berhari-hari.
Semua bergantung pada karakter lintasan yang akan digunakan dalam kompetisi. Karena setiap tikungan, tanjakan, hingga lompatan di lintasan, akan memiliki tantangan tersendiri yang harus diantisipasi melalui pengaturan kendaraan.
“Tantangan terbesar adalah menemukan setting yang tepat sesuai kondisi lintasan. Selain itu, menjaga konsistensi performa mobil selama perlombaan juga cukup sulit karena banyak faktor yang memengaruhi hasil,” jelasnya.
Tak hanya membutuhkan waktu, hobi ini juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Untuk kelas pemula seperti STB, ia menyebut biaya membangun satu unit mobil kompetitif berkisar Rp200 ribu hingga Rp500 ribu.
Sementara untuk kelas Damper Style, biaya yang dibutuhkan bisa mencapai Rp700 ribu hingga Rp1,2 juta.
Sedangkan untuk kelas STO yang mengizinkan modifikasi lebih luas, dapat menghabiskan biaya Rp2,5 juta hingga lebih dari Rp4 juta untuk satu unit kendaraan.
Meski demikian, biaya tersebut dinilai cukup sebanding dengan kepuasan yang diperoleh para penghobi, dan atlet saat melihat mobil racikannya melaju sempurna di lintasan.
Bagi Aan, salah satu pengalaman paling berkesan selama menekuni Mini 4WD adalah ketika berhasil meraih gelar Juara Umum Kejurprov Kalbar 2023, dan kembali mengulang prestasi yang sama pada 2025.
Apalagi saat itu, ia harus bersaing dengan banyak racer berpengalaman dari berbagai daerah.
“Selain prestasi, saya juga mendapatkan banyak teman, dan relasi dari berbagai daerah melalui kompetisi,” tuturnya.
Lebih jauh, Aan menilai Mini 4WD juga memberikan banyak manfaat positif. Hobi ini melatih kesabaran, ketelitian, kemampuan menganalisis masalah, hingga kreativitas dalam mencari solusi terbaik untuk meningkatkan performa kendaraan. Selain itu, komunitas yang terbentuk di dalamnya juga menjadi ruang untuk bertukar pengalaman, dan memperluas pergaulan.
Menariknya, Mini 4WD kini tidak lagi dipandang sebagai sekadar permainan anak-anak. Di Indonesia, kegiatan ini telah diakui sebagai cabang olahraga resmi yang berada di bawah naungan Ikatan Motor Indonesia (IMI).
Para pemain Mini 4WD pun kini resmi disebut sebagai atlet. Bahkan olahraga ini pernah dipertandingkan sebagai cabang eksibisi pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa Mini 4WD telah berkembang menjadi olahraga berbasis keterampilan, strategi, dan teknologi sederhana yang membutuhkan kemampuan teknis para pesertanya.
Di tengah maraknya hiburan digital yang serba instan, Aan meyakini Mini 4WD masih akan tetap bertahan.
Menurut Aan, pengalaman yang ditawarkan Mini 4WD tidak bisa digantikan oleh permainan virtual.
“Karena Mini 4WD menawarkan pengalaman yang nyata, dan interaktif. Pemain tidak hanya bermain, tetapi juga merakit, memodifikasi, menguji, dan berkompetisi secara langsung,” ujarnya.
Perpaduan antara kreativitas, teknologi, kompetisi, dan interaksi sosial itulah yang membuat roda-roda kecil Mini 4WD terus berputar hingga hari ini.
Hal itulah yang dirasakan Aan hingga saat ini. Tak sekadar menghidupkan kenangan masa kecil, tetapi juga bisa melahirkan prestasi bagi mereka yang mau menekuninya.(*)
Editor : Chairunnisya