Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Kian Tergerus Zaman, Ini 9 Pola Asuh Penting Era 90-an yang Sudah Jarang Diajarkan Orang Tua Modern

Rafael B. Junior • Kamis, 2 Juli 2026 | 17:56 WIB
Ilustrasi anak berbicara dengan ibunya. (AI)
Ilustrasi anak berbicara dengan ibunya. (AI)

PONTIANAK POST - Kurikulum pendidikan di sekolah mengalami transformasi besar sepanjang dekade 1980-an dan 1990-an. Sejalan dengan perubahan tersebut, pola asuh serta jenis keterampilan praktis yang diajarkan oleh orang tua di dalam lingkungan keluarga pun ikut bergeser secara drastis.

Melansir ulasan dari pakar kebijakan sosial dan psikologi Zayda Slabbekoorn di YourTango, banyak kebiasaan positif yang mulai ditinggalkan oleh orang tua pasca-era 90-an. Padahal, deretan pelajaran hidup tersebut memiliki esensi yang sangat krusial bagi kemandirian anak. Akibat tren kepraktisan budaya modern dan ketergantungan pada gawai pintar, generasi muda masa kini kerap kehilangan kecakapan mendasar yang dulunya menjadi standar wajib di dalam rumah.

Berikut adalah 9 hal bermakna yang berhenti diajarkan oleh orang tua setelah era 1990-an, namun sebenarnya sangat penting bagi masa depan anak:

1. Menulis Indah dan Tulisan Tegak Bersambung

Secara formal, pelajaran tulisan tegak bersambung (cursive) memang telah dihapus dari kurikulum Common Core di berbagai sekolah pada tahun 2010. Namun, banyak keluarga yang sudah berhenti melatih kebiasaan menulis ini jauh sebelum tahun tersebut. Popularitas komputer dan telepon seluler membuat aktivitas menulis tangan dianggap tidak lagi efisien. Akibatnya, banyak anak zaman sekarang yang memiliki tulisan tangan yang buruk dan sulit dibaca karena kurangnya waktu latihan secara mandiri di rumah.

Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu! Ini 9 Cara Terapkan Feng Shui pada Jadwal Sekolah Anak agar Rumah Selalu Harmonis

2. Keterampilan Menjahit Dasar

Gaya pengasuhan sebelum tahun 2000-an sangat kental dengan mentalitas "perbaiki dulu sebelum beli baru" (fix it first). Anak-anak pada masa itu diwajibkan menguasai seni menjahit dasar, bukan sekadar untuk menambah daftar keahlian, melainkan untuk membantu meringankan beban domestik rumah tangga. Kebiasaan menambal pakaian atau menjahit taplak meja ini melatih fokus, ketelitian, serta prinsip hidup hemat (frugality) yang kini mulai luntur di tengah budaya serbainstan.

3. Memasak Secara Mandiri

Orang tua zaman sekarang—yang ironisnya merupakan generasi Gen X dengan masa kecil penuh kebebasan—cenderung bersikap terlalu protektif (overprotective). Mereka sering kali enggan membiarkan anak-anak bersentuhan langsung dengan kompor atau peralatan dapur. Padahal, anak-anak tidak bisa belajar memasak hanya dengan cara menonton. Mengingat pelajaran tata boga (home economics) sudah jarang ditemui di sekolah, melatih anak memasak karena kewajiban domestik seperti di era 90-an menjadi poin yang sangat mendasar.

4. Manajemen Keuangan Modern (Financial Literacy)

Kecakapan dalam mengatur uang merupakan instrumen yang sangat dibutuhkan oleh Gen Z saat ini. Meskipun aktivitas mencatat buku cek (balancing a checkbook) sudah kuno, esensi dari pelajaran tersebut wajib digantikan dengan literasi keuangan modern. Anak-anak perlu diajarkan kapan waktu yang tepat untuk pergi ke bank, jenis akun tabungan apa yang mereka butuhkan, serta bagaimana cara membagi porsi gaji harian secara bijak agar terhindar dari perilaku konsumtif.

5. Metode Riset Analog Tanpa Google

Kehadiran internet dan komputer di dalam rumah memang membuka cakrawala digital yang luar biasa. Namun, di sisi lain, kenyamanan tersebut menumpulkan daya analisis dan kemampuan penyelesaian masalah (problem-solving) anak. Mengajarkan anak cara mencari data secara manual di perpustakaan atau membalik lembaran ensiklopedia merupakan latihan mental luar biasa yang dapat melatih kesabaran serta daya juang berpikir yang kini sangat dirindukan dari anak-anak modern.

Baca Juga: Masa Kecil Kurang Bahagia? Ini 7 Perubahan Struktural Otak yang Berdampak Hingga Dewasa Menurut Riset

6. Perawatan Rumah dan Halaman (Chore Discipline)

Anak-anak era 70-an hingga 90-an sudah sangat terbiasa dengan tanggung jawab kerja fisik yang berat di rumah, mulai dari memotong rumput halaman, membersihkan parit, hingga menyekop salju berjam-jam. Walau melelahkan dan sering memicu keluhan, pekerjaan rumah tangga ini terbukti membuat mereka lebih sukses saat dewasa. Bukan karena keterampilan fisiknya, melainkan karena aktivitas tersebut berhasil membentuk mental disiplin yang kuat serta ketangguhan (resilience) dalam menghadapi tekanan.

7. Kecakapan Sosial dan Komunikasi Publik

Di era layar digital, banyak anak yang mengalami kecemasan sosial akibat kurangnya interaksi di dunia nyata. Anak-anak generasi 80-an dan 90-an terlatih berkomunikasi secara alami karena tuntutan keadaan. Mereka dipaksa untuk berani memesan makanan sendiri di restoran, mengobrol santai dengan tetangga sekitar, hingga menjalankan perintah orang tua untuk membeli barang di toko kelontong yang mengharuskan mereka bernegosiasi secara langsung dengan petugas pelayanan.

8. Tradisi Mengirim Surat Tulis Tangan

Pergeseran ke era digital di tahun 2000-an membuat tradisi berkirim surat atau sekadar menulis pesan singkat di atas secarik kertas menjadi barang langka. Padahal, secara neurologis, menulis dengan tangan memberikan stimulasi yang sangat baik bagi perkembangan otak. Selain itu, proses menulis dan menerima surat fisik mampu menghadirkan ikatan emosional, rasa memiliki, serta kedekatan personal yang jauh lebih mendalam dibandingkan dengan sekadar mengirim pesan teks (chatting).

Baca Juga: Jangan Langsung Menuduh, Salah Paham Bisa Menghancurkan Hubungan dan Karier Pasangan

9. Melatih Daya Ingat Otak (Memorization)

Kemudahan menyimpan data di dalam memori ponsel pintar membuat aktivitas menghafal informasi menjadi tidak populer di dalam keluarga. Di era 90-an, anak-anak diwajibkan menghafal alamat rumah lengkap serta nomor telepon darurat orang tua sebagai protokol keselamatan dasar saat berada di luar rumah. Ketergantungan akut pada gawai membuat anak-anak masa kini menjadi tidak berdaya dan kebingungan jika kehilangan akses terhadap ponsel mereka. (*)

Editor : Rafael B. Junior
#era 90-an #psikologi #pola asuh #keterampilan #parenting